Seharusnya Tuh Begini…

Sederhananya, namanya juga keinginan yang sayangnya bisa terlaksana dengan mudah dan lancar atau malah sebaliknya. Ceritanya semacam ini ; obrolan panjang di kamar menjelang tidur (atau malah sampai pagi) dengan canda (yang takutnya menjadi candu).

Kemudian yang terjadi selalu seperti ini ; kamar terlalu membius, hingga kantuk datang lebih cepat dibandingkan membuat sebuah paragraf dalam tulisan ini. Bahkan hanya butuh dua kali usapan kepala hingga mata lelap tertidur.

Dinding kamar membisu. Hanya suara nafas teratur, dan jarum jam dinding yang bergantian mengisi kekosongan…

img_20170227_203926

Ah, berulang, berulang, dan selalu berulang… entah waktu atau justru malam yang tidak bersahabat?

Hendak bilang : “sebenarnya tuh maunya begini….”. Kemudian kata-kata tertelan oleh kepasrahan, karena #kode tak selamanya tertangkap.

Hujan Dan Kopi Tubruk

hujan-dan-kopi-tubruk

Tak ada yang lebih menghangatkan dari segelas kopi Dampit tubruk, menyesapnya di antara gigilan tubuh yang basah. 

Langit sebenarnya sudah mengirimkan pertanda, hujan hendak singgah. Tapi demi rupa-rupa yang tidak tahu namanya ini, tetap saja naik dengan mengajak dua lainnya. Tubuh kecil di balik mantel sudah membasah pada seperempat perjalanan. Jangan tanya soal jarak pandang yang di mana-mana hanya terlihat tetesan hujan.

awan-mendung

Barangkali atas nama kemanusiaanlah akhirnya memilih berhenti. Tak tega rasanya memaksakan kepada mereka berdua untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting-penting amat, bahkan tanpa ada alasan (karena penasaran misalnya).

Warung kecil tempat kami berteduh pun jadi saksi kalau saya melempar HP ke meja karena kilatan petir. Aturan mainnya : boleh hujan, asal jangan berpetir saja :D… Hujannya makin awet, satu-satunya penghangat barangkali tawa kami bertiga di antara obrolan sana-sini. Ngobrol kopi hingga sapi….

Langit berbaik hati, hingga kami berdua bisa melanjutkan perjalanan. Sedangkan satu di antara kami memilih turun. Tahu tidak? bepergian dengan baju basah dan mantel yang tidak berfungsi baik di daerah pegunungan itu…. sangat tidak disarankan 😀 Lupa rasanya bagaimana menghilangkan gemelutuk gigi dan gigilan di badan.

Jadi, sebenarnya hendak melakukan apa di tempat tujuan? Sungguh saya tidak tahu 😦

Hujan lalu berhenti, berkali-kali, baju basah sampai mengering. Saya hanya ingin sampai kedai kopi di kota sebelum hari menggelap. Untuk ukuran baru pertama pergi bersama-sama, saya pasrah saja sama teman baru yang ada di depan. Padahal saya tipikal tidak mudah percaya sama kemampuan orang lain membawa motor dengan baik dan benar hehe… Jangan heran entah harus berapa kali bertanya, sekedar untuk dapat kepastian dan menghilangkan rasa cemas 😀 *maaf ya Na…

Adalah bahagia bisa sampai di kedai kopi lalu pada meja tersaji segelas kopi Dampit tubruk penghilang dingin, menikmatinya dengan baju basah hingga mengering 😀

.

.

PS : Terima kasih Ina, untuk perjalanan hujan dan mendengarkan igauan saat cemas heu…

Tiket Kereta

tiket-kereta

Jemariku nyaris kebas demi selembar kertas. Antara semangat namun cemas. Berlomba dengan operator juga wifi tetangga, antara handphone juga notebook. Kursi terakhir tanpa pikir panjang aku pilih. Berujung pada seulas senyum di pergantian hari.

Detik berikutnya, kepala diajak berfikir keras. Berapa banyak “tugas” yang harus diselesaikan sebelum memulai perjalanan? Baiklah, karena hal satu itulah beberapa bulan ini selalu menunda bepergian (>_<)…. *mendadak pusing*

Seperti biasa, perjalanan dengan sedikit rencana. Perlukah tanda tanya untuk apa aku ke sana?

