Menuju Malang

Perpisahan dengan Mba Atin yang mengantar ke Stasiun Tugu Yogya bukan diiringi dengan muka sedih tapi wajah kecapean dan mengantuk. Dengan berat hati menolak tawaran Mba Atin menunggui hingga kereta datang, karena saya tidak mau tanggung jawab kalau besok dia kesiangan berangkat kerja.

Saya memang meminta dua jam lebih awal diantar sebelum jadwal kereta yang saya naiki berangkat. Hanya biar memiliki waktu banyak untuk mengamati (btw, saya terbiasa mengamati orang-orang yang ada di stasiun).

Rupanya kantuk datang tanpa bisa saya tahan lagi, lelah luar biasa belum tidur dari kemarin, dan tentu saja tubuh saya butuh istirahat. Setelah berusaha mondar-mandir untuk mengurangi rasa kantuk gagal, saya menyerahkan boarding pass ke petugas kemudian masuk ke dalam ruang tunggu.

Stasiun Yogya

Mencari tempat duduk, mendengarkan musik, bahkan sempat meminta orang yang duduk di sebelah saya untuk membangunkan saya, jika saya tertidur sedangkan kereta sudah datang. Karena belum juga merasa tenang, saya meminta dibangunkan kawan lewat telepon hingga benar-benar saya bicara dan yakin terbangun.

Tertidur di bangku tunggu dengan posisi yang aduhai entah berapa lama, lalu terbangun oleh getaran juga bunyi HP yang tidak mau berhenti. Suara di telepon sungguh pantang menyerah buat membangunkan. Tapi saya masih ngantuuuukkk berat dan pusing… 😦

kereta ke malang - stasiun yogya

Yang ditunggu akhirnya datang juga, Kereta Malabar berangkat sesuai jadwal jam 01.35 wib. Bergerak ke timur menuju Malang, saya memilih meneruskan tidur di kereta. Berharap begitu terbangun sudah sampai tujuan…

Keliling Malang Yang Malang ??

Dengan semangat saya dan mba Vincentia Ruminingsih berjalan kaki menuju depan perum. Baru setengah jalan ada mobil yang menawarkan tumpangan. Sewaktu tahu tujuan kami adalah hendak menjelajah Surabaya, mereka yang rupanya bekerja membuat tower operator seluler akhirnya malah berbaik hati mengantar ke stasiun. Bisa jadi tampang kami memang memelas he he, gimana tidak coba ; wes wonge cilik nggowone tas gede tur abot sisan (sudah orangnya kecil bawa tas berat pula).

Nunggu pagi di St. Surabaya

Nunggu pagi di St. Surabaya

Kereta Gaya Baru Malam yang seharusnya berangkat sekitar jam empat sore harus mundur satu jam. Sampai di Surabaya masih jam dua dini hari. Rupanya tak hanya kami, beberapa penumpang yang hendak melakukan perjalanan ke kota lain pun memanfaatkan waktu dengan beristirahat di bagian depan stasiun menunggu peron dibuka. Kereta yang akan membawa kami ke Malang adalah kereta Bima *wuiiih, ceritanya naik kelas :p (sebenarnya ada yang lebih murah namun selisih dua jam membuat kami memilih kereta eksekutif tersebut).

Perjalanan ke Malang itu seperti ‘utang rasa’ sama teman-teman dari Gamananta yang sebelumnya sudah berkunjung ke Purwokerto. Sesampainya di stasiun Malang jam delapan lebih sedikit, sudah ada Mohammad Lutfi Hidayat dan Dentyta Nastiti plus Luluk Mutan yang jemput. Eh, kalau Luluk Mutan itu aslinya sama dari Purwokerto cuman pas kebetulan juga di Malang 😀 .

Jalan-jalan di Malang berasa diburu waktu, soalnya hanya memiliki waktu free sekitar 5-6 jam saja sebelum bertolak ke Probolinggo. Sebenarnya rencana awal hanya ingin dipakai untuk istirahat siapin tenaga saja, mengingat malamnya bakalan ke penanjakkan dua Bromo. Baiklah, kita muter-muter saja…. 😀

Alun-alun Kota Batu... pengin naik bianglalanya :3

Alun-alun Kota Batu… pengin naik bianglalanya :3

Menjelang siang berlima menuju alun-alun kota Batu. Waktu yang paling pas sebenarnya sore hingga malam, biar bisa melihat aneka lampion warna-warni yang menyala dengan indah. Wah baru kali ini saya pernah lihat bianglala di alun-alun 😀 *sayangnya tidak bisa nyobain. Bangunan kamar kecilnya pun unik berupa ‘buah’, beberapa tempat duduk taman disediakan untuk pengunjung, dan terdapat taman bermain anak yang cukup lengkap. Baru sadar juga di salah satu pohon disediakan beberapa ‘rumah’ untuk burung. Penataan alun-alunnya bagus sekali *jadi iri 😦

Susu segar & yogurt...nyumiii...

Susu segar & yogurt…nyumiii…

Tak lengkap kalau ke alun-alun Batu tanpa mencoba susu murni dan olahannya yang banyak dijual di seberang alun-alun. Di kios susu Ganesha, tempat yang kami datangi tersebut menyediakan ; susu kemasan, yogurt, dan susu gelasan panas (IDR 2.500 – 35.000). Selain itu juga disediakan aneka makanan ringan.

Luluk terbang.... wuuuusss....

Luluk terbang…. wuuuusss….

Berhubung nanggung dan searah jalan pulang (kost Dentyta Nastiti) mampir sebentar ke Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa *buat menuhin keinginan Luluk Mutan  yang narsis hehe… Iya, Luluk Mutan  ini punya saudara di Malang tapi kalau ke sana tidak pernah piknik apalagi sekedar keliling kota. Dan parahnya lagi tuan rumah (Mohammad Lutfi Hidayat dan Dentyta Nastiti juga belum pernah (-__-“). Mereka berkelit kalau di Malang itu sebagai pendatang, buat kuliah 😀

aslinya siiih pegel kaki dan kepanasan heuheu....

aslinya siiih pegel kaki dan kepanasan heuheu….

salam dua..... :))))

salam dua….. :))))

Menuju ke kota dari Batu kalau sore hari ternyata macet :|. Musti bersabar untuk sampai ke bakso kota Cak Man. Yap! ke Malang rasanya tak tengkap kalau belum nyobain bakso Malang. Nah kalau Cak Man ini kata Mohammad Lutfi Hidayat yang paling enak. Lokasinya ada di Jalan WR Supratman C1 kaveling 13-14. Rasanya memang enak, selain itu kita bisa mengambil sendiri bakso dan pelengkapnya sesuai dengan porsi yang kita inginkan. Bisa ditebak tidak siapa yang makannya yang paling banyak?? Heuheu…

bakso kota cak man.... rasanya mantap pisan :3

bakso kota cak man…. rasanya mantap pisan :3

Capek jalan dan kenyang makan kami berpisah dengan Luluk Mutan . Belum sempat cobain kuliner yang lain, rasanya enam jam memang tidak cukup (.__.)> *kepikiran buat ke Malang lagi niiih. Berasa keliling Malang yang ‘malang’, kurang lamaaaaa… Sampai di kost langsung packing ulang dan mandi lalu berenam (saya, mba Vincentia Ruminingsih, Mohammad Lutfi Hidayat, Dentyta Nastiti, Pakde Rifqy Faiza Rahman , dan teman Lutfi) bersiap menuju ke rumah Mohammad Lutfi Hidayat di Probolinggo  (9^__^)9