Menuju Malang

Perpisahan dengan Mba Atin yang mengantar ke Stasiun Tugu Yogya bukan diiringi dengan muka sedih tapi wajah kecapean dan mengantuk. Dengan berat hati menolak tawaran Mba Atin menunggui hingga kereta datang, karena saya tidak mau tanggung jawab kalau besok dia kesiangan berangkat kerja.

Saya memang meminta dua jam lebih awal diantar sebelum jadwal kereta yang saya naiki berangkat. Hanya biar memiliki waktu banyak untuk mengamati (btw, saya terbiasa mengamati orang-orang yang ada di stasiun).

Rupanya kantuk datang tanpa bisa saya tahan lagi, lelah luar biasa belum tidur dari kemarin, dan tentu saja tubuh saya butuh istirahat. Setelah berusaha mondar-mandir untuk mengurangi rasa kantuk gagal, saya menyerahkan boarding pass ke petugas kemudian masuk ke dalam ruang tunggu.

Stasiun Yogya

Mencari tempat duduk, mendengarkan musik, bahkan sempat meminta orang yang duduk di sebelah saya untuk membangunkan saya, jika saya tertidur sedangkan kereta sudah datang. Karena belum juga merasa tenang, saya meminta dibangunkan kawan lewat telepon hingga benar-benar saya bicara dan yakin terbangun.

Tertidur di bangku tunggu dengan posisi yang aduhai entah berapa lama, lalu terbangun oleh getaran juga bunyi HP yang tidak mau berhenti. Suara di telepon sungguh pantang menyerah buat membangunkan. Tapi saya masih ngantuuuukkk berat dan pusing… 😦

kereta ke malang - stasiun yogya

Yang ditunggu akhirnya datang juga, Kereta Malabar berangkat sesuai jadwal jam 01.35 wib. Bergerak ke timur menuju Malang, saya memilih meneruskan tidur di kereta. Berharap begitu terbangun sudah sampai tujuan…

Iklan

Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi

TN Alas Purwo

Hari itu dengan diantar oleh Pak Syamsul Arifin menuju terminal Sarongan. Memakai jadwal bus Damri yang paling pagi jam 06.30 wib, sengaja tiga puluh menit sebelumnya saya dan Mba Sepik sudah berada di terminal. Sepanjang jalan kabut tipis masih terlihat diantara pepohonan dan sawah. Dari Sarongan kembali ke terminal Jajag lalu kembali ke basecamp Poliwangi.

Rencananya hari ini akan ke Taman Nasional Alas Purwa dengan dua orang anggota mapala Poliwangi dan terakhir menuju Jember transit sebelum kembali ke Purwokerto. Setelah dhuhur bertolak menuju taman nasional. Rupanya meski ada akses jalan menuju kesana tetapi memang kendaraan masih sangat jarang, berbeda jika ke Taman Nasional Meru Betiri. Memasuki area hutan jalan yang beraspal pun berganti dengan jalan berkerikil.

Memasuki pos jaga di bagian dalam taman nasional membayar tiket masuk. Kami pun ditanyai hendak kemana saja, rencananya kami akan menuju ke penakaran penyu di Pantai Ngagelan juga ke Feeding Ground Sadengan. Untuk tiket masuknya :

tarif taman nasional alas purwo

Sepanjang jalan menuju lokasi penakaran penyu, sempat terlihat kera hitam, burung merak, ayam hutan, monyet, banteng, dan aneka burung. Sayang sekali mereka terlalu cepat menghilang begitu akan diambil gambarnya. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan petugas yang rupanya sedang berpatroli. Setelah mengetahui tujuan kami hendak ke penakaran penyu, mereka bilang kalau tidak ada orang dan kita terlambat karena baru kemarin mereka melakukan pelepasan penyu ke laut. Meski masih ada penyu di penakaran, tempatnya dikunci. Yah sayang sekali… tapi demi menghilangkan rasa penasaran kami pun tetap melanjutkan perjalanan ke penakaran penyu.

penakaran penyu - alas purwo

penakaran penyu - kincir

Terdapat dua rumah dinas, dan beberapa tempat berpagar yang dijadikan sebagai kolam dan satunya tempat penyu bertelur. Sepertinya di tempat yang untuk bertelur ada dua tanda yang menandakan disana ada telur yang belum menetas. Kami pun lebih banyak menikmati pantainya dan istirahat makan bekal yang kami bawa.

