Menuju Malang

Perpisahan dengan Mba Atin yang mengantar ke Stasiun Tugu Yogya bukan diiringi dengan muka sedih tapi wajah kecapean dan mengantuk. Dengan berat hati menolak tawaran Mba Atin menunggui hingga kereta datang, karena saya tidak mau tanggung jawab kalau besok dia kesiangan berangkat kerja.

Saya memang meminta dua jam lebih awal diantar sebelum jadwal kereta yang saya naiki berangkat. Hanya biar memiliki waktu banyak untuk mengamati (btw, saya terbiasa mengamati orang-orang yang ada di stasiun).

Rupanya kantuk datang tanpa bisa saya tahan lagi, lelah luar biasa belum tidur dari kemarin, dan tentu saja tubuh saya butuh istirahat. Setelah berusaha mondar-mandir untuk mengurangi rasa kantuk gagal, saya menyerahkan boarding pass ke petugas kemudian masuk ke dalam ruang tunggu.

Stasiun Yogya

Mencari tempat duduk, mendengarkan musik, bahkan sempat meminta orang yang duduk di sebelah saya untuk membangunkan saya, jika saya tertidur sedangkan kereta sudah datang. Karena belum juga merasa tenang, saya meminta dibangunkan kawan lewat telepon hingga benar-benar saya bicara dan yakin terbangun.

Tertidur di bangku tunggu dengan posisi yang aduhai entah berapa lama, lalu terbangun oleh getaran juga bunyi HP yang tidak mau berhenti. Suara di telepon sungguh pantang menyerah buat membangunkan. Tapi saya masih ngantuuuukkk berat dan pusing… 😦

kereta ke malang - stasiun yogya

Yang ditunggu akhirnya datang juga, Kereta Malabar berangkat sesuai jadwal jam 01.35 wib. Bergerak ke timur menuju Malang, saya memilih meneruskan tidur di kereta. Berharap begitu terbangun sudah sampai tujuan…

Jeguran (Mandi) Di Curug Belot Baturraden

Curug Belot

Curug Belot

Tulisan ini terlambat diposting, super telat bahkan. Membuka HD eksternal ternyata file foto Curug Belot yang selama ini dicari ketemu juga 🙂 . Bermula dari teman couchsurfing yang berasal dari Malaysia datang pada bulan Desember 2012 (astaga, sudah sangat telat yaah hehe) untuk keliling Pulau Jawa selama sebulan, dan Purwokerto menjadi salah satu tempat tujuan. Rachel, teman dari Malaysia itu pun diajak oleh Eva (host CS Purwokerto) dan Saya untuk keliling Purwokerto.

Hujan lebat waktu itu tak membuat kami mengurunkan niat untuk ke Baturraden, melihat pertunjukan wayang dalam rangka sedekah bumi. Lalu dini hari balik lagi ke Hotel Queen Garden yang ada di sisi timur Baturraden untuk menginap. Paginya Kami pun mengajak Rachel mandi langsung di alam terbuka, niat banget yah meski sudah nginap di hotel hehe 😀 . Curug Belot jadi tujuan karena selain sepi, juga tak begitu jauh karena masih satu lokasi di Baturraden.

Lokasi Curug Belot ada di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden. Rutenya : dari Purwokerto ke arah Baturraden, sampai di BRI Rempoah sebelah kanan jalan ada jalan kecil, ambil kanan, sekitar 100 meter dari jalan raya utama adalah tempat dimana biasanya menitipkan motor di rumah warga (rumahnya ada di sebelah kanan jalan, dengan halaman lumayan luas). Setelah itu jalan kaki (jalan setapak) ke bawah, harus hati-hati karena licin. Bila sudah sampai pertigaan yang ada jembatannya, ambil sisi kiri (jangan lewatin jembatan). Sedikit menyusur tepian sungai, lalu sampai di Curug Belot.

