Let It Go….

Hari ketiga akhirnya pecah juga… barangkali memang semestinya dikeluarkan. Tak peduli pada butiran-butiran air jatuh yang susah payah ditahan, tak peduli pada beberapa pasang mata yang nanar menatap bingung. Kalau boleh memilih, jangan di tempat ini. Tempat yang sama ini pada akhirnya menyisakan sentimentil dan kali ini kelegaan sekaligus.

Nyeri ulu hati makin terasa, sebal dengan diri sendiri mengingat sejak itu hingga malam ini lambung hanya terisi jika bukan roti maka kopi. Makin komplit dengan segala isian kepala…

Sekali lagi, berkeliling jalanan kota (sesuatu yang sialnya menjadi kesukaan yang sama)….

olipeoile blog

Ada banyak hal yang terabaikan hanya karena isi kepala terlalu penuh. Jika pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu terhenti, bukan karena menyerah. Barangkali memang tidak semua tanya selalu berbuah jawab. Cukuplah dari kejauhan, dan do’a untuk kebaikan semua…

Mahadewi yang sedang dinyanyikan oleh Ryan Tedja dan Piyu malam ini benar-benar jadi lagu kurang ajar yang hakiki, mengiringi perjalanan pulang…

.

.

Terima kasih D 

 

 

Undangan Untuk Bertemu Najwa Shihab & Butet Manurung

Rabu kemarin berasa menjadi hari yang begitu baik, bukan hanya karena mendapat DM salah pencet juga karena dapat undangan lewat surel dari Kompas Gramedia. Ceritanya bertepatan dengan Hari Buku Nasional besok Kompas Gramedia menyelenggarakan Sharing Inspirasi dan Workshop #AkuBaca di Bentara Budaya Jakarta.

Sepertinya saya diundang karena kemarin Taman Baca Kudi sempat menang lomba GRCC 2016, lomba essay tentang taman baca yang diselenggarakan oleh Gramedia. Selepas baca rundown acaranya, tentu saja senang bukan main karena ada Najwa Shihab dan Butet Manurung!! Aaakk… >_<

Jadi, bakal ngapain kalau ketemu mereka dan ada kesempatan untuk ngobrol? Hehe sejujurnya belum kepikiran mau apa, mungkin yang baca blog ini bisa bantu saya nanti harus bagaimana 😀 *masih ada 20 hari buat memikirkan itu, sementara itu saya fokus urus renovasi Taman Baca Kudi dulu yang sekarang sudah mulai…

IMG_20170427_004626

PS : ceritanya makin panjang ya ABJ hmm…. 

Happy Independent Blue

Dari semalam hawa panas seolah cuaca hendak hujan. Setengah meminta ; “ayo, lekaslah turun wahai butiran air dari langit!”.

Lelah seharian mengalahkan diri yang memaksa terjaga melewati pergantian hari. Aku bahkan tertidur pada hitungan menit lepas membaca pada lembaran ke lima, buku yang makin lecek karena berulang kali kubaca.

Terbangun kala sepertiga malam diakhir. Aku mengetuk tempat terbaik, mengurai banyak sekali pinta ; kebaikan, kemudahan, dan keberkahan untukmu… Barakallah fii umrik… happy independent blue 🙂

IMG_20170415_095056-01

Ayo Ikutan Virtual Run Indonesia (VRI)

