Meotel Purwokerto, Hotel Retro Yang Instagramable

Weekend kemarin where to sleep  tidak hanya bareng travelmate Devi tetapi juga mengajak Frisca dan Kuspriyatna untuk seru-seruan menginap di Hotel Meotel Purwokerto. Hotel ini masih satu manajemen lho dengan DAFAM…

Sabtu pagi Saya dan Devi menjemput mereka berdua di Stasiun Purwokerto, sebelum ke hotel sempat mengajak para travel blogger ini untuk makan siang di salah satu resto Korea, kebayang ‘kan ramainya seperti apa :D. Hmm, mereka tidak mengira kota sekecil ini ada mall (>.<).

Meotel by Dafam

Puas makan siang langsung meluncur ke Hotel Meotel. Sambil menunggu kamar satunya siap, kami memilih motret tempat sekitar lobi yang memang didesain sangat instagramable. Cocok banget untuk anak muda kekinian apalagi yang hobinya foto seperti kami 😛

meotel - instagramable

Saya dan Devi menempati family room, yang saya suka kamar di Meotel semuanya dapat guling hehe. Ini dia penampakannya…

family room - meotel

Ruangannya luas, selain ada sofa panjang, TV besar 42″ LED, ada juga meja untuk belajar atau bekerja, dan kamar mandi yang luas dengan kaca semi transparan :D. Selain family room, ada juga pilihan kamar smart room, executive room, dan junior suite. Meski awalnya baru terasa ada masalah dengan ACnya (bocor), begitu melapor langsung ada teknisi yang memperbaikinya.

Hampir semuanya lelah karena perjalanan dan kurang tidur. Siang itu semuanya sepakat buat tidur dulu sebelum sore mencoba menengok kolam renang juga makan malam.

swimming pool meotel purwokerto

fitness room

Letak kolam renang ada di samping, terpisah dengan hotel, tempat ini juga sekalian untuk fitness yang disediakan bagi yang menginap di hotel. Tempat ini makin malam makin bagus buat difoto ternyata… *tetep ya yang dipikirin soal motret 😀 Kolam renangnya juga boleh untuk umum, hanya dengan Rp 40.000 sudah bebas berenang dan bonus dapat nasi goreng lho…

Malamnya biar makin kompak kami sepakat pakai dress code dadakan warna putih haha… Sebelum menikmati makan malam dan live music foto sepuasnya dulu :D. Khusus Sabtu malam, di Ucafe selalu ada musik biar malamnya makin seru dan asik. Ada Frisca yang sempat ikutan nyanyi, saking terpesona sama suara sampai lupa tidak ada yang fotoin haha… Ucafe juga 24 jam terbuka untuk umum, serunya selalu ada angkringan (sampai malam) dengan harga bersahabat.

live music

travelmate

dinner with travelmate - meotel hotel

Dinner ketje dengan travelmate di Hotel Meotel… beberapa menu sudah dipesan seperti Dori with butter sauce, Sop iga bakar, Hainan chicken rice, Tom yum soup, Steam bun beef black paper, Nasi goreng seafood. Dan hampir keseluruhan kami puas dengan menu yang disediakan oleh hotel. Saking banyaknya sampai kekenyangan 🙂

meotel hotel - dinner

makan malam di meotel

Dan malam itu saya tidur dengan nyenyak, bisa bangun pagi (sepertinya saya bangun paling awal dibandingkan yang lainnya). Akhirnya sambil menunggu yang lain bangun, saya meminta sarapan lebih awal buat dimakan di kamar. Menu sarapannya cukup bervariatif…

breakfast - meotel hotel

menu sarapan

Devi memilih istirahat di kamar karena kurang enak badan, benar-benar dapat tidur berkualitas dia. Sedangkan Frisca dan Kus mencoba fitness juga renang ketika kolam sudah agak sepi pengunjung. Biar apa coba? biar enak kalau mau foto-foto haha…

fitness dulu

Over all, pengalaman akhir pekan where to sleep di Hotel Meotel Purwokerto sangat memuaskan bareng travelmate… Selain staff ramah, makanan tidak mengecewakan, dan saya pun juga bisa tidur dengan nyaman.

