Ngopi Darurat

Sudah dua bulan lebih sering banget bolak-balik ke Semarang. Ceritanya sedang ada project dengan beberapa teman di sana, tak jauh-jauh soal kuliner. Namanya kerja dengan orang baru, banyak suka dukanya dong. Dan karena waktunya suka tidak pasti, misal mulai jam berapa kelar jam berapa itu bikin jam ngopi susah dilakukan. Ketambah teman ngopi (Devi, Kak Je, Amga) sibuk sendiri. Kesel? haha kadang sih…

Untungnya di antara lokasi yang dituju ada beberapa tempat ngopi. Ibaratnya sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Liputan sekalian ngopi, dan karena kopinya gratis saya makin bahagia :D. Bahkan ada dua tempat ngopi favorit yang memang masuk didaftar ; Joko Kopi dan Steam & Brew.

Tim hore yang kebetulan ngopi bareng :

Yang tidak kalah enaknya, dari semua tim yang benar-benar suka kopi bisa dihitung jari. Jadi saya bisa dengan puas habisin kopi-kopi yang ada 😀 Alhamdulillah ya….

Tinggal hitungan waktu saja nih buat ninggalin Semarang. Sepertinya bakal dalam waktu yang lumayan lama baru nanti bisa ke Semarang lagi, apa sebabnya coba… Karena tiga bulan mau fokus sama usaha yang baru saya rintis di Purwokerto.

Iklan

Kopi Toko Djawa Di Braga

Tempat ini langsung menarik perhatian begitu kaki akhirnya sampai di trotoar Jalan Braga. Tak jauh dari gang kecil yang sempat saya lewati tadi, mengikuti arahan Google maps akhirnya Kopi Toko Djawa itu muncul. Saya langsung tersenyum, panas terik Bandung seolah tidak lagi saya hiraukan.

Sebelum berubah menjadi kedai kopi, dulunya ini adalah Toko Buku Djawa yang ada sejak tahun 1955. Sayangnya tidak bisa bertahan dan akhinya tutup pada tahun 2015.  Pada masanya, toko buku ini sangat terkenal dan dijadikan rujukan pelajar bahkan konon BJ Habibie dulunya adalah salah satu pelanggannya. Wow!

Kedai kopi atau coffeeshop ini baru buka bulan Desember 2017, dan berhasil menarik para penikmat kopi baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang kebetulan singgah di Bandung. Yang jelas sih meski baru melihat dari depan, saya sudah suka dan makin penasaran… 🙂

Memasuki toko langsung tampak ada bangku dengan sekat yang juga difungsikan sebagai meja kecil. Lalu lurus pintu adalah tempat untuk memesan menu sekaligus tempat membayar (kasir). Ada juga bêberapa cake dan roti yang sebagai teman ngopi yang bisa dipilih. Harga menunya mulai dari IDR 15.000 – 35.000, masih sangat terjangkau.

Pengelola yang sekarang namanya Mas Alvin Januardi sengaja tidak ingin banyak merubah bentuk tokonya. Jendela dengan kaca besar, pintu kayu, dan bentuk ruangan yang masih sama. Hanya saja hampir di tempat duduk diberi aksen kain etnik yang juga beberapa buku atau pernik lainnya, yang menambah makin ciamik dan sangat instagramable. Saya sendiri merasa betah berlama-lama untuk mencoba membaca buku dan memotret… *aslinya sih tangan tak mau berhenti memotret hehe

Di sisi tengah ada dua meja besar yang bisa digunakan untuk menikmati kopi juga, saya pun memilih duduk di sini karena bisa memotret dari segala arah hanya dengan duduk manis. Dan di pojok belakang ada ruangan kecil yang difungsikan untuk berjualan pernak-pernik, mulai dari dompet, gantungan kunci, hiasan meja atau dinding, kaos, dll.

Mendengar penjelasan singkat sejarah kedai kopi ini saya jadi merasa beruntung karena setelah dari Warung Kopi Purnama saya melanjutkan jelajah kopinya ke Toko Kopi Djawa. Tempatnya nyaman, mau beneran menikmati kopinya, mau sambil baca, atau sekedar kongkow di sini… Sayang, saya tidak bisa lama karena harus siap – siap pulang ke Purwokerto. Tapi seriusan suatu saat bakal ke sini ajak travel mate dan teman – teman saya yang suka ngopi 🙂

Beberapa kedai kopi atau coffeeshop yang kemarin saya coba di Bandung bisa dibaca di sini….

Kopi Toko Djawa
Jalan Braga No 79 Bandung
Buka setiap harinya mulai pukul 10.00 – 22.00 wib
IG : @kopitokodjawa

 

Menyusuri Petak Sembilan Di Glodok (Dari Klenteng, Gereja Hingga Kedai Kopi)

‘Hutang rasa’ saya untuk berkunjung ke Jakarta rasanya terbayar. Meskipun tertunda entah berapa bulan lamanya bahkan tak terasa sudah sampai ganti tahun (-__-“). Setelah dini hari menyusuri Pasar Kue Subuh di Pasar Senen, siangnya saya dan teman-teman yang sebelumnya sudah janjian buat mengantar ke Petak Sembilan.

