Rindu Kampung Halaman? Yuk Cobain RM. Ayam Kaleo Di Urai Bawadi Pontianak,

Cerita perjalanan ke Kalimantan Barat memang tak ada habisnya. Dari sekian banyak hal, makanan adalah salah satu kendala tersendiri buat saya, entah kenapa susah adaptasi (-_-“). Ketika waktunya mencari makanan yang cocok di lidah seringkali membuat bingung harus menentukan makan dimana. Beberapa kali mencoba tempat dan ternyata rasanya mengecewakan (menurut lidah saya) membuat sedikit jera. Akhirnya ujung-ujungnya pilihan jatuh ke fast food 😀 .

ayam kaleo pontianak

Sampai akhirnya seorang teman dari Semarang yang sudah tinggal di Pontianak cukup lama menyarankan untuk mencoba Ayam Kaleo. Kebetulan lokasi RM. Ayam Kaleo di Jalan Urai Bawadi Pontianak ini dekat dengan tempat tinggal  Joyz Fernando sama Vitree Ndut. Saya pun mengajak @JannahtiBela untuk kesana.

Me, Bela, Vitre, dan Joyz

Me, Bela, Vitre, dan Joyz

Begitu masuk ke dalam, kita akan disambut waiter atau waitress yang ramah. Interiornya didominasi oleh bambu dan ornamen lampu hias dengan tokoh wayang. Ada dua pilihan tempat : lesehan atau duduk di kursi. Pertama kesana mencoba yang lesehan dan kali kedua mencoba yang duduk di kursi. Fasilitas yang tersedia : tempat parkir luas, kamar mandi, mushola, dan wifi.

Menu makanan yang tersedia antara lain : ayam kaleo rempah, ayam bakar / goreng, iga bakar, ikan goreng, ikan pepes, soto, soup, rawon, empal, garang asem, nasi goreng, mie goreng, sayur asem, cah kangkung / genjer/ pakis, pecel, dan gorengan. Tersedia juga menu paket dengan harga yang bervariatif. Sedangkan pilihan minumannya pun cukup banyak : es teh, es jeruk, juice, soft drink, es tape, es kelapa muda, es lidah buaya, es cincau, es cendol, soup buah, milo, dan kopi.

Pertama kali nyobain masakannya langsung keingat kampung halaman, rasanya bener-bener Jawa deh pokoknya hehe… Hmm, ketemu juga tempat makan yang cocok sama lidah saya. Poin plusnya, selain tempatnya bersih, rapi, pelayanan baik, pengunjung tidak perlu menunggu lama pesanan minumnya. Setidaknya sambil menunggu makanannya datang, kita bisa ‘nyruput’ minuman kita hehe… Sayangnya tempat ini lumayan jauh dari tempat tinggal @JannahtiBela.

Untuk yang bagian belakang tempatnya memang sengaja diseting agak gelap karena mejanya disediakan lilin. Wuiidiiih, candle light dinner ceritanya 🙂 . Nah buat para perantau yang ada di Pontianak kalau kangen sama masakan rumah di Jawa, tidak ada salahnya mencoba Ayam Kaleo. Dijamin kangennya terobati…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

PS: tempat makan ini juga menerima pesan antar atau sewa tempat untuk acara. nomor telepon yang bisa dihubungi : (0561) 570 576 atau 0821 5705 5535

Iklan

Berburu Kuliner Khas Ramadhan di Pontianak – Sotong Pangkong

Salah satu alasan kenapa bela-belain puasa di Pontianak adalah ingin mencoba kuliner khasnya. Sotong pangkong namanya, konon makanan ini hanya ada waktu bulan ramadhan dan hari-hari tertentu saja. Jadi sepulang dari Pulau Kabung sore harinya saya dan @JannahtiBela menuju Jalan Merdeka yang memang pusatnya penjual sotong pangkong *pakai acara salah jalan pula (-__-).