travelmate &amp; meotel staff

Nantikan cerita where to sleep selanjutnya… jangan lupa follow IG @olipe_oile dan @devidhede \(^^)/

 

Meotel Purwokerto by DAFAM
Jl. Dr. Soeparno Selatan No.1 Purwokerto
(Timur GOR Satria)
Email : info@meotelpurwokerto.com
Phone : 0281 777 1157
Web : http://dafamhotels.com/hotel-directory/meotel-purwokerto
IG : @meotelpurwokerto

 

Iklan

Pengukuhan GenPI Banyumasan & Famtrip Blogger Bersama Dinpar Banjarnegara

Generasi Pesona Indonesia atau yang biasa dikenal dengan sebutan GenPI, adalah semacam volunteer yang terdiri dari para blogger, netizen, pemerhati atau pegiat wisata yang memiliki kepedulian terhadap pariwisata. GenPI Karesidenan Banyumasan sendiri terdiri dari empat kabupaten yaitu ; Banajrnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Pengukuhan GenPI Banyumasan akhirnya bisa terlaksana setelah sempat tertunda bulan lalu. Atas dukungan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, kegiatan pengukuhan yang berlangsung dari tanggal 10-12 November 2017 itu dilanjutkan dengan Famtrip ke beberapa wisata di Banjarnegara.

10 November 2017

Rumah tidak seperi biasanya ramai kedatangan teman-teman blogger dari Semarang, Pekalongan, Jakarta, dan Bekasi. Mereka yang sudah datang dan sempat beristirahat dulu di rumah. Melanjutkan penjemputan blogger lainnya dengan minubus di Stasiun Purwokerto.

Tiga hari kedepan kami hendak selain acara Pegukuhan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Banyumasan juga ada famtrip blogger yang disponsori oleh Dinpar Kabupaten Banjarnegara, Hotel Surya Yudha, The Pikas Resort, D’Qiano Hot Spring Water, dll. GenPI Banyumasan meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Cilacap.

hotel surya yudha

Sampai Hotel Surya Yudha Banjarnegara peserta langsung mendapatkan pembagian kamar, dan bersiap untuk rafting di The Pikas Resort & Adventure. Seperti biasanya, karena saya takut air maka saya memilih menunggu saja. Tempat ini memang menjadi salah satu andalan wisata air di Banjarnegara. Rafting Sungai Serayu ini bahkan pernah menjadi lokasi kejuaraan rafting tingkat internasional.

Rafting Serayu (Bannyu Woong Adventure)

Selesai melakukan rafting, peserta kembali ke hotel. Ada waktu hingga pukul 19.00 wib nih sebelum acara pengukuhan. Saya yang kebagian kamar dengan Devi (blogger dan anggota GenPI Kedungsepur) memilih rebahan yang akhirnya karena kecapean sampai tertidur hahaha…

pengukuhan genpi banyumasan

Gerimis bikin Banjarnegara semakin dingin, serius! Belum lagi anginnya yang lumayan kenceng :D. Pengukuhan GenPI yang dihadiri oleh Kepala Dinpar Banjarnegara dan Kepala Dinpar Banyumas, teman-teman GenPI, dan blogger dari beberapa daerah berlangsung lancar. Acara ditutup dengan hiburan dan makan malam. Btw, saya menikmati seklai makan malam yang disediakan. Ayamnya enak, bumbunya meresap sekali. Mba Pungky bahlan mau nambah tapi malu haha…

11 November 2017

hotel surya yudha - sarapan

Paginya selepas sarapan seluruh peserta diajak menuju ke tempat pusatnya industri kerajinan keramik. Salah satu UKM yang kami datangi yaitu Keramik Usaha Karya Klampok. Dulu pas masih kecil sering sekali diajak ibu ke toko ini, tidak menyangka hari ini dikasih kesempatan ketemu dengan pemilik toko bahkan sampai masuk di sisi belakang dan di pabrik pembuatan keramiknya langsung :D.

keramik klampok banjarnegara

Keramik Klampok hingga sekarang masih bertahan, bahkan siapa sangka poci yang selama ini lebih dikenal berasal dari Tegal rupanya pembuatan keramiknya aslinya dari Klampok. Selain memenuhi pasar nasional, keramik Klampok juga banyak di ekspor ke beberapa negara, seperti ; Asia Timur, Eropa, dan Amerika.

