Jeguran (Mandi) Di Curug Belot Baturraden

Curug Belot

Curug Belot

Tulisan ini terlambat diposting, super telat bahkan. Membuka HD eksternal ternyata file foto Curug Belot yang selama ini dicari ketemu juga 🙂 . Bermula dari teman couchsurfing yang berasal dari Malaysia datang pada bulan Desember 2012 (astaga, sudah sangat telat yaah hehe) untuk keliling Pulau Jawa selama sebulan, dan Purwokerto menjadi salah satu tempat tujuan. Rachel, teman dari Malaysia itu pun diajak oleh Eva (host CS Purwokerto) dan Saya untuk keliling Purwokerto.

Hujan lebat waktu itu tak membuat kami mengurunkan niat untuk ke Baturraden, melihat pertunjukan wayang dalam rangka sedekah bumi. Lalu dini hari balik lagi ke Hotel Queen Garden yang ada di sisi timur Baturraden untuk menginap. Paginya Kami pun mengajak Rachel mandi langsung di alam terbuka, niat banget yah meski sudah nginap di hotel hehe 😀 . Curug Belot jadi tujuan karena selain sepi, juga tak begitu jauh karena masih satu lokasi di Baturraden.

Lokasi Curug Belot ada di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden. Rutenya : dari Purwokerto ke arah Baturraden, sampai di BRI Rempoah sebelah kanan jalan ada jalan kecil, ambil kanan, sekitar 100 meter dari jalan raya utama adalah tempat dimana biasanya menitipkan motor di rumah warga (rumahnya ada di sebelah kanan jalan, dengan halaman lumayan luas). Setelah itu jalan kaki (jalan setapak) ke bawah, harus hati-hati karena licin. Bila sudah sampai pertigaan yang ada jembatannya, ambil sisi kiri (jangan lewatin jembatan). Sedikit menyusur tepian sungai, lalu sampai di Curug Belot.

Kami bertiga pun akhirnya memilih jalan pintas (kebun warga) sewaktu melihat turunan jalan setapak dengan kemiringan 45 derajat yang licin karena masih ada sisa hujan semalaman dan banyak lumut. Berhubung masih pagi, Curug Belot jadi curug milik sendiri 😀 . Air terjun ini memiliki ketinggian yang lumayan, dengan air yang bening, dan super dingin.

menyusuri bebatuan... untuk naik ke atas lalu lompat :|

menyusuri bebatuan… untuk naik ke atas lalu lompat 😐

Rachel langsung turun untuk mencoba airnya disusul dengan Eva, Saya sendiri hanya menyaksikan mereka yang mandi dan berenang karena sudah mandi sewaktu subuh di hotel (alesan saja sih karena sebenarnya tidak bisa renang hehe). Tak berselang lama, beberapa anak kecil yang rumahnya tak jauh dari curug datang untuk jeguran (mandi) juga. Mereka bahkan dengan berani naik ke sisi bebatuan lalu lompat ke dalam air. Saya cuma bisa terbengong dari atas batu (^_^,).

entah nunjukin apa :D , kayaknya saking bingung mau apa karena  tidak ikut 'jeguran'

entah nunjukin apa 😀 , kayaknya saking bingung mau apa karena tidak ikut ‘jeguran’

Puas berenang dan membersihkan diri sampai tidak terasa hari sudah siang, ini bule kesenengen mandi di curug (v_v). Eva dan Saya akhirnya mengajak Rachel untuk mencoba es duren depan GOR Satria…

Iklan

Wisata Curug Nangga

curug nangga 1

Rasanya belum ada hitungan satu bulan sejak Saya menuliskan tentang keindahan Curug Nangga untuk lomba blog. Responnya jauh dari perkiraan, ternyata banyak yang penasaran tentang lokasi air terjun Curug Nangga tersebut. Ada yang bertanya langsung, ada yang melalui email. Ada pula yang asal ‘comot’ mengambil info soal curug tersebut di blog ini tanpa ijin untuk sebuah koran, bahkan terkesan melakukan wawancara dengan Saya (-__-“). Kesal? Iya, karena yang melakukan hal tersebut adalah wartawan yang seharusnya tahu benar soal kode etik jurnalis.