penakaran penyu - TN Alas Purwo

penakaran penyu - telur

Menuju Feeding Ground Sadengan kita akan melewati sebuah Pura Agung di tengah hutan, nampak terlihat luar biasa bagi saya (ketenangan dan kedamaian di sekitar pura), mengingatkan saya ke teman saya yang ada di Bali. Sampai di Feeding Ground Sadengan rupanya kembali bertemu dengan kedua petugas yang berpatroli kembali. Terdapat satu ruang dinas, kamar mandi untuk umum, beberapa tempat duduk di area terbuka, dan juga gardu pandang. Biasanya hewan-hewan itu muncul ketika jam makan (pagi dan sore), dan pas sekali dengan waktu makan sore ketika sampai di Feeding Ground Sadengan (G-Land).

gardu pandang - gLand

tempat duduk g-land

Beberapa rusa, banteng, kijang, burung merak, burung elang, burung bangau, dan yang lainnya…..  sedang berkumpul untuk makan, ada juga yang masih berbaring dan belum tergerak bergabung dengan hewan lainnya. Kami dipinjami alat terropong untuk bisa melihat dengan jelas hewan-hewan tersebut. Wah rasanya seperti di depan mata !!

africa van java - G Land

Sayang sekali hari terasa cepat sekali, kami pun segera pulang mengingat masih harus meneruskan perjalanan ke Jember dengan jadwal kereta jam tujuh *dan belum beli tiket hehe. Rupanya teman dari Poliwangi lebih khawatir kami tidak kebagian tiket, akhirnya mampir ke Stasiun Rogojampi sebelum mengambil barang di basecamp.

Tiket kereta api local dari Stasiun Rogojampi ke Stasiun Jember IDR 4.000 waaahh murah nian, sebagai backpacker harga tiket yang murah ini seperti mukjiizat hehe :p . Di jember sudah ada dua teman kami dari mapala Mahadipa menunggu untuk menjemput kami.

 .

Sekarang Backpackeran Ke Green Bay (Teluk Hijau) Banyuwangi Makin Mudah

green bay 1

Masih di daerah Banyuwangi, jelajah ke pegunungan sudah, desa wisata juga sudah, kota-kota pun sudah, rasanya tak lengkap kalau belum ke pantai, dan taman nasionalnya. Malam itu sepulang dari Festival Ngopi Sepuluh Ewu akhirnya pulang ke rumah @anomwindi untuk mengambil carrier yang sebelumnya kami titipkan.

Mengingat tujuan esok hari adalah Green Bay (Teluk Hijau) di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, untuk mempersingkat waktu kami memilih menginap di basecamp Poliwangi (Politeknik Negeri Banyuwangi) yang berada di daerah Labanasem. Berhubung sudah larut malam, hanya sempat ngobrol sebentar dengan David (ketua mapala) dan teman-teman di basecamp.

bus damri

Paginya kami berangkat dari basecamp jam 05.30 wib menuju terminal Jajag *karena belum tahu jadwal bus Damri yang ke daerah Sarongan. Dan rupanya kami beruntung, begitu sampai terminal Jajag bus yang kami cari hendak berangkat \(^_^)/ . Sebenarnya nyaris ditipu sama calo, karena si calo tersebut berbohong kepada kami soal keberangkatan bus Damri (>__<) *gregetand.

Perjalanan dari terminal Jajag ke Sarongan membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Yang menyenangkan bus ini selain bersih dan nyaman, kita tidak perlu berdesak-desakkan 🙂 . Sampai di terminal Sarongan kami menyempatkan makan di warung nasi pecel istimewa *pedesnya bikin telinga terasa terbakar hehe… Beberapa ojek sudah menawarkan kami untuk mengantar sampai Green Bay (dengan membayar 30rb), namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Masih ada keberuntungan yang kami dapat 😀

Secara tidak sengaja saya bertemu rombongan yang memakai mobil plat merah pemda Banyuwangi. Dua diantara mereka memakai kaos festival ngopi yang semalam saya datangi. Setelah berbasa-basi sebentar rupanya rombongan tersebut hendak menuju lokasi yang sama, bedanya mereka mau mengambil gambar untuk keperluan film. Dengan sedikit nekad memberanikan diri untuk ikut jika masih ada kursi kosong, dan ternyata kami diajak untuk bergabung. Yeeayy!!