Sepanjang Jalan Merdeka di kanan-kiri banyak sekali penjual sotong pangkong. Bingung juga kami memilih, akhirnya mencoba di WR. Samudra Ria – Jalan Merdeka no. 577 telepon (0561) 769461. Lokasinya di seberang masjid menjadi pilihan biar sholat maghrib dan tarawihnya mudah.

sotong pangkong

Apa itu sotong pangkong? Menurut info (di internet tentunya) : sotong atau cumi yang dikeringkan, lalu dibakar, dan dipukul-pukul (pangkong) dengan alat pemukul untuk menghasilkan sotong yang gurih. Tapi di warung makan yang kami coba, sotongnya sudah dipukul-pukul barulah dibakar 🙂 . Sotong yang sudah dibakar disajikan dengan dua kuah bumbu kacang dan kuah ebi.

sotong pangkong khas pontianak

sotong pangkong pontianak

Sekilas kuah bumbu kacangnya rasanya mirip bumbu pecel Madiun hehe… Kalau yang kuah ebi rasanya mirip kuahnya pempek Palembang. Saya lebih suka yang kuah bumbu kacang dan  @JannahtiBela lebih menyukai yang kuah ebi. Rasanya lumayan unik di lidah. Harganya bervariasi tergantung ukuran sotongnya, mulai dari IDR 20.000 – 25.000. Untuk menemani sotong pangkong, cocoknya dengan es lidah buaya yang khas Pontianak juga.

es lidah buaya

.

PS :

Selama di Pontianak susah sekali membuat lidah saya cocok dengan masakan yang dijual di warung atau rumah makan sana 😦  . Tapi ada satu rumah makan yang saya yakin orang Jawa bakal cocok kalau makan di sana, tunggu ulasannya dicatatan selanjutnya hehe….

Menikmati Sahur Pertama Bersama Penduduk Pulau Kabung, Bengkayang

Satu hal yang ingin saya lakukan selama jelajah di Kalimantan Barat, bisa camping di Bukit Kelam di Sintang atau menyebrang ke salah satu pulaunya. Namun informasi soal jalan menuju Bukit Kelam yang memakan waktu lama, jauh plus kondisi jalan rusak parah akhirnya menyurutkan keinginan itu, jadilah pilihan terbaik ke Pulau Kabung. 

Hampir semua orang rata-rata menyarankan kami menyebrang lewat Teluk Suak (Bengkayang), tapi setelah kesana ternyata tidak ada penyebrangan. Kami pun disarankan ke Pantai Samudra Indah, beruntung kami dipertemukan oleh Bang Yudi yang tinggal di sekitar Samudra Indah. Keberangkatan ke Pulau Kabung pun sempat saya tunda sepekan 😀

Kenapa bukan Pulau Randayan dan Pulau Lemukutan yang jauh lebih tersohor? Nah, kalau ke Pulau Randayan dari informasi yang didapat, misal naik perahu kelotok minimal delapan orang atau sepuluh orang, sistemnya semacam paket sekalian dengan penginapan, dsb… *yang jelas terlalu berat diongkos buat saya sendiri dan @JannahtiBela yang kepengin piknik ala backpacker 😦  . Dan kalau Pulau Lemukutan entah kenapa tidak minat saja 😀 . Aslinya siiih karena obrolan @JannahtiBela dengan penjual sekitar pantai, makanya penasaran dengan Pulau Kabung… *memang ngobrol apa saja? wah jangan tanya saya kalau soal itu 😀

Menikmati sahur pertama di Pulau Kabung.

Rencana berangkat dini hari biar ikut penyebrangan pagi pun ditunda karena sesuatu hal, jadilah kami menyebrang ke Pulau Kabung ikut jam 14.00 (biasanya ada dua kali sehari jadwal penyebrangan jam 07.00 dan jam 14.00). Masuk ke lokasi Pantai Samudra Indah membayar tiket IDR 10.000 per orang, penitipan motor IDR 5.000 per hari (kemarin dihitung dua hari). Sambil menunggu kapal kelotok berangkat, kami habiskan untuk beristirahat dan menikmati Pantai Samudra Indah.