Balik lagi soal wisata Curug Nangga. Kabar terakhir datang dari seorang teman, perangkat desa akhirnya menjadikan Curug Nangga sebagai tempat wisata. Tentunya Saya ikut senang, tak dipungkiri memang curugnya bagus dan mempunyai potensi untuk dijadikan wisata alam. Bahkan sempat mencapai 300 pengunjung pada hari minggu awal Maret kemarin (sewaktu Saya kesana bulan Februari bahkan masih sepi hampir seperti tak dilirik oleh orang). Jalan menuju curug pun sedang diperbaiki untuk mempermudah akses dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Sedikit hal yang disayangkan, coret – coret di batu sekitar curug malah dilakukan (semoga saja masukan yang sudah diberikan untuk menghilangkan cat segera dilakukan).

Untuk menuju lokasi Curug Nangga : dari Purwokerto ke barat (arah Bumiayu), setelah melewati Kecamatan Ajibarang nanti masuk Kecamatan Pekuncen, Desa Petahunan ada di sebelah kiri (masuk ke jalan desa dan melewati dua desa sebelum Desa Petahunan). Bisa dengan mobil atau motor sebagai alat transportasinya. Jika memakai kendaraan umum, dari terminal Purwokerto naik bus jurusan Bumiayu atau Tegal, turun di Pekuncen (pertigaan jalan desa yang menuju Desa Petahunan), lalu naik angkutan desa (angkudes) atau ojek.

Informasi mengenai Curug Nangga bisa diakses langsung dari facebook Desa Petahunan yang belum lama ini dibuat. Semoga saja dengan dijadikannya sebagai tempat wisata bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Petahunan khususnya. Tentunya harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjaga tempat tersebut agar tetap lestari. Take nothing but picture. Leave nothing but foot print. Kill nothing but time 😀

Taman Payung Di Terminal Bulu Pitu Purwokerto

Taman Bulu Pitu PWT

Purwokerto rupanya tak mau ketinggalan dengan daerah lainnya, berbenah dengan mengatur tata ruang terutama untuk publik. Merenovasi alun – alun dengan memberikan tambahan air mancur dan air minum bagi pengunjung tersebut menelan dana hampir 1,5 M. Hasilnya, hampir setiap sore hingga malam ramai pengunjung alun – alun yang biasanya lebih ramai hanya pada hari Sabtu malam dan saat liburan saja *foto menyusul, belum kesampaian buat foto air mancur di alun – alun 😦

Taman Lalu Lintas Anak Bangsa PWT

Selain itu juga beberapa ruas jalan diberikan lampu warna – warni yang dililitkan pada pohon di pinggir jalan, taman kota di Jalan Ahmad Yani (utara alun – alun) dan yang dekat bundaran RSUD Margono pun makin nyaman untuk dikunjungi. Air mancur di Bundaran Berkoh juga dipercantik dengan memberikan lampu. Penambahan gardu pandang dan saung di Taman Balai Kemambang. Dan adanya Taman Lalu Lintas Anak Bangsa (masih dalam proses) juga Taman Payung di Terminal Bulu Pitu Purwokerto.

Taman bermain di terminal Pwt

Beberapa kali bahkan menjumpai serombongan pick up yang membawa anak kecil pada sore hari, sengaja untuk bermain di Terminal Bulu Pitu. Keberadaan taman ini makin memanjakan bagi para pengguna angkutan umum baik yang hendak berangkat ataupun yang baru datang di Purwokerto. Di dalam terminal juga disewakan kereta mini yang bisa dinaiki oleh empat penumpang yang bisa dibawa berkeliling.