Tadinya saya pikir film yang lagi digarap adalah film indie, eeeh tidak tahunya film layar lebar yang buat bioskop. Parahnya lagi waktu Pak Hanny tanya soal beberapa film Indonesia dan dengan cueknya saya menjawab pernah lihat fim tersebut lewat VCD bajakan. Rupanya film yang saya tonton bajakannya itu Pak Hanny-lah yang menyutradarainya hahaha… *antara geli dan malu. Begini nih kalau jarang lihat TV terutama untuk penghargaan film nasional. Rupanya Pak Hanny ini yang membuat film : Heart, Strawberry Surprise, dll *Oh My….

Untungnya Pak Hanny dan kru punya selera humor yang lumayan tinggi. Mereka tidak marah bahkan tertawa seolah-olah maklum 😀 . Mereka bahkan menerima usulan saya untuk rute menuju Green Bay, berangkat jalan kaki lalu pulangnya dengan kapal kelotok. Meski sebenarnya fasilitas yang diberikan kepada mereka adalah PP dengan menggunakan perahu kelotok.

TN Meru Betiri

TN Meru Betiri 1

Memasuki Taman Nasional Meru Betiri hanya lapor sebentar tanpa dimintai tiket masuk, begitu pula sewaktu memasuki pantai Rajegwesi dan Green Bay. Film yang sedang digarap Pak Hanny rupanya disponsori oleh pemda Banyuwangi yang hendak mengangkat tempat-tempat indah di Banyuwangi agar lebih dikenal di Indonesia. Pantas saja fasilitas kemana saja gratis (>__<). Well, saya akui strategi pemda Banyuwangi bagus sekali.

green bay 8

green bay 7

Trekking menuju Green Bay kalau baca di beberapa blog menulis turunan yang licin dan curam. Tapi ternyata sudah lumayan bagus, dan ada tali pengamannya. Hanya butuh 15-20 menit untuk sampai di Pantai Batu, lalu menyusuri pantainya sekitar 200 meter dan sampailah di Green Bay. Waktu itu hanya ada enam pengunjung yang sudah ada di Green Bay, lalu kami (bersepuluh dengan kru film).

Pantai Batu (Stone Shore) :

pantai batu

pantai batu 1

pantai batu 3

pantai batu 2

pantai batu 4

Berhubung kru film mengambil gambar di Pantai Batu lumayan lama, saya dan mba Vincentia Ruminingsih akhirnya mendahului untuk jalan menuju Green Bay. Begitu melihat pantai pasir putih yang bersih dan warna hijau laut yang bening saya berteriak kegirangan. Huwaaaa…. Sampai juga!! Tak perlu berlama-lama, langsung menuju ayunan yang memang sudah ada, menikmati salah satu keagungan-Nya. Subhanallah…

Green Bay

green bay 4

green bay 3

Kesenangan berlanjut, empat orang yang datang naik perahu kelotok membawa ikan segar tangkapan pagi tadi dan kelapa muda. Ikan tersebut dibakar dan ternyata disajikan dengan lauk dan lalapan sengaja untuk kru film (termasuk kami berdua). Alhamdulillah… benar-benar nikmat hehe…

green bay 5

green bay 2

Oleh Pak Syamsul Arifin (Masyarakat Ekowisata Rajegwesi) yang menjadi guide, kami diingatkan untuk segera kembali dengan menggunakan perahu kelotok mengingat ombak lumayan besar. Dibagi menjadi dua, saya ikut yang pertama sedangkan Mba Vincentia Ruminingsih ikut yang kedua. Jujur ngeri mengarungi laut selatan Pulau Jawa, meski memakai jaket pelampung rupanya tetap bikin was-was. Rumor kalau laut selatan ombaknya lebih ganas dari pada laut utara sepertinya memang benar 😦  *makin ngeri karena ingat saya tidak bisa berenang 😐

green bay 6

Sampai di Pantai Rajegwesi berasa lega luar biasa, meski baju basah sebagian karena kena cipratan ombaknya. Berhubung saya dan Mba Vincentia Ruminingsih merencanakan camping di Pantai Rajegwesi, akhirnya kami berpisah dengan Pak Hanny beserta krunya.