Duhai Semesta, berbaiklah…

Hai Ibu Pedet

Hai Ibu Pedet…

Ah, sekalinya menjamah rumah ini yang disapa malah Ibu Pedet. Tak apa, biar Ibu Pedet bahagia. Apalagi jauh dari hiruk-pikuk pada ketinggian sekian mdpl. Selain diterpa dingin, pun diterpa rindu kehangatan pada secangkir kopi. Kopi yang jadi minuman mahal karena susah didapat.

olipe-oile-blog-cow

Susah sekali membayangkan di posisinya yang jarang sinyal dan kopi. Bisa jadi karena keterbatasan itulah, Ibu Pedet menyalurkan kegilaannya pada semua yang bisa dijamahnya, termasuk saya. Tunggu dulu, saya??!!

Saya memang korban di sini. Korban dari kerinduannya pada kopi tubruk, hingga tanpa sadar setiap hari saya memesan kopi tubruk meski di pikiran hendak memilih kopi seduhan pour over, french press, atau yang lainnya.

tubruk-dampit

Andai Ibu Pedet tahu, pikiran saya penuh hari ini, saya butuh kopi lainnya selain tubruk. Dan lagi-lagi yang terlontar ; pesan kopi Dampit tubruk. Aarrgghh!!! Ada banyak tulisan yang belum diselesaikan karena kemalasan saya, beberapa laporan yang berteriak minta diperhatikan mengingat ini hari terakhir bulan Januari, dan editan foto yang harus dikirim.

Duhai Semesta… berbaiklah.

Obrolan Di Tempat Ngopi

Namanya juga tempat ngopi, tempat banyak jenis orang berkumpul dengan bermacam tujuan pula. Ada yang sekedar murni mau minum kopi, janjian dengan teman, garap tugas, sampai rapat pun ada. Dan apapun bisa terjadi di sini… 🙂

img_8648

Mau yang obrolan dengan volume lirih sampai kenceng rasanya saya sudah pernah mengalami. Pernah di Tempat A, tiga orang ini (dua cewek dan satu cowok) berhasil sampai membuat saya harus ekstra sabar. Tiga orang serasa belasan orang yang berbicara, super kenceng , diselingi tawa membahana yang terdengar ke segala penjuru. Padahal aslinya tempat ini biasanya sepi, ramainya masih batas kewajaran. Untung saja sebelum benar-benar ditegur, mereka pulang…

Ada lagi di Tempat B, pengunjung yang datangnya hampir bersamaan ini terlihat seperti berkumpul untuk urusan kantor, ada delapan orang. Setelah diperhatiin, rupanya semacam MLM yang sedang menjelaskan cara kerja, benefit, dan sebagainya. Cuma ya itu, suaranya lantang bukan main… saya, mau tak mau akhirnya ikut mendengarkan dan sesekali mengangguk (berasa ikut) pas dikasih motivasi sukses menuju masa depan jika ikut di MLM tersebut 😀 Salam supeerrr yes!!

tempat-ngopi

Saya sendiri pernah terlibat obrolan seru di Tempat C, berlima dimana saya hanya perempuan sendiri. Obrolan ini yang tadinya membahas apa jadi soal prospek cerah dokter di masa depan hehe… Lha iya, salah satu dari kami ada dokter yang masih koas dan masih lugu, satunya lagi pemain kawakan di farmasi (lebih ke jualan obat ke dokter gitu deh). Dari mulai bahas fee dokter kalau memakai obat produk dari masing-masing merk. Sampai hadiah yang berupa ‘barang’ bergerak… haha ambigu gak tuh :p. Wejangan terakhir dari senior yang diracuni juga sama lainnya ke teman dokter : pokoknya cuma ada dua yaitu enak dan enak banget, tinggal pilih… Teman dokter ngelus dada, mungkin dalam hati istighfar berkali-kali, atau malah mengingat ilmu ini biar bisa diterapkan nanti kalau sudah dikejar-kejar sama banyak penjual obat haha… Dan ya, tawa kami berlima membahana, untungnya cafe sudah sepi, hanya ada kami dan dua pengunjung yang duduk di ruangan lain.