Oline, Emyhu, Amel, Muchlis...

Oline, Emyhu, Amel, Muchlis…

Petak Sembilan ini terletak di kawasan Glodok (awalnya saya bahkan seringkali tertukar dengan menyebutnya Grogol hehe), sering dikenal dengan kawasan Pecinan. Konon sebelum Belanda berkuasa pun kawasan ini sudah didiami orang Tionghoa, dan juga dijadikan sebagai tempat perdagangan oleh mereka.

petak sembilan - vihara

Berkumpul di halte busway Glodok ; saya, Oline, Emyhu, Amel, Muchlis, sedangkan Tanti dan temannya menyusul. Dari tempat meeting point kami pun menyebrang dan menyusuri jalan kecil yang ada di seberang halte hingga menemui pertigaan (pasar) lalu belok kiri. Tak jauh dari pertigaan tersebut, di sebelah kanan jalan terdapat Vihara Dharma Bhakti.

 petak sembilan - sembahyang

Di dalam komplek vihara tersebut terdapat tiga klenteng ; Kim Tek Ie, Di Cang Wang Miao, dan Hui Ze Miao. Vihara yang dibangun antara tahun 1650 – 1669 ini sempat beberapa kali berganti nama. Sewaktu kesana, beberapa tempat sedang dilakukan perbaikan. Kami pun sempat masuk ke dalam, melihat beberapa orang yang sedang membakar hio dan sembahyang.  Di halaman komplek vihara pun ternyata bisa kita temui belasan pengemis (sama halnya dengan hari jumat di depan masjid yah :D).

Keluar dari vihara kami meneruskan perjalanan, meski sempat hujan dan harus berteduh sebentar *uhuk!! ternyata hujan malah bikin Amel dan Muchlis romantis. Dari vihara lurus saja sampai jalan yang ada tikungan ke kanan, tak jauh dari sana sebelah kanan jalan ada Gereja St. Maria De Fatimah.

petak sembilan - gereja st. maria de fatima

Gereja St. Maria De Fatimah seperti halnya dengan vihara dengan beberapa bagian dicat warna oriental khas Tionghoa. Masih mempertahankan bentuk bangunan lama nan sederhana, meski di samping gereja terdapat SMA Ricci yang nampak modern. Beberapa mobil terlihat di halaman gereja, sayang karena takut hujan makin deras (berhubung cuma ada dua payung kecil) kami memilih untuk segera menuju ke kedai kopi.

petak sembilan - kedai kopi es tak kie

Kedai Kopi Es Tak Kie adalah tujuan terakhir kami, lokasinya di Gang Gloria yang rupanya lumayan agak jauh dari gereja. Sempat bikin kami bingung karena harus masuk gang kecil, kemudian keluar gang, menyebrang jalan lalu masuk gang lagi (Gang Gloria) *hee harus tanya jalan beberapa kali… Nah karena Gang Gloria ini terkenal dengan kuliner khas yang mengandung babi untuk yang muslim jika ingin kuliner disini harus jeli, ada beberapa tempat yang menjual makanan halal juga kok.

kedai kopi es tak kie

Saking tersohornya kedai kopi ini bikin penasaran saya yang suka icip-icip kopi. Begitu ketemu senengnya bukan main, tapi rupanya harus sabar soalnya tempat duduk penuh (>__<). Akhirnya ada pengunjung yang sudah selesai, dapat juga tempat duduk di depan pintu masuk. Biar ngerasain banyak rasa akhirnya nyobain ; es kopi, es kopi susu, kopi susu. Harganya pun sudah naik (dari beberapa blog yang saya baca sebelumnya), harga es kopi IDR 14K, es kopi susu dan kopi susu panas IDR 15K.

kedai kopi es tak kie - petak sembilan

Untuk rasa kalau boleh jujur nih, (menurut saya lho) masih mantap rasa kopi Warkop Asiang di Pontianak (semoga tidak dimarahin sama fans yang suka ngopi di sana). Yah, namanya selera lidah memang beda – beda ^^V. Biar ndak dikira subyektif mungkin yang sudah nyobain kopi Tak Kie harus coba juga kopi Asiang *eh… Antara kopi es dan kopi susu (dingin ataupun panas) saya dan teman – teman sepakat lebih suka rasa yang kopi susunya. Tempatnya memang enak buat kongkow rame – rame, selain menikmati kopinya kita juga bisa pesan makanan yang dijual di dekat Kedai Kopi Es Tak Kie *nyari yang halal tentunya 😀

Buat yang suka jalan – jalan menyelusuri jejak sejarah semacam Kota Tua, nah Petak Sembilan di Glodok bisa jadi pilihan yang menarik, keren juga buat berburu foto. Apalagi lokasinya pun tak jauh dari Jakarta Kota. Puas menikmati Pecinan dan serba – serbinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara \(^_^)/