Pantai Samudra Indah diambil dari kapal klotok :)

Pantai Samudra Indah diambil dari kapal kelotok 🙂

Pemilik kapal kelotok Pak Anton yang ternyata Pak RT di Pulau Kabung *kebetulan sekali soalnya niatnya juga menemui Bu RT  😀 😀 😀 . Anaknya yang menjadi asisten di kapal namanya Bang Dito, yang nantinya bakal jadi guide selama di pulau. Perjalanan ke Pulau Kabung sekitar satu jam, siang itu ombak lumayan besar (sedikit bikin pusing saya, Alhamdulillah tidak sampai mabuk laut).

sampai juga di dermaga Pulau Kabung :)

sampai juga di dermaga Pulau Kabung 🙂

dermaga Pulau Kabung...

dermaga Pulau Kabung…

bagan...

bagan. di sana banyak sekali bagan lho…

Sampai di pulau jam 13.00 kami diperkenalkan sama Bu Kartini (istrinya Pak Anton), sedangkan Bang Dito sibuk siapin kamar buat kita bermalam disana. Dan begitu kamar siap @JannahtiBela langsung istirahat *asli deh ini anak cuman pindah tidur doang dari Pontianak. Sekitar jam 16.00 Bang Dito ngajak saya ke tebing buat lihat sunrise. Iya cuman berdua karena @JannahtiBela masih memilih tidur  (v__v). Sepanjang jalan saya diperkenalkan dengan penduduk setempat yang ramah (kebanyakan penduduk pulau adalah orang Bugis, Melayu, dan Jawa). Sekitar 300 meter dari rumah singgah, menyusuri tepi pantai yang berbatu saya dan Bang Dito menuju bebatuan yang paling besar.

Rumah singgah kami di Pulau Kabung

Rumah singgah kami di Pulau Kabung

ini view dari jendela atau teras rumah singgah di Pulau Kabung *apiiikkeee...

ini view dari jendela atau teras rumah singgah di Pulau Kabung *apiiikkeee…

duduk di bebatuan tebing, menikmati sunset...

duduk di bebatuan tebing, menikmati sunset…

menunggu sunset...

sunset…

sunset...

sunset…

Ada cerita lucu sewaktu sampai di rumah singgah lagi, ketika hendak mandi kami ditanya apa kami membawa kain? usut punya usut disana biasanya yang perempuan kalau mandi memakai kain, kami pun bingung karena tidak bawa. Meski di luar mulai gelap, kami tak cukup berani buat mandi ‘tanpa kain’ *takut kalau ada yang rekam adegan mandi haha… Jadilah kami (saling) keramas, cuci muka, cuci kaki, dan gosok gigi secara bergantian 😀 😀 😀 *ah, padahal airnya begitu jernih dan segar (keinget lagi air Pontianak yang keruh dan hangat 😐 )

Malamnya kami sudah diwanti-wanti sama Bang Dito, barangkali lampu mati tiba-tiba. Iya disana tidak ada listrik, bagi yang memiliki mesin diesel mungkin lumayan bisa menikmati lampu jika malam hari tiba. Malam itu spesial, lampu milik Pak RT nyala hingga pagi. Warga sekitar rumah Pak RT banyak yang datang untuk melihat pertandingan bola piala dunia.

Untuk makan, hampir bekal yang dibawa nyaris tidak disentuh karena kami disuruh makan di rumah Bang Dito. Saya dan @JannahtiBela pun gagal tarawih pertama gara-gara dikerjain Bang Dito (-__-“), malah diajakin duduk santai di pinggiran sambil api unggunan dan dengerin cerita Bang Dito soal Pulau Kabung (baca : cuhatnya Bang Dito ^^v) *berhubung tidak ada ikan yang dibakar, kami dipetikin mangga...

Langit malam hari nampak lebih keren, begitu juga hamparan laut. Beberapa bagan nampak ada lampunya, yang berarti ada nelayan yang mencoba mencari peruntungan menangkap ikan 🙂 . Dari cerita Bang Dito, saya sebenarnya penasaran ingin ke bagan malam hari sayanngnya disaranin bulan September pas musim ikan.

bagan terlihat malam hari

bagan terlihat malam hari

api unggun, tanpa bakar ikan :|

api unggun, tanpa bakar ikan 😐

Malam itu kami tidur agak awal karena takut kesiangan untuk sahur pertama. Rupanya meleset, alarm kami belum bunyi Bang Dito sudah gedor-gedor pintu buat ajakin kami sahur bareng di rumahnya hehe… Parahnya lagi @JannahtiBela yang masih ngantuk aka susah dibangunin minta diwakilin sahurnya (-__-“). Hadulaaa… Setelah diancam ditinggal di pulau kalau tidak mau sahur, barulah gerak haha…