Kami bertiga pun akhirnya memilih jalan pintas (kebun warga) sewaktu melihat turunan jalan setapak dengan kemiringan 45 derajat yang licin karena masih ada sisa hujan semalaman dan banyak lumut. Berhubung masih pagi, Curug Belot jadi curug milik sendiri 😀 . Air terjun ini memiliki ketinggian yang lumayan, dengan air yang bening, dan super dingin.

menyusuri bebatuan... untuk naik ke atas lalu lompat :|

menyusuri bebatuan… untuk naik ke atas lalu lompat 😐

Rachel langsung turun untuk mencoba airnya disusul dengan Eva, Saya sendiri hanya menyaksikan mereka yang mandi dan berenang karena sudah mandi sewaktu subuh di hotel (alesan saja sih karena sebenarnya tidak bisa renang hehe). Tak berselang lama, beberapa anak kecil yang rumahnya tak jauh dari curug datang untuk jeguran (mandi) juga. Mereka bahkan dengan berani naik ke sisi bebatuan lalu lompat ke dalam air. Saya cuma bisa terbengong dari atas batu (^_^,).

entah nunjukin apa :D , kayaknya saking bingung mau apa karena  tidak ikut 'jeguran'

entah nunjukin apa 😀 , kayaknya saking bingung mau apa karena tidak ikut ‘jeguran’

Puas berenang dan membersihkan diri sampai tidak terasa hari sudah siang, ini bule kesenengen mandi di curug (v_v). Eva dan Saya akhirnya mengajak Rachel untuk mencoba es duren depan GOR Satria…

Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi

TN Alas Purwo

Hari itu dengan diantar oleh Pak Syamsul Arifin menuju terminal Sarongan. Memakai jadwal bus Damri yang paling pagi jam 06.30 wib, sengaja tiga puluh menit sebelumnya saya dan Mba Sepik sudah berada di terminal. Sepanjang jalan kabut tipis masih terlihat diantara pepohonan dan sawah. Dari Sarongan kembali ke terminal Jajag lalu kembali ke basecamp Poliwangi.

Rencananya hari ini akan ke Taman Nasional Alas Purwa dengan dua orang anggota mapala Poliwangi dan terakhir menuju Jember transit sebelum kembali ke Purwokerto. Setelah dhuhur bertolak menuju taman nasional. Rupanya meski ada akses jalan menuju kesana tetapi memang kendaraan masih sangat jarang, berbeda jika ke Taman Nasional Meru Betiri. Memasuki area hutan jalan yang beraspal pun berganti dengan jalan berkerikil.

Memasuki pos jaga di bagian dalam taman nasional membayar tiket masuk. Kami pun ditanyai hendak kemana saja, rencananya kami akan menuju ke penakaran penyu di Pantai Ngagelan juga ke Feeding Ground Sadengan. Untuk tiket masuknya :

tarif taman nasional alas purwo

Sepanjang jalan menuju lokasi penakaran penyu, sempat terlihat kera hitam, burung merak, ayam hutan, monyet, banteng, dan aneka burung. Sayang sekali mereka terlalu cepat menghilang begitu akan diambil gambarnya. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan petugas yang rupanya sedang berpatroli. Setelah mengetahui tujuan kami hendak ke penakaran penyu, mereka bilang kalau tidak ada orang dan kita terlambat karena baru kemarin mereka melakukan pelepasan penyu ke laut. Meski masih ada penyu di penakaran, tempatnya dikunci. Yah sayang sekali… tapi demi menghilangkan rasa penasaran kami pun tetap melanjutkan perjalanan ke penakaran penyu.

penakaran penyu - alas purwo

penakaran penyu - kincir

Terdapat dua rumah dinas, dan beberapa tempat berpagar yang dijadikan sebagai kolam dan satunya tempat penyu bertelur. Sepertinya di tempat yang untuk bertelur ada dua tanda yang menandakan disana ada telur yang belum menetas. Kami pun lebih banyak menikmati pantainya dan istirahat makan bekal yang kami bawa.

penakaran penyu - TN Alas Purwo

penakaran penyu - telur

Menuju Feeding Ground Sadengan kita akan melewati sebuah Pura Agung di tengah hutan, nampak terlihat luar biasa bagi saya (ketenangan dan kedamaian di sekitar pura), mengingatkan saya ke teman saya yang ada di Bali. Sampai di Feeding Ground Sadengan rupanya kembali bertemu dengan kedua petugas yang berpatroli kembali. Terdapat satu ruang dinas, kamar mandi untuk umum, beberapa tempat duduk di area terbuka, dan juga gardu pandang. Biasanya hewan-hewan itu muncul ketika jam makan (pagi dan sore), dan pas sekali dengan waktu makan sore ketika sampai di Feeding Ground Sadengan (G-Land).