Keramik Usaha Karya Klampok Banjarnegara

Beberapa peserta berkesempatan mencoba membuat keramik ketika sampai di pabriknya (lokasi pabrik dan toko terpisah, red). Ternyata membuat keramik itu lama dan sulit, karena saat proses pembuatan, pengeringan, hingga pewarnaan alami itu membutuhkan waktu berhari-hari. Setuju sekali kalau kelompok usaha keramik semacam ini harus didukung oleh pemda biar tidak sampai punah keberadaannya.

Batik Gumelem Banjarnegara

kunjungan ke batik gumelem di SMP

Masih di wilayah barat Banjarnegara, Desa Gumelem, Susukan menjadi lokasi kedua yang dikunjungi. Desa ini merupakan sentral usaha batik khas Banjarnegara. Banyak sekali dijumpai usaha kecil yang membuat batik tulis maupun cap. Peserta diajak ke dua lokasi pembuatan batik. Maunya sih borong sekalian batiknya, sayangnya dompet sedang tipis 😦

Selain Desa Gumelem, peserta juga diajak untuk explore Kampungg Kitiran di Desa Pagak, Kecamatan Purwareja Klampok. Di Desa Pagak sudah menunggu masyarakat lengkap dengan alat musik Gumbeng. Alat musik ini terbuat dari bambu, yang sekarang sangat susah ditemui bahkan tidak banyak orang yang tahu.

Desa wisata Pagak - musik tradisional

Desa Pagak - alat musik bambu

Bahkan Kak Devi (GenPI Kedungsepur) dan Gita (GenPI Pekalongan) sangat tertarik, dan menikmati alunan musik Gumbeng yang mereka coba bersama masyarakat. Dan memang benar sekali, penting sekali untuk mengenalkan musik tradisional ini kepada generasi sekarang, agar Gumbeng makin dikenal dan tetap lestari sampai kapanpun.

Sore hari menjelang pergantian malam, peserta melanjutkan perjalanan ke D’Qiano Hot Spring Waterpark yang berada di Dataran Tinggi Dieng. Di sana, selain ada tempat wisata air dengan kolam air panas alami, juga ada penginapan D’Qiano.

Jangan ditanya seberapa dinginnya kalau sudah berada di sini, yang jelas meski sudah dapat ruang kamar sebagian peserta perempuan lebih memilih bergabung jadi satu… biar anget dooonnnggg… 🙂 Selesai makan, sebagian peserta famtrip memilih berendam, kalau saya seperti biasanya… memilih jadi penonton sebentar dan memilih tidur. Dinginnya ndak nguatin (>_<)

Dqiano hot spring - dieng

D’Qiano terletak di Desa Batur, Dieng – Banjarnegara. Berdekatan dengan Kawah Sileri, dan dari sanalah sumber air panas alami yang digunakan untuk berendam. Ada beberapa kolam, seperti kolam khusus anak kecil airnya hangat, kolam untuk dewasa lumayan panas. Selain itu ada juga kantin yang menyediakan makanan minuman untuk pengunjung. Khusus yang menginap di penginapan, tidak ada batasan jika hendak berendam. Asyiknyaaaaa…..

landscape dieng - bukit skuter

12 November 2017

Minggu pagi selepas subuh, peserta dibangunkan untuk menuju ke Bukit Skuter (Scooter). Bukit ini berada dekat dengan Kota Dieng, dan tidak seperti Sikunir yang sangat ramai, bukit ini sangat sepi padahal pemandangannya pun tak kalah menariknya. Kita bisa menikmati landscape kota Dieng dari atas bukin ini. Kalau dari jalan raya kota Dieng (biasanya lewat BRI), kita cukup berjalan 10-15 menit. Kalau naik motor malah sebenarnya cukup jalan 3 menit untuk sampai bukit.