Bagi penghobi olahraga lari, Virtual Run, mungkin masih sedikit asing di telinga. Namun, Virtual Run atau lari virtual ini memberikan banyak kemudahan bagi para pelari, untuk mengikuti sebuah eventVirtual Run adalah sebuah event lari yang bisa dilakukan dimanapun yang Anda pilih. Anda juga bisa berlari, jogging, trail running ataupun saat berlari di race event lainnya.
Instagram dari @rizkiyyogatama atau Rizki Yogatama
Agil Yanuar dari Virtual Run Indonesia (VRI) mengatakan, event ini bisa dilakukan dimanapun yang dipilih, termasuk waktunya. Pelari tak perlu repot-repot menuju venue event lari, seperti yang ditawarkan oleh event lari konvensional.
Sama halnya dengan event-event lari lainnya, Virtual Run ini juga memberikan benefit berupa medali yang akan dikirimkan langsung kepada pelari yang mengikuti event yang digelar Virtual Run Indonesia. “Event Virtual Run Indonesia ini akan meliputi 5K, 10K, 21K (Half Marathon), 42K (Marathon), dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Instagram @177shooter_id atau Harry S Wibowo
Sejak diluncurkan awal tahun ini, Virtual Run Indonesia telah meluncurkan tiga event. Yakni, Run with Love on Valentine Day yang digelar Februari 2017, Earth Hour Run “Lari Satu Jam untuk Bumi Kita yang Maret 2017, serta 21K Girls Power Run Challenge “Unleashed The Power Within”, yang digelar April 2017 ini.
Instagram @rieeriri Gustiriri Jayanthi
Dari tiga event yang digelar, event Earth Hour Run “Lari Satu Jam untuk Bumi Kita, cukup menyita perhatian. Sebab, melalui event ini peserta meluangkan stau jam untuk berlari.
“Event ini, sebagai bentuk lain kepedulian kita untuk bumi kita tercinta ini. Selain itu juga, sebagian keuntungan dari biaya pendaftaran disumbangkan ke program My Baby Tree program penghijauan dari WWF Indonesia,” ungkapnya.
Dia menambahkan, peserta berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Medan, Aceh, Manado, Palu, Jogja, Ambon, Jayapura, Maluku, Makassar, Palu, serta puluhan kota lainnya di  Indonesia.
Event Earth Hour Run “Lari Satu Jam untuk Bumi Kita ini, juga mendapatkan sambutan positif dari para peserta. Seperti yang diungkapkan oleh Rachel Lee, peserta dari Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Dia mengaku senang bisa mengikuti event lari, yang tak hanya berlari saja.
Sebab, event lari ini tak hanya menyehatkan pesertanya saja. Tetapi juga memberikan sumbangan positif bagi bumi. Selain menghemat energi, dengan berlari selama satu jam, kita juga bisa memberikan sumbangsih untuk penghijauan,” katanya.
Instagram dari @rzqhbb_ atau Raziq Habibi
Widhi Purbo Nugroho, peserta dari Kota Medan, Provisi Sumatra Utara, juga mengamini apa yang diungkapkan oleh Rachel Lee. “Event ini, benar-benar mempermudah pelarih super sibuk seperti saya untuk ikut event lari. Banyak hal positif yang bisa diberikan melalui event ini,” ujarnya.
Untuk bisa mengikuiti event Virtual Run tidaklah terlalu sulit. Tinggal buka website Virtual Run Indonesia, www.virtualrun.id. “Lalu pilih event yang akan ingin Anda ikuti. Lakukan pembayaran. Selanjutnya tinggal berlari pada waktu yang telah ditentukan,” imbuh Agil.
Panitia juga memberikan benefit bagi peserta, yakni medali ekslusif yang akan dikirimkan langsung ke alamat peserta. Serta, dapatkan berbagai Lucky Draw dan kejutan yang menarik untuk didapatkan.

Selamat Jalan Mba Ita :(

mr-glenn-mba-ita

Innalillahi wa innailaihi rojiun….

Sore kemarin sebuah pesan masuk dari Mr. Glenn, mengabarkan bahwa Mba Ita meninggal dunia sekitar jam tiga sore. Rasanya tidak percaya. Sehari sebelumnya memang Mr. Glenn mengabarkan kalau Mba Ita kejang dua kali, saya pun hanya berpesan agar bersabar dan semoga kondisinya membaik.