Tadinya kami mau melanjutkan ke Pulau Merah dan Pantai Wedi Ireng, tapi hari sudah sore akhirnya kami memilih langsung mendirikan dome di Pantai Rajegwesi. Bahkan saya langsung tertidur 3,5 jam (sampai jam 19.30) hehe… Terbangun langsung bikin makan malam lalu mandi. Beberapa kali Pak Syamsul Arifin datang, menyuruh dan memaksa kami untuk menginap di rumahnya. Berhubung tidak enak menolak, kami pun segera membongkar dome lalu menuju rumah Pak Syamsul yang berjarak 300 meter dari pantai.

Sebagai penggiat di MER (Masyarakat Ekowisata Rajegwesi), rumah Pak Syamsul rupanya selain tempat tinggal berfungsi juga untuk sekretariat MER dan home stay. Jadi untuk yang hendak mengunjungi Pantai Rajegwesi, Pantai Batu (Stone Shore), dan Green Bay biasanya melapor dan membayar tiket masuk di sini.

MER

Kami bahkan diantar oleh Pak Samsul Arifin menuju terminal Sarongan keesokan paginya *sudah menginap home stay gratis, diantarkan pula… Mengingat bus Damri hanya terjadwal dua kali jalan (pagi dan siang), dan kami harus melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo di ujung timur Banyuwangi.

NB:

  • Rute ke Green Bay (Teluk Ijo) jika menggunakan bus paling mudah : entah dari mana saja (Jember / Banyuwangi), turunlah di terminal Jajag. Lalu ikut bus Damri jurusan Sarongan, dari terminal Sarongan naik ojek (15rb) ke Desa Rajegwesi / Pantai Rajegwesi (ada juga yang menawarkan sampai pintu masuk Green Bay : 30rb). Membayar tiket lalu menuju pintu masuk arah Green Bay bisa menggunakan kendaraan yang disediakan (PP 15rb), perahu kelotok (PP 35rb),  atau jalan kaki (tidak ada 1KM).
  • Stasiun terdekat dengan terminal Jajag adalah Stasiun Rogojampi. Jalan sedikit untuk ke jalan raya utama, lalu naik bus atau angkutan ke terminal Jajag.
  • Tiket Masuk TN Meru Betiri Rp. 5.000
  • Untuk jadwal bus Damri baik dari terminal Jajag atau pun Sarongan : jam 06.30 dan jam 13.30 (usahakan 30 menit sebelum bus berangkat sudah ada di terminal). Biaya Jajag – Sarongan : 20rb.
  • Di Rajegwesi jarang sekali ada penjual, ada baiknya membawa bekal dari awal. Sinyal hanya ada dari operator Telkomsel (v__v).
  • Info home stay : Pak Syamsul Arifin (Masyarakat Ekowisata Rajegwesi) HP 082 337 834 510.

Meriahnya Festival Ngopi Sepuluh Ewu

Bupati (dua dari kiri) memakai pakaian adat Osing

Bupati (dua dari kiri) memakai pakaian adat Osing

Hari ketiga menjelajah Jawa Timur menuju kota Banyuwangi. Setelah dini hari menikmati blue fire di pegunungan kawah Ijen, dan siangnya menyusuri Desa Jampit, minggu malam ditutup dengan Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Kemiren.

Kopi robusta dari Kemiren

Kopi robusta dari Kemiren

Dari sekian banyak acara Hari Jadi Banyuwangi, kami memang sengaja menyelaraskan dengan jadwal festival kopi. Kebetulan lokasi tidak jauh dari rumah @anomwindi (Anom), hanya sekitar sepuluh menit saja. Setelah istirahat sore sebentar dan mandi, sehabis maghrib menuju Desa Kemiren. Masih dengan arek-arek Banyuwangi : @karismaardip (Karisma Ardi), @anomwindi (Anom), Rino, Wildan, dan Angga.