Beranjak siang, pemandangan dari atas sini sangat sangat mempesona, dari kejauhan Kota Dieng masih berselimut kabut. Dari sini bahkan bisa melihat kompleks Candi Arjuna, museum, kawah, juga Bukit Pangonan… Kali ini saya super kedinginan, ternyata dua jaket tidak cukup membuat saya hangat. Tangan saya bahkan nyaris beku 😦

telaga merdada - kayak

Tak kalah serunya, semua peserta diajak bermain kano di Telaga Merdada, tempat wisata air yang belum lama dibuka. Untuk bisa bermain kano, pengunjung bisa menyewanya Rp 50.000 per kano. Beberapa peserta keasyikan bermain kano bahkan sampai kabut turun… Keseruan belum berakhir, nasi jagung dan lauk sudah disiapkan. Berasa sedap-sedap gimana gitu, makan ramai-ramai…

Sayang banget nih kunjungan ke kompleks candi terkendala hujan, jadi hanya sebentar saja dan melanjutkan ke toko oleh-oleh khas Dieng sebelum mengakhiri famtrip ini. Keseruan funtrip selama tiga hari ini disponsori oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, Surya Yudha Park, The Pikas Resort & Adventure, Banyuwoong Rafting, D’Qiano Hot Spring Waterpark, GenPI Jateng, dan GenPI Banyumasan.

Hotel Aston Purwokerto, Hotel Tertinggi Di Purwokerto

Sekali-kali memanfaatkan waktu akhir pekan untuk ‘me time’. Dan ingat kalau voucher hotel ada yang belum dipakai. Saya pun menghubungi travelmate Devi buat mencari tanggal yang pas. Awal Desember jadi pilihan kami karena ada tanggal merah. Kali ini where to sleep akan mencoba hotel tertinggi di Purwokerto (saat ini), hotel ini ada duabelas lantai lho…

Saya langsung menghubungi Mba Nely (Hotel Aston Purwokerto) untuk memberitahukan soal rencana tanggal 2 Desember hendak menginap di Aston. Prosesnya sangat mudah, dan dengan cekatan pihak hotel membantu prosesnya.

Kami datang sudah malam karena terlalu asyik kongkow di coffeeshop yang tak jauh dari hotel. Setelah check in, kami dapat kamar di lantai sebelas.  Kebayang tidak pemandangan dari kamar tempat kami menginap? Pemandangan kota dari kamar bikin saya betah duduk di dekat jendela 😀 dan memutuskan tidur karena sudah capek.

Bangun sudah siang, buka jendela lalu nemuin pemandangan yang keren. Gunung Slamet nampak dan hari itu cuaca Purwokerto nampak bersahabat.

Kamar yang kami tempati yaitu Deluxe Room, kamarnya luas, perlengkapan mandi lengkap hanya saja tidak ada hair dryer. Beberapa pilihan kamar di Hotel Aston, diantaranya ; Deluxe Room, Junior Suite, Suite Room, Presidential Suite. Dengan harga (tarif) IDR 1.430.000 – IDR 4.750.000. Harga sewaktu-waktu berubah, terutama weekend atau holidays session.

.

Menu sarapan yang disediakan sangat banyak dan lengkap, ada menu nusantara tentunya. Ngomong-ngomong saya paling suka egg cornernya karena lengkap, meski lumayan harus antri pas memesan.

Sebelum check out, menyempatkan keliling ke area kolam renangnya. Menyesal sekali nih travelmate saya karena kelupaan bawa baju renang jadi hanya bisa duduk di pinggiran saja :p

devacation blog

Meski kurang puas hanya semalam, karena Devi harus kembali ke Semarang tapi setidaknya puas tidur di kamar yang nyaman 😀 jadi tunggu cerita where to sleep selanjutnya ya… Yang tidak mau ketinggalan bisa kepoin IG kita di @olipe_oile dan @devidhede.