Kami sengaja ikut penyebrangan pagi biar tidak kepanasan sewaktu kembali ke Pontianak (kalau dari pulau jadwal penyebrangannya setiap jam 06.00 dan jam 12.00). FYI saja yah, buat para pecinta snorkling atau diving Pulau Kabung itu surganya lho, jika ombak tidak besar cukup melihat dari atas kelotok, pinggiran pantai atau dermaga saja sudah bisa menikmati keindahan terumbu karang dan ikannya >__< *sayangnya kami kesana musim ombak besar, tapi lumayan kelihatan kok 😀

penampakan kalau air laut tenang, kita bisa lihat terumbu karang sepuasnya di Pulau Kabung tanpa perlu renang (sumber : http://borneowisata.blogspot.com/2013/08/kabung-island.html )

penampakan kalau air laut tenang, kita bisa lihat terumbu karang sepuasnya di Pulau Kabung tanpa perlu renang (sumber : http://borneowisata.blogspot.com/2013/08/kabung-island.html )

Berpamitan sama Ibu Kartini sebelum pulang, sayang banget cuma bisa satu malam. Dan berhubung masih pagi, kami menikmati sunrise di atas kelotok yang menjadi salah satu pengalaman baru bagi saya 😀 .

photo dulu sama Ibu Kartini dan Pak Anton :)

photo dulu sama Ibu Kartini dan Pak Anton 🙂

sunrise Pulau Kabung dari dermaga

sunrise Pulau Kabung dari dermaga

sunrise Pulau Kabung diambil dari atas klotok

sunrise Pulau Kabung diambil dari atas kelotok

pulau kabung - sunrise 3

sebenarnya buat photo disini (ujung kelotok) saya takuuuttt hehe…

Keindahan Pulau Kabung terbayarkan, Tuhan memang Maha Cantik. Rasanya kalau suruh balik ke sini saya mau sekali. Sayangnya jauh nian dari tempat saya tinggal di Purwokerto – Banyumas – Jawa Tengah 🙂

.

PS :

  • Thanks buat Bang Yudi, Bang Dito, dan Pak Anton sekeluarga.
  • Dari Pantai Samudra Indah bisa memakai kapal kelotok untuk menyebrang ke Pulau Kabung, Pulau Randayan, dan Pulau Lemukutan. Yang tahu soal jadwal lengkap namanya Bang Yudi, CP : 081345129452
  • Btw, Pak Anton dan Bang Dito juga menerima jika ada yang mau sewa keliling Pulau Kabung, Pulau Randayan, dan Pulau Lemukutan. Sayangnya yang pegang CP-nya @JannahtiBela

Camping di Pantai Pasir Pendek, Singkawang

Pantai Pasir Pendek

Tak jauh dari Pantai Pasir Panjang, terdapat kompleks Pantai Tanjung Bajau. Info soal tempat ini diperoleh sewaktu  mengobrol asik dengan penjual minuman. Meski sempat kesasar karena mengambil jalan pintas yang salah, akhirnya ketemu juga. Membayar tiket masuk IDR 20.000 per orang, biasanya sama petugas akan ditanya apakah mau tiket terusan ke beberapa lokasi atau tidak. Setelah membaca di blog rupanya (komplek) Pantai Tanjung Bajau adalah pantai penghubung Pantai Pasir Panjang dengan Sinka Zoo, Pantai Pasir Pendek, dan Bukit Rindu Alam.

pantai pasir pendek singkawang

Melewati Sinka Zoo yang saat itu rupanya sedang dilakukan renovasi, penambahan wahana baru. Lalu sampailah di Pantai Pasir Pendek. Dinamakan seperti itu karena pantainya yang hanya memiliki panjang sekitar 100 meter yang berbentuk teluk. Di pantai ini, sudah dilengkapi beberapa gazebo yang disediakan untuk beristirahat (kalau disini gratis hehe), dan ada juga kamar mandi yang airnya jernih plus seger banget (biasa di Pontianak lihat air keruh, jadi pas disini puas-puasin mandi). Yang asik lagi di pantai ini disediakan stop kontak (letaknya di pohon depan kamar mandi), yang benar-benar menyelamatkan jika HP lowbat \(^_^)/. Penjual disini biasanya menggunakan motor dan berjualan hingga dini hari.