Peracik kopi menyuguhkan kopi ke pengunjung

Peracik kopi menyuguhkan kopi ke pengunjung

Even ini adalah yang kedua, setelah tahun sebelumnya di tempat yang sama disediakan gratis sewu (seribu) cangkir kopi untuk pengunjung. Tahun ini pun meningkat dengan disediakannya sepuluh ribu cangkir kopi *jangan-jangan tahun depan jadi seratus ribu 😀 . Kopi yang dipakai adalah biji kopi robusta dari daerah Kemiren dan Kalibendo. Selain kopi yang bisa disruput (diminum) ada pula aneka jajanan tradisional Banyuwangi *boleh makan sepuasnya. Meja dan kursi (ada pula yang lesehan) ditata sepanjang jalan utama, uniknya sebagian besar warga Desa Kemiren malam itu memakai pakaian adat Osing.

Anak kecil pun tak mau ketinggalan nyruput kopi

Anak kecil pun tak mau ketinggalan nyruput kopi

Jajanan tradisional Banyuwangi

Jajanan tradisional Banyuwangi

Setelah menghabiskan satu cangkir kopi, saya pun mencoba berjalan dari ujung hingga ke ujung. Hampir semua kursi dan lesehan terisi oleh pengunjung, dari anak-anak sampai lanjut usia menikmati kopi dan jajanan sambil bercengkrama. Pada setiap pejalan kaki yang melewati tempat untuk ngopi, dengan ramah mereka menawarkan untuk singgah.

Yang 'sepuh' pun tak mau ketinggalan :)

Yang ‘sepuh’ pun tak mau ketinggalan 🙂

Mendekati lokasi utama yang dipenuhi oleh pengunjung yang menanti kedatangan bupati Banyuwangi. Wah rupanya bupatinya pun memakai pakaian adat Osing *keren euy… Oh iya, pada acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu juga ditampilkan musik tradisonal dan tarian Barong yang dibawakan oleh anak-anak Kemiren *sayangnya pas lewat, kamera sudah masuk tas.

Rasanya tak menyesal jauh-jauh datang ke Banyuwangi untuk melihat even ini. Mungkin jika tak harus melanjutkan perjalanan ke basecamp Poliwangi (karena besok pagi harus ke TN Meru Betiri), saya ingin lebih lama lagi menikmati kopi dan kemeriahan malam itu.

Menjelajah Eropa KW 2 Di Desa Wisata Jampit Bondowoso. Ada Bukit Teletubbies Lho…

desa wisata jampit - bunga

Beranjak siang, dari Kawah Ijen kami berlima melanjutkan perjalanan ke Desa Jampit yang harus ditempuh selama satu setengah jam menggunakan motor, sedangkan Wildan dan Angga langsung pulang. Melewati perkebunan kopi nan luas, dan perbukitan yang hijau. Sebelum mencantumkan Desa Jampit menjadi salah satu tujuan mbolang keliling Jawa Timur, saya sudah membaca beberapa blog. Kebetulan saya dan Mba Vincentia Ruminingsih memang lebih menyukai tempat-tempat yang tidak biasa untuk dijelajah.

Bukit Roti aka Bukit Teletubbies

Bukit Roti aka Bukit Teletubbies

Begitu masuk ke area perkebunan, jalan yang ada hanyalah jalanan yang berpasir dan berbatu. Rupanya kami semua lumayan kesulitan, beberapa kali motor yang kami naiki selip hampir membuat kami terjatuh. Dan bikin deg-degan karena saya tidak punya bayangan kapan sampai tujuan. Sebelum sampai ke tujuan kami melewati sebuah perbukitan unik, Bukit Roti namanya. Meski lebih dikenal dengan Bukit Roti oleh masyarakat setempat, bagi saya sekilas nampak seperti Bukit Teletubbies (baiklah saya namai Bukit Teletubbies biar makin terkenal 😀 ) karena ada beberapa bukit meski tidak sebanyak di Gunung Prau Dieng Wonosobo. Padang savana terlihat hijau di bawah Bukit Teletubbies yang terlihat coklat karena sempat terjadi kebakaran 😦 . Terlihat beberapa kerbau dan kuda asik merumput di savana yang luas membentang. Kami berlima seperti tersihir, duduk di bawah pohon di pinggir jalan dengan angin semilir membuat kami merasa mengantuk 😀 *kalau boleh jujur nih, maunya langsung pasang dome, dan menikmati langit malam hari yang pasti bakalan keren >__<