gardu pandang - gLand

tempat duduk g-land

Beberapa rusa, banteng, kijang, burung merak, burung elang, burung bangau, dan yang lainnya…..  sedang berkumpul untuk makan, ada juga yang masih berbaring dan belum tergerak bergabung dengan hewan lainnya. Kami dipinjami alat terropong untuk bisa melihat dengan jelas hewan-hewan tersebut. Wah rasanya seperti di depan mata !!

africa van java - G Land

Sayang sekali hari terasa cepat sekali, kami pun segera pulang mengingat masih harus meneruskan perjalanan ke Jember dengan jadwal kereta jam tujuh *dan belum beli tiket hehe. Rupanya teman dari Poliwangi lebih khawatir kami tidak kebagian tiket, akhirnya mampir ke Stasiun Rogojampi sebelum mengambil barang di basecamp.

Tiket kereta api local dari Stasiun Rogojampi ke Stasiun Jember IDR 4.000 waaahh murah nian, sebagai backpacker harga tiket yang murah ini seperti mukjiizat hehe :p . Di jember sudah ada dua teman kami dari mapala Mahadipa menunggu untuk menjemput kami.

 .

Ubur – Ubur KW 2

Pernahkah kalian melihat ubur-ubur yang bisa menyala?

Kalau belum maka kita sama, aku pun belum pernah melihat secara langsung. Hanya pernah membaca saja dan melihat gambarnya di google. Lalu ketika suatu hari kami camping di sebuah pantai, selepas mendirikan dome (waktu selepas maghrib) tiba-tiba ada yang menceletuk “Lihat, itu yang menyala di lautan, itu adalah ubur-ubur”, teriak orang yang ada di sebelahku. Aku pun akhirnya penasaran, dari atas tebing kami melihat pemandangan ‘langka’ tersebut dengan rasa takjub.

Dua ubur-ubur yang akhirnya kami karang yang satu adalah ubur-ubur cowok dan cewek *maksa banget hehe. Kepala kami penuh dengan imajinasi. Cerita tentang kenapa salah satu ubur-ubur mesti menjauh pun diatur layaknya cerita drama, apalagi kalau bukan soal cinta 🙂

Alkisah, hubungan kedua ubur-ubur itu ditentang oleh orang tua salah satu ubur-ubur. Hingga akhirnya mereka terpaksa tidak bisa bersatu. Satu ubur-ubur berjalan menjauh, terbawa ombak menuju arah barat. Yang satu tetap terombang-ambing di tempat yang sama. Malam itu, ombak laut selatan serasa menjadi saksi kisah kedua ubur-ubur itu. Memecah keheningan malam, dan kami… dua anak manusia masih takjub juga melihat keduanya.

Ketika dua temannya datang selepas turun ke bawah untuk sholat, dengan semangat kami pun memperlihatkan ubur-ubur itu dan tak lupa pula menceritakan kisah dramatis mereka. Cinta yang tak sampai. Tiba giliran kami untuk turun ke bawah, membersihkan peralatan makan malam.

Di bawah (tempat kami menitipkan motor) kami bertemu dengan penduduk setempat. Yang baik hati mempersilahkan kami memakai kamar mandinya untuk membersihkan peralatan kami. Bercerita panjang lebar, tentang musim ikan dan para pencari ikan di pantai tersebut. Lalu Si Bapak pun menjelaskan bahwa untuk menarik perhatian ikan, umpan yang dipakai pun menggunakan squid jig GID (glow in the dark). Kalimat Si Bapak membuat hati kami mencelos, antara kaget, sedih (berarti yang kami lihat itu salah), dan geli. Ternyata oh ternyata…

Malam itu setibanya di tempat camping akhirnya membahas soal ‘ubur-ubur’ yang kami lihat. Ah iya, itu umpan ikan… itu cuma ubur-ubur KW 2 (-__-“)… Sedikit kecewa namun pada akhirnya itu cepat dilupakan, mari nikmati saja suara debur ombak yang menghantam karang dari atas tebing, juga langit malam… 🙂