Begitu sampai kami memutuskan menyusur Pantai Pasir Pendek yang berada di kaki bukit Rindu Alam, melewati bebatuan dan tiba di sisi lainnya yang lebih sering menjadi tempat favorit para pemancing. Cuaca yang sangat panas membuat kami kelelahan, rencana mendirikan dome untuk istirahat pun diurungkan karena tiba-tiba menemukan tempat istirahat yang sengaja dibuat di bawah pohon. Dan anginnya yang semilir pun akhirnya membuat  tertidur nyenyak hampir satu jam. Saya sendiri meski ngantuk lebih memilih terjaga dan menikmati pantai yang didominasi bebatuan.

pantai pasir pendek singkawang 3

pantai pasir pendek 2

Sebelum kembali ke Pantai Pasir Pendek, menyempatkan makan dan mengabadikan sunset sore itu *yang ngambil photo Bela, saya sendiri keasyikan masak (v__v)

sunset 2 - pasir pendek singkawang

sunset 3 pantai pasir pendek

sunset - pasir pendek singkawang

Kembali ke Pantai Pasir Pendek hanya tinggal beberapa pengunjung saja. Akhirnya memutuskan membersihkan diri lalu mendirikan dome. Langit malam itu terlihat lebih keren dari biasanya (maksudnya kalau dari Pontianak hehe). Rupanya pantai ini meskipun malam lumayan ramai, mungkin karena pengunjung yang hendak menikmati suasana malam kota Singkawang (pemandangan bukit bintang terlihat dari Bukit Rindu Alam).

pantai pasir pendek singkawang 1

pantai pasir pendek singkawang 2

pantai pasir pendek 1

Sebenarnya kami disaranin untuk naik ke bukit jika ingin melihat sunrise, tapi berhubung malas kami memilih memasak *tetep ya demi perut…

Pembelajaran juga selama di sini, rupanya kalau mereka melakukan wisata rombongan (keluarga atau bareng teman), mereka total banget ; bawa kompor gas, tabung gas, dan alat untuk memasak lengkap (O__O). Mungkin kalau orang Jawa lebih suka praktisnya, membawa masakan yang sudah matang lalu dimakan ramai-ramai di lokasi wisatanya.

.

to be continue… Jelajah Pulau Kabung

Pantai Kura-Kura, Bengkayang

Pantai Kura-Kura

Lokasi pantai ini jika dari Pontianak berada sebelum Pantai Samudra Indah atau Pantai Pasir Panjang. Atas usulan teman  yang ada di Singkawang, akhirnya kami kesana. Pantai ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkayang, dari jalan raya utama masuk sekitar 1,6 KM, jalannya meski tidak beraspal tapi mudah dilalui (tadinya sempat khawatir karena sudah diwanti-wanti kalau jalannya rusak).

Melewati perkampungan dan disuguhi pemandangan ciamik menuju pantainya.

pemandangan menuju pantai kura-kura singkawang

Pantainya sepi karena masih terlalu pagi, bahkan petugas penjaga tiket pun belum ada 😀 jadi kami tidak tahu berapa tiket masuknya. Hamparan pasir putih bersih memanjang, dari bibir pantai kita bisa melihat dikejauhan ada Pulau Kabung. Gazebo untuk pengunjung terlihat lebih sederhana. Terdapat pula kamar mandi. Menurut info yang didapat, Pantai Kura-Kura dikelola swadaya oleh masyarakat setempat. Mungkin karena itu sarana dan prasarana penunjangnya juga kurang.

tempat istirahat pengunjung

tempat istirahat pengunjung

perahu nelayan...

perahu nelayan…

pantai kura-kura berpasir putih, pantainya bersih euy...

pantai kura-kura berpasir putih, pantainya bersih euy…

Kenapa dinamakan kura-kura ya? *perlu nyari di google nih*

Oh iya, sewaktu menuju ke pantai ini, di pinggir jalan banyak sekali pohon jambu mete (jambu monyet), mengingatkan saya sewaktu menjelajah ke Lombok Utara >__< . Sayangnya tidak ada orang yang lewat hehe tahu saja kalau ada yang lewat saya bakalan minta ijin buat petik buatnya…

Pantai Pasir Panjang, Singkawang

Selama dua belas hari di Pontianak selain melampiaskan minum kopi di warkop, saya pun mejelajah ke Singkawang. Bersama  yang sama-sama buta peta, mengandalkan bantuan sinyal HP buat membuka Google Maps 😀 dan tentunya bantuan warga yang sempat kami tanyai ketika sudah merasa nyasar hehe.

