Pengalaman Menginap Di Lorong Homestay Yogyakarta

Yogyakarta selalu saja ada yang menarik, salah satunya dengan makin banyaknya penginapan model homestay yang jadi pilihan para pelancong yang berkunjung ke sana. Saya sendiri selalu dibuat heran, di sana pertumbuhan penginapan rumah yang homey sangat pesat tapi juga selalu ramai. Dan Lorong Homestay Yogyakarta menjadi salah satu yang bikin saya tertarik saat teman ngopi merekomendasikan tempat ini.

Alamat Lorong Homestay ini ada di Jl. Nitiprayan, Dusun Jeblok, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Meski nampaknya jauh, sebenarnya tidak juga kok, kalau mau ke Alun-Alun Kidul pun tidak butuh waktu lama dengan menggunakan Gojek atau Grab. Sampai lokasi, sisi depan Lorong Homestay ternyata sebuah galeri, namanya Galeri Lorong.

Saat sampai sana, ada beberapa tamu wisman di galeri. Saya disambut Mas Mukti aka Mas Thole dan langsung diantar ke sisi belakang bagian homestaynya. Sambil dijelasin kalau Lorong Homestay Kasihan terdiri dari dua bangunan. Bangunan pertama (Omah Ngarep) terdapat dua kamar, sedangkan bangunan kedua (Omah Mburi) ada empat kamar. Uniknya tiap kamar dinamai dengan tokoh wayang.

Masing – masing bangunan memiliki dapur mini, dan ruang bersama yang bisa digunakan untuk berdiskusi atau bertukar cerita. Dan setiap kamarnya memiliki kamar mandi dalam lengkap dengan air hangat. Meski tidak ada AC, bangunan homestay ventilasinya dirancang sedemikian rupa sehingga tetap ‘adem’. Apalagi sekitar bangunan banyak sekali pepohonan yang memang menambah makin asri lingkungan homestay.

Saya sih langsung suka dengan penginapan ini, dan rasanya tangan refleks buat jepret sana-sini. Yah daripada gabut menunggu Devi datang dari Semarang.

Oh iya, saya menempati Omah Mburi lantai satu, yang paling saya sukai karena langsung menghadap halaman penuh dengan pohon hahaha… Adem saja lihatnya, selain itu ventilasinya yang tinggi dan banyak, membuat udara yang masuk ke dalam penginapan sangat lancar.

Saat menginap di Lorong Homestay ini tamu boleh pakai peralatan di dapur. Jadi bisa buat menghemat juga kalau harus tinggal lama di Yogyakarta. Selain itu tempatnya sangat nyaman, cocok banget buat liburan berkualitas, atau bekerja yang butuh suasana tenang.

Kalau ada kekurangan, mungkin hanya soal tidak ada sarapan. Soalnya kalau sudah staycation, paginya suka males keluar cuma buat sarapan. Meski ada dapur dan bisa pesan online, tapi tetep saja itu bikin repot. Tapi, kata Mas Thole ke depannya bakal ada kok sarapan di Lorong Homestay. Kabar bagus nih… semoga beneran bisa cepat ada sarapannya.

Bagi saya, menginap di Lorong Homestay itu malah bikin banyak ide menulis mengalir. Saya memang bawa laptop dan selama di sana berhasil membuat dua tulisan hehe lumayaaann… Ruang kamarnya juga meski sederhana, tapi nyaman buat tidur. Bikin males beranjak saat pagi.

Lorong Homestay bisa jadi pilihan menarik buat kalian yang bosan dengan menginap di hotel. Di sini kalian bisa juga sekalian melihat Galeri Lorong, jadwal galeri bisa ditanyakan terlebih dahulu ke admin. Untuk tarif menginap di Lorong Homestay bisa dilihat di Airbnb.co.id atau Booking.com.