Taman Payung Pwt

Taman Payungnya meski hanya menempati sepetak kecil dari taman terminal, yah lumayanlah buat yang hobi untuk mencari spot memotret hehe. Sekedar info lampu taman dan payungnya dinyalakan mulai jam 19.00 wib, itupun hanya dinyalakan beberapa jam saja. Sama halnya dengan air mancur yang ada di alun – alun, biasanya jam 22.00 wib sudah dimatikan.

Taman Payung Bulu Pitu Purwokerto

Apakah nanti kalau Taman Lalu Lintas Anak Bangsa sudah jadi akan diberlakukan tarif masuk seperti Taman Balai Kemambang dan Taman Andang Pangrenan? Entahlah… yang jelas untuk sementara ini, kalau ingin menikmati sore hari dan lampu Taman Payung masih free, hanya dikenakan tarif parkir kendaraan saja. Jangan lupa jaga kebersihan kemana pun Kita pergi sob… 🙂

Curug Putri Hingga Curug Moprok

Sabtu, 14 Februari 2015.

Pernah melakukan jelajah lima curug dalam sehari? Diantara kelima tersebut memang hanya satu yang trekkingnya lumayan menguras tenaga karena harus berjalan menyusuri sungai sepanjang kurang lebih 150 meter. Tempat yang dijelajah antara lain Curug Putri, Telaga bening (ada curugnya, namun kecil), Curug Bayan, Curug Tak Bernama (gara – gara nyasar sewaktu menuju Curug Moprok), dan Curug Moprok. Masing – masing curug tidak terlalu jauh lokasinya ; Baturraden Adventure Forest, Desa Ketenger, dan Desa Karang Salam. Semuanya masih di wilayah Kecamatan Baturraden.

Curug Putri - Baturraden Adventure Forest

Curug Putri – Baturraden Adventure Forest

telaga bening di baturraden adventure forest

Telaga Bening – Baturraden Adventure Forest

Curug Bayan - Desa Ketenger

Curug Bayan – Desa Ketenger

Curug apa ya kira-kira, Desa Karang Salam

Curug apa ya kira-kira, Desa Karang Salam

Curug Moprok - Desa Karang Salam

Curug Moprok – Desa Karang Salam

Untuk menuju curug yang terakhir dengan susur sungai dan bebatuan yang licin, plus bonus pacet 😀 . Meski Curug Moprok memiliki ketinggian sekitar delapanpuluh meter lebih, tapi aliran airnya memang kecil. Dan sepanjang sungai tersebut Kita akan dibuat takjub dengan beningnya air dan ikan kecil – kecil yang dapat Kita lihat. Beberapa tempat malah seperti telaga (meski di aliran sungainya), dan bisa untuk berenang. Sayang beribu sayang, ada bekas dus brownies Amanda yang ditinggal pengunjung sebelum Kami di dekat Curug Moprok.

Sore hampir habis, waktunya kembali pulang  🙂  dan menuju openingnya Society Coffee House.

 

Menjelajah Kecantikan Curug Nangga Yang Tersembunyi

curug nangga 1

Curug Nangga

Jika di Bandung ada Curug Malela maka di Banyumas ada Curug Nangga yang terletak di Kecamatan Pekuncen, wilayah barat Kabupaten Banyumas. Curug Nangga, demikian masyarakat setempat menyebutnya, memiliki keistimewaan tujuh undakan atau tingkatan curug.

Berbekal informasi dari salah seorang teman yang kebetulan wartawan koran lokal, Saya, Apris, dan Bang Jaja akhirnya memilih mengunjungi curug ini terlebih dahulu dan menunda jelajah curug di wilayah Banyumas bagian selatan. Rute yang super sekali, kenapa Saya bilang super? Karena setelah masuk jalan menuju desa, ada jalan yang super nanjak, dan itu tidak hanya sekali. Setelah jalan beraspal habis, kita juga harus melewati jalan dengan aspal rusak dan juga jalan berbatu yang menurun tajam. Saya bahkan lebih memilih jalan kaki karena merasa ngeri sendiri.