Jujur, rasanya campur aduk… Mba Ita sendiri sejak beberapa bulan menjadi pasien dampingan saya (sebagai relawan Sedekah Rombongan atau SR). Kabar duka tersebut saya sampaikan kepada teman-teman SR, dan meminta ambulance untuk sewaktu-waktu bersiap menjemput jenazah Mba Ita di Margono.

mba-ita-mr-glenn

Ingatan saya kembali pada 20 September 2014 silam, pertama kalinya bertemu dengan Mba Ita dan Mr. Glenn saat masih berjualan burger di Pasar Kober. Saya pun tidak menyangka, tulisan saya di blog ini mengenai perjuangan Mba Ita dan Mr. Glenn melawan kankernya bisa menjadi viral. Waktu itu, mereka masih menolak dibantu oleh Sedekah Rombongan ataupun pihak lain… Mr. Glenn berharap orang-orang tidak memberinya uang tapi dukungan, baik dengan berdo’a untuk kesembuhan Mba Ita maupun dengan membeli burger dan donat mereka. Cerita perjuangan mereka pun menjadi insipirasi dan menjadikan mereka beberapa kali diundang oleh televisi.

Hingga Agustus 2016, ketika Mr. Glenn kembali menghubungi untuk meminta bantuan karena membutuhkan ambulance dan biaya untuk proses pengobatan Mba Ita. Semangat Mba Ita sungguh luar biasa untuk melawan sakitnya, juga sabar, dan pantang menyerah meski harus berkali-kali masuk Margono ataupun Sardjito di Yogyakarta.

Rupanya Allah lebih sayang Mba Ita… kali ini benar-benar menghentikan rasa sakitnya setelah berjuang sekian tahun. Selamat jalan Mba Ita… semoga Mba Ita mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, aamiin.

Terima kasih Mba Ita dan Mr. Glenn sudah banyak memberikan inspirasi untuk Olipe…

My deepest condolences Mr. Glenn, be strong Jasmine and Iregi … 😦

 

 

Yogyakarta Pagi Hari…

Sejujurnya, perjalanan kali ini sedikit tertukar diingatan dengan perjalanan sebelumnya. Salah saya memang, yang memiliki keterbatasan daya ingat, dan juga tidak terlalu suka mencatatnya.

Mata lelah karena semalaman tidak terpejam, juga jalanan yang tidak bersahabat karena terlalu banyak lubang. Laju kendaraan kami melambat sepanjang jalur selatan, menghampiri pagi menuju timur Kota Yogya. Satu-satunya penghiburan barangkali pesan yang datang semena-mena menimbulkan tawa dari peternakan nun jauh di sana.

Rumah sakit masih sepi pagi itu. Sebuah pesan masuk memamerkan langit yang begitu ciamik, spontan pandangan teralihkan ke dinding kaca rumah sakit yang tinggi menjulang. Memantulkan lukisan langit pagi.

sunrise-yogyakarta

Yogyakarta, udara pagi, mentari, mimpi, dan perjalanan… Betapa hari ini semesta memberi restu, bukankah begitu? 🙂

Seharusnya Tuh Begini…

Sederhananya, namanya juga keinginan yang sayangnya bisa terlaksana dengan mudah dan lancar atau malah sebaliknya. Ceritanya semacam ini ; obrolan panjang di kamar menjelang tidur (atau malah sampai pagi) dengan canda (yang takutnya menjadi candu).

Kemudian yang terjadi selalu seperti ini ; kamar terlalu membius, hingga kantuk datang lebih cepat dibandingkan membuat sebuah paragraf dalam tulisan ini. Bahkan hanya butuh dua kali usapan kepala hingga mata lelap tertidur.

Dinding kamar membisu. Hanya suara nafas teratur, dan jarum jam dinding yang bergantian mengisi kekosongan…

img_20170227_203926

Ah, berulang, berulang, dan selalu berulang… entah waktu atau justru malam yang tidak bersahabat?

Hendak bilang : “sebenarnya tuh maunya begini….”. Kemudian kata-kata tertelan oleh kepasrahan, karena #kode tak selamanya tertangkap.