 

Lorong Homestay Yogyakarta
Alamat : Jl. Nitiprayan, Dusun Jeblok, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. 
Web : loronghomestay.com
Telp : 081329239869 (Mas Thole)
IG : @loronghomestay

Iklan

Trava House, Homestay Terjangkau Di Yogyakarta Yang Wajib Dicoba

Entah siapa yang memulai, percakapan awal April berujung pada rencana liburan ke Yogyakarta. Bertiga dengan Devi dan Frisca akhirnya mulai kasak-kusuk cari info penginapan dan setuju untuk mencoba Trava House. Setelah lihat akun sosmednya, langsung deh penasaran. Setelah mencoba dibeberapa aplikasi gagal menemukan, rupanya Trava House ini bisa dipesan lewat booking.com.

W H E R E T O

Setelah pesan nanti kita akan mendapatkan notifikasi yang isinya sebuah link ke halaman facebook Trava House berisi tentang peraturan. Jadi sebelum membayar biaya menginap, diberi kesempatan untuk membaca peraturan terlebih dahulu. Dan diberi kesempatan 1 x 24 jam untuk mentransfer biaya. Baru setelah itu ada grup WA yang dibuat antara admin Trava House dan pemesan.

Nah di sini kita bisa selalu menginfokan terkait kapan hendak sampai di Trava, atau memberitahukan kalau ada alergi seperti saya. Baru kali ini pesan penginapan dilayani semacam ini, seneng sih berasa diperhatiin #eh… Oh iya, kalau mau sewa motor juga bisa tanya langsung ke grup WA. Jadi tidak usah bingung kalau baru pertama kali ke Yogya deh…

Berhubung mesti mengurus sesuatu hal, saya dan Devi berangkat terlebih dahulu. Naik bus dan turun di  Terminal Jombor, dari terminal melanjutkan ke Trava House dengan Grab. Menuju lokasinya hanya mengandalkan maps dan foto peta yang dikasih sama admin Trava. Masuk gang kecil yang kalau tidak teliti bakal terlewat begitu saja hehe… Bahkan setelah masuk gang, nantinya masuk gang kecil lagi. *Nah lhoo…

Saya sampai tujuan sudah jam lima sore lewat sedikit, jadi kunci masuk dititipkan ke kotak yang diberi PIN. Di dalamnya sudah ada amplop berisi dua kunci ; kunci pintu utama dan kunci kamar. Karena admin di sini hanya ada dari jam 08.00 hingga jam 17.00 wib. Berasa memasuki petualangan baru pas buka kotak dengan PIN terus ‘nemu’ amplop berisikan nama.

trava house - rooms

Kebetulan dapat Room 4 yang menghadap langsung beranda belakang dan ruang baca. Asiiikkk ‘kan…. Sampai homestay sepi karena tamu menginap lainnya sepertinya masih keliling. Seperti ruangan lainnya, kamar pun didesain tema industrial dan minimalis. Dengan pencahayaan yang cukup serta bisa diatur seberapa terang sesuai dengan kemauan.

trava house - ruang baca

trava house - kitchen & pool

Hujan sejak sore akhirnya bikin batal acara buat kulineran, untung saja ada Babang Go-food yang baik hati. Dan ada teh atau kopi yang bisa kita bikin sendiri di dapur, di sini juga boleh kalau mau masak. Ada peralatan yang bebas buat dipakai, di Trava House itu self service. Untuk ruang serba guna ada di lantai atas, ada TV kabel, dan juga ruangan bebas merokok.

trava house - ruang serba guna

Entah tidur jam berapa, yang jelas malam-malam Frisca datang ngetuk pintu. Etdah… sudah hampir jam sebelas malam dan mengajak cari makan (v_v), saya pun memilih melanjutkan tidur…

Paginya, sudah disediakan sarapan sama Mas-mas Trava yang saya lupa namanya (-__-,). Nasi kuning (yang keringnya sunggu enak sekali) plus jus jambu. Nambah pagi hari makin lengkap nikmatnya. Bertiga dengan Devi dan Frisca sarapan sambil ngobrol dengan Mas-mas Trava House.

trava house - kitchen

trava house - sarapan

Saking betahnya, kami malah tidak kemana-mana sampai waktunya check out :)))). Frisca sibuk minta difotoin, Devi sibuk sama kerjaan kantornya. Sayang banget nih, hanya bisa menginap semalam karena hari Sabtu full booking… terpaksa harus pindah tempat menginap.