(salah satu) jalan berbatu menuju curug

(salah satu) jalan berbatu menuju curug

Perjalanan sempat terhenti karena gerimis, Kami pun singgah di warung sembari minum kopi, dan berbincang dengan pemilik warung. Kami bahkan makin antusias karena sang pemilik warung memberi tahu beberapa lokasi curug lainnya yang bisa Kami kunjungi kapan-kapan. Gerimis terhenti, Kami pun tak membuang-buang waktu untuk melanjutkan perjalanan. Sampai di jembatan mengambil jalan kecil hingga mentok, Kami menitipkan motor ke warga setempat dan melanjutkannya dengan jalan kaki.

Curug Nangga sisi paling atas terlihat dari kejauhan

Curug Nangga sisi paling atas terlihat dari kejauhan

Berjalan kaki sekitar setengah kilometer melewati perkebunan, dan pematang sawah milik penduduk setempat. Hamparan sawah di seberang tertata apik dan menyuguhkan pemandangan yang tak kalah indahnya dengan terasering yang ada di Tabanan, Bali. Sedangkan jalan yang kami lalui waktu itu baru musim tanam padi. Suara air mulai terdengar dan membuat langkah Kami makin bersemangat menyusuri sawah. Dan curug paling atas mulai nampak dari kejauhan…

Curug Nangga paling atas

Curug Nangga sisi paling atas

jangan lihat bawah...jangan lihat bawah (v__v)

jangan lihat bawah…jangan lihat bawah (v__v)

Hempasan angin dari curug paling atas yang begitu kuat membuat pakaian basah. Kami pun memilih langsung menuju curug paling bawah. Dan untuk menuju kesana, Kami harus jalan menyusur lewat jalan kecil nan licin, dan menyebrang di salah satu undakan curugnya. Jalan di atas arus yang lumayan deras membuat was-was jika sampai jatuh, Saya bahkan tidak berani melihat ke bawah.

Jika dilihat dari bawah, secara keseluruhan ketujuh tingkatan curug terlihat pendek meski sebenarnya empat tingkatan lumayan tinggi. Bahkan jika ditotal ketinggiannya sekitar seratus meter lebih. Beberapa kali mencoba mengambil foto dengan teknik agar airnya terlihat seperti salju gagal 😦 jadi mengambil foto apa adanya dengan hp butut :D.

Siapa akan menyangka, di lembah perbukitan wilayah Banyumas bagian barat menyimpan curug atau air terjun cantik semacam ini. Sepertinya tempat ini benar-benar membius Kami bertiga, terutama Apris yang akhirnya tidak bisa menahan diri untuk mandi *sebenarnya sih gara-gara Apris yang belum mandi hehe. Menyempatkan bikin kopi dan spageti untuk makan siang, sungguh kenikmatan tiada tara *lapar pakai banget 🙂 .

Ngopi dulu...

Ngopi dulu…

Menjelang sore, langit mulai mendung seakan memberi peringatan bahwa sudah saatnya untuk pulang. Dan Saya pun tak ingin terjebak hujan ketika berada di jalan yang super ngeri tadi (-__-,). Apalagi perjalanan pulang ke Purwokerto butuh waktu sekitar satu setengah jam. Jalajah menyusuri 1000 mata air masih berlanjut, suatu kebanggaan bagi Saya bisa menikmatinya \(^_^)/

Menjaga kelestariannya adalah tanggung jawab Kita. Take nothing but picture. Leave nothing but foot print. Kill nothing but time 😀

.

*Lanjutan : Wisata Curug Nangga

1 Banner Jan-Feb 2015

Jelajah Curug Kelingseng Dan Curug Gede Di Kota 1000 Mata Air

1 Banner Jan-Feb 2015

Persahabatan kami terjalin bermula dari hobi yang sama, suka menjelajah alam, kemping, dan melakukan kegiatan sosial bersama dalam komunitas. Kesempatan untuk mbolang biasanya dilakukan setiap akhir pekan atau sewaktu libur nasional.