desa wisata jampit 1

desa wisata jampit 2

Perjalanan masih lumayan lama ke Guest House Jampit, kami harus hati-hati karena jalan berpasir dan tanah liat kadang membuat motor yang kami naiki selip. Setelah melewati perkebunan dan rumah dinas perkebunan, akhirnya sampai juga \(^_^)/ *legaaaa… Di Desa Wisata Jampit kita bisa menjumpai rumah-rumah disana terlihat asri dengan halaman depan penuh dengan bunga, sayur, dan tanaman obat. Kami pun melapor dan membayar tiket untuk masuk ke Guest House Jampit *berhubung @anomwindi yang bayar saya tidak tahu tiketnya berapa hehe…

guest house jampit

guest house Jampit

Guest House Jampit ini memang daya tarik tersendiri, bangunan peninggalan Belanda yang didirikan pada tahun 1927 tersebut masih terlihat kokoh dan bagus. Di sekitarnya nampak taman bunga dan pepohonan rindang yang membuat kami enggan beranjak *bahkan Anom, Karisma, dan Mba Rumi sempat tertidur di rumput hampir satu jam (-_-“). Saya sendiri dan Rino lebih senang duduk-duduk di atas pohon besar yang memang disediakan bagi pengunjung. Menikmati keindahan pemandangan di sini seperti berada di Eropa *padahal belum pernah ke Eropa hehe… Siapa sangka ‘Eropa KW2’ juga ada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. 

desa wisata jampit - merumput

Wisata Desa Jampit dan guest house ini dikelola oleh Agro PTPN XII, selain sebagai tempat penginapan juga disewakan untuk lokasi pemotretan seperti pada waktu kami kesana. Bahkan guest house tersebut lebih sering disewa oleh wisatawan dari mancanegara ketimbang domestik. Membayangkan menginap di Eropa KW 2 dan menikmati secangkir kopi di pagi hari sepertinya luar biasa 😀

Sayang langit mendung memaksa kami harus kembali ke Banyuwangi. Masih ada agenda ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren  bareng @anomwindi@karismaardip, Rino, Wildan, dan Angga… \(^_^)/

.

NB :

Informasi Reservasi Guest House Jampit : 081 1350 5881, kantor reservasi : 085259595955, email : agro@agro-ptpn12.com , web : http://www.agro-ptpn12.com.

Lika-Liku Kawah Ijen Banyuwangi (2368 MDPL)

kawah ijen banyuwangi

“Tidak ada kata lelah ya kalian”, isi SMS seorang teman ketika mengetahui bahwa kami masih ada perjalanan ke Banyuwangi dan Jember. Iya, kali ini setelah dari penanjakkan dua Bromo  Probolinggo saya dan Mba Vincentia Ruminingsih pun meneruskan perjalanan ke Banyuwangi. Sampai Stasiun Karangasem jam 20.15 wib karena tadi sempat terlambat keretanya. Di tempat parkiran sudah menunggu dua teman kami (backpacker Banyuwangi) @karismaardip dan @anomwindi.

Menuju rumah @anomwindi untuk menaruh barang bawaan kami. Dan sempat makan malam juga mencoba nasi rawon buatan ibunya @anomwindi *enak lho. Sekitar jam 22.00 wib kami berangkat menuju rumah Wildan, disana rupanya sudah ada Angga juga Rino yang hendak ikut juga ke Kawah Ijen. Bertujuh menembus pegunungan Ijen yang makin malam terasa makin dingin.

Sisa hujan terlihat di jalan menuju pos pendakian, jalanan menanjak yang serasa tidak ada ujungnya. Karena gelap saya hanya bisa berdoa agar hujan tidak turun lagi dan cepat sampai. Di tanjakkan entah keberapa, beberapa mobil sempat kami jumpai. Mogok, tak kuat naik. Dua jam perjalanan kami pun sampai di Paltuding (pos pendakian), di tempat parkiran rupanya sudah banyak sekali motor dan mobil. Beberapa warung terisi oleh pengunjung yang mencoba menghangatkan diri dengan minum kopi. teh, atau makan mie rebus.