 

Java Heritage Purwokerto, Hotel Terbaik Di Purwokerto

Woohhoooo… salah satu  travelmate where to sleep minggu ini kebetulan berulang tahun dan sedang beruntung nih. Kami mendapat kesempatan untuk menginap di Java Heritage Purwokerto. Awalnya Devi sempat saya kerjain kalau hotel yang hendak di tuju ini adalah hotel melati. Dan pas sudah sampai, satu pukulan mendarat di pundak hehe… Iyes, Hotel Java Heritage itu semacam hotel termegah di Purwokerto. Huehehe… berhasil ‘kan buat ngerjain 😀

Lepas kegiatan di rumah singgah, sore langsung check in dan staff sangat ramah sekali, mengantar kami hingga ke kamar. Wuih begitu masuk langsung takjub sama luasnya kamar, dan interior yang tertata begitu apik dengan tata pencahayaan yang makin nampak makin megah dan berkelas.

Kamar kami berada di lantai dasar, dengan pemandangan dari jendela kamar langsung ke kolam renang… Sore hari saya langsung bergabung dengan teman sosial media di Sadewa Pool Cafe. Dan travelmate saya sukses ketiduran sampai jam tujuh malam hahaha…. Begitu terbangun dan merasa lapar, kami memilih mencari makan sekalian berkeliling Kota Purwokerto.

Pulang makan malam, kembai ke hotel tak lupa mencoba voucher welcome drink yang berlaku hingga pukul 23.00. Kami mencoba kopinya sambil duduk di Srikandi Lounge. Meski memilih kopi, saya mengantuk sekali, dan herannya Devi pun mengantuk. Aih, padahal dia tidur lama sore tadi… (-__-).

Esoknya saya sengaja bangun pagi, memotret area Nakula Pool yang sepi hari itu. Asli dah pengin renang (meski aslinya cuma bisa gaya batu), tapi saya sudah mandi (>_<).

Naik ke lantai lima menuju ruang Ambalika Restaurant & Rooftop. Jadi… saking banyaknya menu pagi ini saya bingung sarapan apa 😀 Andai kapasitas perut saya banyak, pasti saya mau coba semuanya huehehe… Staff dengan ramah akan melayani kita, menawarkan minuman, dll. Duh, mau tuh tiap hari begini 😛

Rasanya puas sekali kali ini, tidur berkualitas, dan sarapan enak. Oh iya lupa memberikan info… Kalau di Java Heritage Hotel itu pilihan kamar ada dua, bisa yang cottage (di luar) atau building (di dalam). Untuk yang cottage ; Deluxe Bungalow IDR 980.000, Deluxe Bungalow New IDR 1.280.000, Deluxe Garden IDR 1.680.000, Deluxe Pool IDR 1.880.000, Suite Pool IDR 2.880.000. Sedangkan yang building ;Deluxe IDR 1.280.000, Premium Deluxe Balcony IDR 1.680.000, Grand Deluxe IDR 1.680.000, Premium Grand Deluxe IDR 1.880.000, Executive Pool IDR 2.880.000, Junior Suite IDR 3.880.000, Executive Suite IDR 5.880.000, President Suite IDR 12.880.000. *harga berubah sewaktu-waktu, terutama saat akhir pekan & liburan.

Kesenangan hari ini mesti berakhir, travelmate saya harus kembali ke asal karena besok adalah hari kerja. Tapi tenang… pasti akan ada cerita kami lagi di where to sleep selanjutnya. Jangan lupa ya follow IG kita @olipe_oile dan @devidhede 🙂

 

Hotel Java Heritage

Jl. Dr. Angka No. 71, Purwokerto Timur

Telp : 0281 634321

Email : info@javaheritagehotel.com

Hotel Santika Purwokerto

Beberapa kali menginap di hotel ternyata saya sering melewatkan untuk menuliskan di blog. Nah kebetulan dengan travelmate Devi yang juga seorang blogger dari Semarang, kami hendak melakukan sebuah project yang berkaitan dengan penginapan. Namanya where to sleep…

Mumpung dia main ke Purwokerto dan dapat tawaran spesial Hotel Santika , jadilah kami menginap di sana. Berhubung nanggung mau kegiatan di Taman Baca Kudi, kami pun menghubungi pihak hotel untuk check in lebih awal. Dan staff hotel dengan ramah dan cekatan membantu prosesnya, bahkan kamar sudah siap ketika kami sampai di hotel.