Entah sudah berapa minggu terakhir ini saya dan teman – teman menjelajah satu demi satu curug atau air terjun yang ada di wilayah lereng Gunung Slamet. Kami percaya bahwa wilayah Banyumas memiliki banyak sekali sumber mata air, entah berupa curug, umbul, atau telaga yang menawan. Berbekal informasi yang minim, kami pun mencari lokasi curug yang dimaksud. Terkadang harus berulang kali menanyakan jalan dan sering pula salah mengambil jalan.

Sabtu malam ajakan mendadak untuk kemping rasanya sulit sekali untuk ditolak. Sudah hampir sebulan belum membuka dome meski hampir setiap hari minggu pergi bareng untuk mencari air terjun. Hujan baru berhenti ketika kami berangkat menuju kebun cengkeh di Ketenger, Baturraden (kami biasanya menyebutnya cengkehan), lokasi kemping dengan pemandangan Kota Purwokerto yang eksotis. Sayang sekali malam itu gerimis kembali datang, memaksa kami menghabiskan waktu dengan hanya bermain kartu 🙂 .

Curug Kelingseng dari jauh

Minggu pagi selepas sarapan langsung membereskan perlengkapan, karena kami hendak melanjutkan untuk jelajah menyusuri Curug Gede. Kebanyakan orang memilih mengunjungi Curug Bayan yang lokasinya tidak jauh dari Curug Gede, selain lebih mudah diakses juga karena di Curug Bayan memang sudah dijadikan sebagai tempat wisata alam.

jelajah 1000 mata air

jelajah 1000 mata air_1

Lokasi Curug Gede ada di bawah Curug Bayan dan DAM Jepang, namun karena jarang orang melintas akhirnya akses yang tadinya ada pun sudah tertutup ilalang, bahkan kami harus membuka jalan baru *berasa melintasi hutan (>.<) . Sampai di jalanan yang menurun, terlihat Curug Gede ada di sisi sebelah kiri, sedangkan sebelah kanan terdapat curug yang oleh warga setempat dinamakan Curug Kelingseng. Sewaktu beberapa tahun yang lalu survey Curug Gede, saya masih ingat aliran air Curug Kelingseng tidak sebesar sekarang. Akhirnya kami sepakat untuk menjelajah Curug Kelingseng sebelum Curug Gede.

menyusur sungai menuju curug kelingseng

Untuk menuju ke curug tersebut kami harus menyebrangi sungai dengan bebatuan yang licin dan beberapa tempat dengan air yang dalam. Dua teman kami bahkan terpeleset sewaktu melintas sungai. Dan benar – benar butuh perjuangan rasanya untuk sampai ke Curug Kelingseng :D.

Curug Kelingseng

Curug Kelingseng memilliki ketinggian sekitar duabelas meter, airnya cukup besar sehingga anginnya juga lumayan kencang, efek dari hempasan air terjun. Jadi meskipun tidak berniat basah – basahan, kami semua tetap basah kuyup. Di curug ini tidak ada tempat agar bisa terhindar dari angin dan air, jadi kami pun memutuskan untuk menyudahi dan melanjutkan ke Curug Gede dengan menyusuri sungai biar lebih cepat.

menyusur sungai

Orang seringkali salah menyebut Curug Bayan dengan Curug Gede, beberapa blog pun terlanjur menuliskannya demikian (-__-). Ketinggian Curug Gede sekitar delapanbelas meter, dengan kolam dalam, berwana hijau lumut yang melingkar di bawahnya dan dikelilingi bebatuan. Sebagian dari kami memilih berenang, dan berhubung tidak bisa renang saya memilih memasak di salah satu batu. Pemandangan lain yang bisa kita nikmati adalah banyaknya kawanan monyet di sisi atas curug atau air terjun. Nampak kawanan monyet bergelantungan dari satu dahan ke dahan lainnya.