Rencana mendirikan dome di area camping Paltuding kami urungkan, karena sepertinya tanggung sekali. Istirahat sebentar di warung dan memesan minuman hangat sembari mengecek kembali barang bawaan kami. Jam 01.30 wib kami memulai pendakian setelah sebelumnya membayar tiket (IDR 7.500 / orang, motor IDR 5.000, mobil IDR 10.000). Karena hari minggu suasana pendakian ke Kawah Ijen begitu ramai, baik domestik maupun mancanegara.

pondok bundar kawah ijen

pondok bunder dan souvenir kawah ijen

kawah ijen - blue sky

Trekking menanjak tanpa henti hingga ke Pos Pondok Bunder atau tempat penimbangan belerang (2214 mdpl), dan sesudahnya lumayan meski jalanan masih menanjak tapi banyak bonusnya. Entah berapa kali saya harus berhenti dan berusaha menghirup O2. Akhirnya tepat jam 03.00 wib saya dan Wildan sampai di atas paling awal disusul kemudian yang lainnya. Dari kami berenam, hanya Mba Vincentia Ruminingsih dan @karismaardip yang tidak ikut turun menuju kawah untuk melihat blue fire, mereka berdua langsung naik untuk mendirikan dome.

kawah ijen banyuwangi 2

Untuk turun ke bawah memang harus hati-hati, karena jalan sempit dan mungkin sekali berpas-pasan dengan penambang batu belerang yang membawa hasil tambangnya. Dan sekali bawa biasanya beratnya bisa mencapai 60-90 kg, wooooww…. bisa dibayangkan? Maka dari itu biasanya mereka didahulukan untuk diberi jalan. Makin ke bawah udara berasa semakin sedikit meski masker sudah saya basahi, membuat sesak nafas. Pertengahan jalan mata saya bahkan pedih sekali karena asap belerang. Mau tak mau saya mengajak Wildan untuk naik dan mencari lokasi dome, sedangkan @anomwindi, Angga, Rino melanjutkan ke lokasi blur fire *gagal deh buat ambil fotonya 😦 

Agar bisa kembali ke atas rupanya tidak mudah, selain mata pedih, sesak nafas *asma saya kambuh hehe, juga kaki terasa berat saking capeknya 😦 . Mencari dome ternyata sulit juga, dimana-mana hanya terlihat hamparan manusia dan asap belerang, belum lagi udara disertai angin yang membuat tubuh menggigil. Suhu waktu itu mungkin berkisar 8ºC – 15ºC. Begitu melihat dome langsung berlari semangat segera masuk ke dalam menghangatkan diri dengan sleeping bag.

kawah ijen banyuwangi 3

kawah ijen banyuwangi 0

kawah ijen - backpacker banyuwangi

Pengunjung yang lain ada yang meneruskan ke atas menyusuri tebing kawah untuk melihat sunrise, saya lebih memilih meringkuk di dalam dome hehe *dinginnya gak nahan >__<. Setelah semuanya berkumpul istirahat sembari mengisi perut dengan bekal yang kami bawa.

kawah ijen

Langit biru dengan awan yang bergumpal seperti kapas, berpadu dengan danau kawah yang berwarna hijau toska benar-benar pemandangan yang luar biasa. Mungkin jika mau dituruti berjam-jam duduk hanya untuk memandang dan menikmati apa yang tersaji di depan mata bakalan ‘betah’. Belum lagi blue fire yang menakjubkan, yang hanya bisa dijumpai menjelang pergantian hari tadi. Lelah rasanya terbayar 🙂

kawah ijen - pencari batu belerang 1

kawah ijen - pencari batu belerang

kawah ijen - trekking

Ketika sampai bawah di Pos Paltuding baru terlihat dengan jelas beberapa home stay, guest house milik pemkab, area camping, warung makan, dan tempat parkir. Kami pun memilih sarapan pagi di warung tenda yang ada di seberang area camping. Perjalanan masih berlanjut ke Desa Wisata Jampit dan mengikuti Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren dengan Mba Vincentia Ruminingsih , @karismaardip , dan @anomwindi…. (9^_^)9