‘Curhatan’ lain di Tempat D misalnya, obrolan dengan volume sedang ini membahas soal temannya teman bingung karena baru terungkap kalau calonnya itu anak haram, dan itu sudah H-1 alias bagaimana caranya besok bisa menikah karena undangan sudah disebar… Saya cuma bisa bengong diajakin diskusi soal beginian, ada juga rupanya yang seperti itu. Duh…

851517918_74000

Dan yang sepi karena sibuk dengan gadget masing-masing pun ada. Sesekali saja senyum dengan orang yang kebetulan tertangkap mata olehnya. Atau macam saya yang jadi tim kritik 😀

Sebelum jamnya berakhir, rupanya kesampaian juga menulis satu di Hari Blogger Nasional hehe… Selamat merayakan bagi semua blogger 😀 Kenapa tempat ngopi? Ah, mungkin karena tempat itu lagi saya kangeni sekarang, kangen juga buat ngumpul sama teman buat ngopi dan ngobrolin macam-macam. Efek seminggu tidak minum kopi dan tidak kemana-mana… 🙂

Libur Diperpanjang!!

Kalau cuma lihat judulnya kelihatannya memang seru dan menyenangkan. Haha… jangan dibayangin liburan ala-ala deh…

Hari ke-enam anteng alias ndak pethakilan seperti biasanya. Cuma tiduran, duduk, lihat film, baca buku, dengerin musik instrument, dan berjuang ngalahin mual buat makan 😀 juga ngalahin pusing yang ternyata betah kost di kepala v__v (sebenarnya kalau pusing sudah seminggu).

Dan pas siang tadi baru sadar, kulkas rumah singgah musti diisi (-__-,). Bismillah, berangkat ke Pasar Wage. Baru kali ini ke Pasar Wage suasananya panas, hehe ternyata badan sendiri yang makin panas… terus suara orang-orang di sekitar berasa lebih kedengeran. Ambil ini itu lalu buru-buru keluar pasar dan menaruh semua belanjaan ke rumah singgah.

Tadi juga sempat ke dokter (isi ulang obat hahaha), suruh bedrest lagi sampai obat habis. Ancamannya cukup sadis ; kalau masih bandel tidak mengikuti anjuran dokter nanti tinggal pilih mau rehat di mana (maksudnya di rawat atau di rumah). Ampun dah… Saya mah paling ogah bau rumah sakit.

Jadi tujuh hari pusing luar biasa pun muka tetap kalem, alhasil… kadang mbak saya minta diantar, bawa motornya berasa kayak lagi ngefly :D. Baru hari ini tidak minta diantar, dan kemungkinan ortu atau pengasuh ponakan yang bilang kalau sebenarnya saya tidak dalam kondisi waras sehat hehe… *atau jangan-jangan dia kepo sama sosmed saya :O

libur-diperpanjang

Godaan terbesar jelas soal minum kopi dan keluar rumah… tapi tidak apa, konon bersakit-sakit dahulu senang kemudian. Sakitnya dinikmati, karena sakit pun berkah, tanda Allah sayang kita… (9^_^)9

Sebenarnya mau nulis pesan ke teman, tapi dah nulis bolak-balik ternyata tidak jadi dikirim… mau bilang terima-kasih sudah kasih support… *eh, itu support bukan sih, jangan-jangan cuma saya yang mengira itu… ya sudahlah, pokoknya terima kasih yak 🙂 mau lanjut tidur lagi….

Terima kasih juga buat semua yang sudah mendoakan…. sehat terus buat kalian semuanya yah  ^^.

Terima Kasih, Kanebo!

Kebayang pun tidak, menggunakan kanebo untuk kompres. Tapi begitulah… salah satu dari kami mendadak demam. Mencari handuk kecil atau sapu tangan di setiap sudut rumah kos tidak ketemu. Lalu teringat kanebo yang ada di bagasi motor.

“Tenang, kanebonya sudah dicuci bersih kok”, ucapmu demi melihat mimik mukaku yang penuh protes.

“Ngawur, masa mau ngompres sama kanebo”, jawabku masih berusaha menolak.

“Sudahlah, ini darurat… tiduran sana…”, katamu sembari menyiapkan air hangat beserta kanebo.

Aku tidak berusaha untuk melancarkan penolakan lagi, merebahkan tubuh, kemudian menerima berkali-kali kanebo hangat di kepala. Hati mungkin biasa saja, tetapi di kepala pikiran ramai oleh celoteh-celoteh yang tak bisa diucapkan.

“Wah, lumayan setidaknya demamnya turun 0,01 haha… tapi yang penting mukanya sudah tidak nampak seperti kepiting rebus kok”… 😀

Kami berdua tertawa terbahak-bahak, demi kekonyolan hari ini. Yah, panasnya memang benar berkurang… terima kasih, kanebo!

.

.

PS : tulisan ini terinspirasi oleh celoteh burung biru “hati sih biasa saja, pikiran rame banget”, dan kenapa jadi sampai kanebo? haha saya juga ndak tahu…  😀