Kamar yang kami tempati waktu itu adalah Superior King Room With Balcony. Ruangannya cukup luas, kamar mandi lengkap dengan haidryer, dan yang jelas pagi hari bisa langsung menikmati sunrise dari balkon. Kalau tidak kesiangan bangunnya… 😀

Malam harinya kami (plus teman dari sosmed) diundang untuk acara Angkringan BBQ yang hanya ada setiap hari Sabtu, dari jam 18.00 – 21.00 WIB. Kebetulan nih travelmate saya rupanya hari ini ulang tahun, mendadak staff dan cheft hotel memberikan kejutan dengan membuatkan Omurice lengkap dengan namanya 🙂

Selesai BBQ saya memilih langsung beristirahat, setelah nyaris seharian berkegiatan hingga sore. Tidur dengan nyaman di Hotel Santika sampai terlambat buat menikmati sunrise. 😀 Dan yang paling ditunggu memang bagian sarapan! Nikmat mana lagi yang bisa dihindari coba, tidur pules, bangun langsung makan hehe…

Keramahan staff berasa sekali ketika menginap di sini. Bahkan sampai kami harus check out sekaligus untuk melanjutkan kegiatan ke rumah singgah. Jadi, mau banget kalau ada kesempatan untuk menginap di Hotel Santika Purwokerto lagi…

Sampai lupa kasih info, beberapa kamar yang bisa kita pilih ; Superior (IDR 520.000) Superior Balcony (IDR 546.000), Deluxe (IDR 624.000), Executive (IDR 832.000), Executive Suite (IDR 1.144.000), dan Santika Suite (IDR 1.456.000). Harga sewaktu-waktu bisa berubah, terutama weekend dan holidays season. Untuk update harga bisa kunjungi http://santika.com 

Ada rencana untuk ke Kota Purwokerto, masukkan hotel ini untuk menjadi pertimbangan tempat menginap kaliam yang nyaman dan berkesan 🙂

.

Hotel Santika Purwokerto
Jalan Gerilya Barat 30A, Purwokerto.
Telp : 0281 6578080
Email : reservation@purwokerto.santika.com

 

Jeguran (Mandi) Di Curug Belot Baturraden

Curug Belot

Curug Belot

Tulisan ini terlambat diposting, super telat bahkan. Membuka HD eksternal ternyata file foto Curug Belot yang selama ini dicari ketemu juga 🙂 . Bermula dari teman couchsurfing yang berasal dari Malaysia datang pada bulan Desember 2012 (astaga, sudah sangat telat yaah hehe) untuk keliling Pulau Jawa selama sebulan, dan Purwokerto menjadi salah satu tempat tujuan. Rachel, teman dari Malaysia itu pun diajak oleh Eva (host CS Purwokerto) dan Saya untuk keliling Purwokerto.

Hujan lebat waktu itu tak membuat kami mengurunkan niat untuk ke Baturraden, melihat pertunjukan wayang dalam rangka sedekah bumi. Lalu dini hari balik lagi ke Hotel Queen Garden yang ada di sisi timur Baturraden untuk menginap. Paginya Kami pun mengajak Rachel mandi langsung di alam terbuka, niat banget yah meski sudah nginap di hotel hehe 😀 . Curug Belot jadi tujuan karena selain sepi, juga tak begitu jauh karena masih satu lokasi di Baturraden.

Lokasi Curug Belot ada di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden. Rutenya : dari Purwokerto ke arah Baturraden, sampai di BRI Rempoah sebelah kanan jalan ada jalan kecil, ambil kanan, sekitar 100 meter dari jalan raya utama adalah tempat dimana biasanya menitipkan motor di rumah warga (rumahnya ada di sebelah kanan jalan, dengan halaman lumayan luas). Setelah itu jalan kaki (jalan setapak) ke bawah, harus hati-hati karena licin. Bila sudah sampai pertigaan yang ada jembatannya, ambil sisi kiri (jangan lewatin jembatan). Sedikit menyusur tepian sungai, lalu sampai di Curug Belot.