kawah ijen banyuwangi 1

Jelajah Ke Pertapaan Patih Gajah Mada di Air Terjun Madakaripura

Air terjun Madakaripura

Air terjun Madakaripura

Selesai menikmati pesona sunrise Bromo dari Seruni Point, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Madakaripura, konon katanya yang tertinggi di Pulau Jawa. Air terjun yang masih dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini terletak di Desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Selain itu oleh masyarakat setempat, air terjun Madakaripura ini dipercaya sebagai tempat terakhir Patih Gajah Mada bersemedi (di tempat parkiran bisa ditemui arca atau patung Gajah Mada).

Akses jalan menuju kesana sudah beraspal dengan rute berkelak-kelok, melewati pedesaan dan perkebunan. Nampak pula perbukitan yang menambah kami ingin segera sampai. Setelah melewati kurang lebih 5KM dari lintas jalan raya menuju Bromo atau sekitar 45 menit, sampailah kami di tempat parkiran.

Yang sedikit janggal adalah loket tiket masuk dengan lokasi air terjun (pintu masuk) jaraknya sangat jauh. Selain itu di tempat parkir, jika dari awal kita nanti tidak pesan agar kendaraan kita tidak usah dibersihkan (dicuci) mereka pasti akan membersihkannya. Ujung-ujungnya mereka akan meminta uang dengan dalih sudah membersihkan kendaraan meski membersihkannya asal-asalan (-__-“). Dan satu lagi, akan ada paksaan memakai jasa guide. So, ada baiknya kita tinggal bilang sudah pernah datang kesana agar tidak perlu membayar jasa guide yang sebenarnya tidak perlu. Jangan takut kesasar, karena jalan menuju ke air terjun tinggal mengikuti setapak dari parkiran.

Sewaktu kesana sedang ada perbaikan jalan setapak, ada bekas sisa longsor juga. Jadi terkadang kami harus turun ke sungai untuk menyebrang, untungnya lumayan mudah 🙂 . Dari parkiran berjalan kaki sekitar 1KM, lumayan membikin keringat hehe. Di sini tak perlu takut kelaparan, beberapa pedagang dapat dijumpai sepanjang jalan menuju air terjun, ada yang menawarkan makanan, minuman, dan juga jas hujan atau payung.

Air terjun yang mirip tirai ini, siap-siap bikin basah sebelum ke air terjun utama :D

Air terjun yang mirip tirai ini, siap-siap bikin basah sebelum ke air terjun utama 😀

Berhubung dari awal sudah dikasih tahu akan basah, kami sudah mempersiapkan jas hujan. Untuk menuju ke air terjun utama, kita harus berjalan menyusuri sungai. Dan yang paling seru sewaktu melewati ‘tirai’, bersiap-siaplah untuk basah. Setelah itu menyusuri bebatuan yang sempit dan lumayan licin di tebing karena posisinya miring. Perjuangan itu akhirnya terbayar. Di depan mata tampak air terjun tinggi menjulang yang berdinding melingkar seperti berada dalam sebuah botol.

Sayangnya karena sudah masuk musim penghujan, dasar air terjun yang biasanya berwarna hijau tosca terlihat coklat 😦 . Terpaan air di sekitar air terjun menjadikan suasana seolah sedang gerimis membuat saya tidak berani mengeluarkan kamera ha ha, saya lebih suka berlindung di balik jas hujan. Jangankan kamera, HP pun tak berani saya keluarkan.

Lutfi gak kelihatan :p

Lutfi gak kelihatan :p

Puas menikmati keindahan air terjun, kami pun bertolak ke rumah Mohammad Lutfi Hidayat. Sekitar jam 15.00 wib masih bareng mba Vincentia Ruminingsih diantar ke stasiun Probolinggo untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi, sedangkan Mohammad Lutfi Hidayat, Dentyta Nastiti, Pakde Rifqy Faiza Rahman, dan Muhammad Choirul Anam kembali ke Malang. Di Banyuwangi dua teman BPI sudah siap menjemput kami untuk petualangan ke pegunungan kawah Ijen, wisata Desa Jampit, dan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (9^_^)9

.

Foto diambil dari HP mba Vincentia Ruminingsih.