Selain beneran homie banget, tempatnya asri, mungkin semuanya yang pernah menginap di Trava House sepakat… kalau di sini itu nyenengin maksimal. Tentunya mau banget ke sini lagi kalau pas vacation ke Yogyakarta.

Buat kalian yang mau ke Yogyakarta, sedang cari penginapan yang nyaman, seru, dan harga murah perlu banget nih coba menginap di Trava House. Mulai IDR 90.000 (dormitory) sampai 220.000, update harga terbaru bisa cek di booking.com atau airbnb.co.id ya. Harga kamar sudah termasuk sarapan nikmat yang selalu ganti-ganti plus jus segar.

Trava House
Jl. Lorong Barat Gang Cempaka, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
WA 089518545288
IG : @travahouse

Beans Lab Cafe Yogyakarta

beans lab cafe - asesoris

 

Sama halnya dengan puasa, ada waktu untuk berbuka 🙂 . Setelah menghindari kopi selama sebulan, akhirnya kemarin bisa juga melancarkan buat berburu kopi. Tentunya setelah tugas disuruh motretin sodara yang tunangan di Solo selesai, iya demi mengurangi tremor karena efek kalau minum kopi, jauh-jauh hari menghindarinya.

beans lab - tempat duduk dalam

Balik lagi soal kopi. Mengingat kesempatannya terbatas, akhirnya hanya bisa mencoba satu lokasi. Itupun mencari yang terdekat dengan Stasiun Yogyakarta dan yang bukanya lebih pagi. Iya, biar pulang ke Purwokerto bisa siang hari karena tidak mau kejebak macet libur Nyepi, dan masih banyak kegiatan nunggu *bah, berasa sibuk sekali :D.

beans lab cafe - ruang

Setelah tanya mimin @NgopiJogja soal tempat-tempat ngopi yang dekat dengan Stasiun Yogyakarta atau Malioboro, akhirnya pilih Beans Lab Cafe (@BeansLabCafe) yang ada di Jalan Mangkubumi No. 62-64, telepon 0274 557208, yang kebetulan bukanya pagi. Lokasinya di selatan Tugu, sebelah BRI, nyempil mungil di pojokan 😀 .

beans lab cafe - chocolate

beans lab cafe - cappucinno ice

Sebenarnya pernah jalan kaki ke Tugu sewaktu malam hari (dulu), dan ketika siang hari yang terik mengulang jalan kaki ternyata benar-benar menguras tenaga hehe… *salah sendiri. Namun, begitu masuk ke dalam cafe, langsung adeeemm… Tempatnya kecil, di bagian luar disediakan beberapa meja kursi, dan di dalam pun hanya ada tiga meja, sedangkan tempat duduk lainnya yang modelnya bar. Kesan minimalis, namun tetap asik kalau buat kongkow. Ada fasilitas wifi, namun sayang tidak dicoba apakah lancar atau tidak.

beans lab cafe - coffee lintong with french press

beans lab cafe - kopi lintong

Beberapa jenis kopi yang disediakan di cafe ini ; Toraja, Kalosi, Pakpak Bharat, Bali, Java, Aceh Gayo, Mandheling, Lintong. Ada juga manual brewing methods (free) seperti ; V-60, Chemex, Kalita, Aeropress, French Press, Vietnam Drips, dan Syphone. Harga minuman berkisar antara IDR 3.000 – 27.000, sedangkan makanan ringan semua harganya sama IDR 15.000. Selain itu juga cafe ini menyediakan dan menjual kopi produk Coffindo. Dan kemarin mencoba ; hot chocolate, cappuccino ice, dan kopi Lintong yang dibikin dengan metode French press.

Bagi yang sedang mengunjungi Yogyakarta sekitar Malioboro atau Tugu dan bingung tempat kongkow boleh banget mencoba cafe satu ini. Sedikit menjauh dari hingar – bingar Malioboro yang biasanya penuh wisatawan 🙂