Singkawang. Kota yang sering dijuluki kota amoy ini memiliki banyak pantai dan pulau yang membuat saya penasaran. Namun saking banyaknya pantai saya hanya sempat ke beberapa tempat saja.

Pantai Pasir Panjang

Berjarak sekitar 142KM dari kota Pontianak, dengan menggunakan sepeda motor kecepatan sedang memakan waktu 3 jam. Dari Singkawang lumayan dekat, hanya berjarak sekitar 17 KM. Jalan raya di sana hampir semuanya bagus (tidak seperti di Jawa), melewati Jembatan Kapuas yang tersohor itu, juga Tugu Khatulistiwa. Saking bagusnya aspal dan sepi terkadang hobi ngebut pun dilampiaskan *eh…

pantai pasir panjang, singkawang (2)

Pantai ini merupakan ikon Singkawang dan menjadi pantai favorit masyarakat setempat. Setelah sampai, membayar karcis masuk IDR 15.000 per orang, kami pun berputar mencari tempat nyaman buat markirin motor. Sekilas pantai ini mirip sekali dengan Pantai Bandengan Jepara hehe… Bedanya hamparan pasir putih di sini lebih bersih dan panjang. Iyap, menurut info kenapa dinamai Pantai Pasir Panjang karena hamparan pantai yang membentang itu panjangnya sekitar 3 KM. Wuiiih, lumayan pegel kan kalau buat jalan kaki… 🙂

pantai pasir panjang, singkawang

Dari pinggir pantai kita bisa melihat dan menikmati laut biru, keindahan sunset – sunrise, melihat hijaunya Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan Pulau Randayan yang dipagari perairan Laut Natuna. Fasilitasnya pun lengkap : tempat parkir luas, hotel atau penginapan, rumah makan, warung, kamar mandi, gazebo (disewakan IDR 25.000), arena bermain, persewaan perahu atau speed boat, dan banana boat. Asik juga buat olah raga pantai ; voli, sepak bola, dll.

pantai pasir panjang 2

Berhubung gazebo mahal, akhirnya memilih duduk di bawah pohon rindang yang banyak dan tak jauh dari pantai. Sambil beristirahat dan menghindari terik matahari yang siang itu sangat panas. Mungkin karena terlihat ‘mencolok’ tak jarang menjadi tontonan pengunjung lain (-__-“).

Sayang, pemilihan waktu berkunjung ke sana sangat tidak tepat. Mungkin akan lebih asik kalau pagi sekalian atau sore 😀

Kopi Terakhir

Aming Coffee, Pontianak.

Puasa kedua. Kita sama-sama menyerah pada makanan yang tersaji di hadapan. Lalu kalimat yang sama terlontar ; “biasanya kalau buka puasa tidak langsung makan”. Ah mungkin perlu diingat lagi, kita selalu buka dengan minuman yang dibawa dari kost, selalu masih di jalanan mencari lokasi tempat makan 😀 . Kemudian kita pun nge-random ria ; mengomentari soal layanan, tempat makan, lagu yang membuat setengah mati menahan tawa, bahkan sampai nyamuk yang tak jera-jeranya mendekati.

Waktu. Membutuhkan sedikit lebih lama di jalanan menuju Aming Coffee gegara salah masuk gang. Hampir semua meja terisi orang, kecuali meja 1B yang bersisian dengan dapur tempat memasak makanan pesanan pengunjung. Rupanya kita berada di wilayah dominasi laki-laki dan asap rokok. Obrolan tak tentu arah terhenti ketika sekelompok pemusik masuk untuk nge-jamming beberapa lagu. Iseng akhirnya request lagu, dikasih : Home – Michael Buble dan Kita – So7. Bicara soal kopi, sebenarnya lebih menginginkan kopi Asiang yang sayangnya hanya buka pagi sampai siang, barangkali memang tidak beruntung – soal waktu.

Perjalanan pulang, merekam yang nampak oleh mata, dimana-mana warung kopi… Dan tadi sepertinya bakal menjadi kopi terakhirku, di sini.

.

.

Ps : baru sadar ternyata ini masuk bulan Juli… banyak catatan perjalanan yang belum sempat ditulis >__<