Curug Gede

Hari makin siang dan langit mulai menggelap, puas menikmati dua curug kami pun segera beranjak. Pulang di bawah rintik hujan. Masing – masing dari kami membawa cerita untuk perjalanan kami, menyusuri salah satu dari jelajah seribu mata air di Banyumas. Tak sabar menunggu minggu depan untuk jelajah curug di wilayah selatan Banyumas 😀 .

PS : Thanks buat teman perjalanan Apris, Uwie, Isty, Alfri, Muis, Ecca dan temannya.

Gara-Gara Kunci Motor

Bermula dari ajakan Mas Reno (pemilik Loja De Cafe) untuk ngopi dan santai ria di Bukit Poh di daerah Limpakuwus, Sumbang. Petang itu sekitar jam dua kurang sedikit start dari Loja, melewati Kotayasa dan peternakan sapi akhirnya sampai juga. Hanya butuh jalan kaki sepuluh menit melewati ladang rumput gajah (pakan sapi) akhirnya sampai di hutan pinus.

Pemandangan dari sini memang luar biasa. Selain asri, sejuk, tempat keren buat camping, dan kalau malam hari bonus pemandangan lampu kota Purwokerto sampai Purbalingga terlihat. Baru saja duduk hendak membaca buku 1Q84 yang saya bawa dari rumah, tiba-tiba saja terdengar suara (tadinya saya pikir suara angin tapi kok aneh) dari bawah. Dengan sigap berdiri dan terbengong-bengong karena dari lokasi kami bisa dilihat hujan besar di daerah bawah dan sepertinya menuju ke tempat kami berada.

Karena lupa membawa flysheet, kami akhirnya memilih berteduh di sebuah ‘gubug’ kecil tempat kami menaruh motor. Memasang hammock di tiang dan membuat kopi dengan trangia di sela-sela hujan, juga ngobrol ngalor-ngodul soal berbagai hal. Hujan reda, dan memutuskan untuk turun. Dan…… kunci motor entah dimana (-__-“). Setelah mencari di tas tidak ketemu, akhirnya saya naik lagi ke hutan pinus meski rupanya hujan datang lagi, ppffff…

Oke, di hutan pinus pun tidak ada meski bolak-balik kesana untuk memastikkan. Masalahnya saya LUPA setelah mengambil mantel, apakah kunci motor langsung saya ambil atau malah saya ambil lalu ditaruh di bagasi motor *pernah beberapa kali tragedi lupa naruh kunci di bagasi lalu dengan santai menutup jok belakang (>__<). Dengan berbagai akal kami mencoba membuka jok motor dan mengintip isi bagasi. Salah satu garpu makan akhirnya jadi korban demi membuka baut , si kunci pun tetap tak terlihat…

Mas Reno masih berfikir si kunci di bagasi motor, dan saya mengira sewaktu lupa ambil kunci ada orang yang kemudian mengambilnya. Bahkan saya harus berjalan jauh ke peternakan sapi, dan mencoba meminta bantuan karyawan peternakan. Hujan berhenti hujan berhenti entah sampai berapa kali. Mencoba menikmati pemandangan lampu kota yang memang bagus sekali meski sebenarnya mulai gelisah karena saya ada janji untuk mengantar saudara ke stasiun (.__.). Akhirnya bantuan datang, Aan dan tukang kunci. Jam tujuh malam akhirnya turun, kembali ke Loja…

.

PS :

Kebiasaan saya yang memang pelupa kali ini benar-benar bikin susah. Tidak bisa mengingat dimana harus mengingat hal penting itu bencana… Kenapa malah ada orang yang ingin menjadi pelupa 😦

Pic Bukit Poh :

bukit poh 2

bukit poh - ladang rumput gajah

bukit poh limpakuwus

bukit poh