Kami bertiga pun akhirnya memilih jalan pintas (kebun warga) sewaktu melihat turunan jalan setapak dengan kemiringan 45 derajat yang licin karena masih ada sisa hujan semalaman dan banyak lumut. Berhubung masih pagi, Curug Belot jadi curug milik sendiri 😀 . Air terjun ini memiliki ketinggian yang lumayan, dengan air yang bening, dan super dingin.

menyusuri bebatuan... untuk naik ke atas lalu lompat :|

menyusuri bebatuan… untuk naik ke atas lalu lompat 😐

Rachel langsung turun untuk mencoba airnya disusul dengan Eva, Saya sendiri hanya menyaksikan mereka yang mandi dan berenang karena sudah mandi sewaktu subuh di hotel (alesan saja sih karena sebenarnya tidak bisa renang hehe). Tak berselang lama, beberapa anak kecil yang rumahnya tak jauh dari curug datang untuk jeguran (mandi) juga. Mereka bahkan dengan berani naik ke sisi bebatuan lalu lompat ke dalam air. Saya cuma bisa terbengong dari atas batu (^_^,).

entah nunjukin apa :D , kayaknya saking bingung mau apa karena  tidak ikut 'jeguran'

entah nunjukin apa 😀 , kayaknya saking bingung mau apa karena tidak ikut ‘jeguran’

Puas berenang dan membersihkan diri sampai tidak terasa hari sudah siang, ini bule kesenengen mandi di curug (v_v). Eva dan Saya akhirnya mengajak Rachel untuk mencoba es duren depan GOR Satria…

Wisata Curug Nangga

curug nangga 1

Rasanya belum ada hitungan satu bulan sejak Saya menuliskan tentang keindahan Curug Nangga untuk lomba blog. Responnya jauh dari perkiraan, ternyata banyak yang penasaran tentang lokasi air terjun Curug Nangga tersebut. Ada yang bertanya langsung, ada yang melalui email. Ada pula yang asal ‘comot’ mengambil info soal curug tersebut di blog ini tanpa ijin untuk sebuah koran, bahkan terkesan melakukan wawancara dengan Saya (-__-“). Kesal? Iya, karena yang melakukan hal tersebut adalah wartawan yang seharusnya tahu benar soal kode etik jurnalis.

Balik lagi soal wisata Curug Nangga. Kabar terakhir datang dari seorang teman, perangkat desa akhirnya menjadikan Curug Nangga sebagai tempat wisata. Tentunya Saya ikut senang, tak dipungkiri memang curugnya bagus dan mempunyai potensi untuk dijadikan wisata alam. Bahkan sempat mencapai 300 pengunjung pada hari minggu awal Maret kemarin (sewaktu Saya kesana bulan Februari bahkan masih sepi hampir seperti tak dilirik oleh orang). Jalan menuju curug pun sedang diperbaiki untuk mempermudah akses dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Sedikit hal yang disayangkan, coret – coret di batu sekitar curug malah dilakukan (semoga saja masukan yang sudah diberikan untuk menghilangkan cat segera dilakukan).

Untuk menuju lokasi Curug Nangga : dari Purwokerto ke barat (arah Bumiayu), setelah melewati Kecamatan Ajibarang nanti masuk Kecamatan Pekuncen, Desa Petahunan ada di sebelah kiri (masuk ke jalan desa dan melewati dua desa sebelum Desa Petahunan). Bisa dengan mobil atau motor sebagai alat transportasinya. Jika memakai kendaraan umum, dari terminal Purwokerto naik bus jurusan Bumiayu atau Tegal, turun di Pekuncen (pertigaan jalan desa yang menuju Desa Petahunan), lalu naik angkutan desa (angkudes) atau ojek.

Informasi mengenai Curug Nangga bisa diakses langsung dari facebook Desa Petahunan yang belum lama ini dibuat. Semoga saja dengan dijadikannya sebagai tempat wisata bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Petahunan khususnya. Tentunya harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjaga tempat tersebut agar tetap lestari. Take nothing but picture. Leave nothing but foot print. Kill nothing but time 😀