Si Cemonk

cemonk

Jam dinding di learning room LAN (Lentera Angin Nusantara) menunjukkan setengah tujuh lebih. Saya masih melanjutkan bacaan karya Seno Gumirang ketika Grace, Pia, dan Algafur mengajak mencari ikan di pantai yang tak jauh dari tempat kami. Dengan bantuan senter, kami berjalan diiringi Cemonk.

Siapa itu Cemonk? Cemonk adalah kucing yang jadi penghuni tetap LAN, dipungut oleh Pak Ricky Elson ketika berada di Jakarta. Ceritanya, Cemonk masih kecil ketika suatu hari muncul di depan kontrakannya. Wajahnya yang memelas seperti mengharap untuk dikasihani. Jadilah kucing tersebut dirawat dan dinamai Cemonk lalu dibawa ke Ciheras. Selain Cemonk, di LAN ada juga kucing-kucing yang lain ; Cempreng, Mingming, Golda, Goldi, Goldo, dan Primus.

Malam itu Cemonk ikut kami ke pantai mencari ikan. Sebenarnya sedikit heran, karna hanya membawa kresek hitam saja. Ternyata sekarang musim ikan, beberapa ikan segar bisa kami temui di pantai. Ikat tersebut terbawa ombak namun tak terbawa kembali ketika air kembali ke laut. Hmm, ini pengalaman baru buat saya, dengan gembira kami akan memunguti ikan yang kami dapatkan. Selain kami ada juga masyarakat setempat yang juga mencoba peruntungan, bedanya mereka membawa jaring untuk mereka lempar kemudian mereka tarik. Hasilnya, luar biasa… lumayan juga ternyata.

Dan baru kali ini juga saya merasa bukan seperti di Jawa, iya karena di Ciheras jalanan gelap gulita meski ada listrik (apalagi pantainya dan waktu itu mendung). Sedikit mengingatkan saya sewaktu di Pulau Kabung, Kalimantan Barat. Pulau yang hanya dihuni oleh beberapa ratus penduduk itu tidak ada jaringan listrik kecuali mereka memakai mesin diesel.

Cemonk sesekali merebahkan tubuhnya di pantai jika merasa lelah berjalan, kami pun tertawa melihat kelakuan Cemonk. Sepertinya Cemonk kelebihan berat badan hehe… Kami berjalan lumayan jauh, bertemu dengan mereka para pencari ikan, dari anak-anak hingga orang tua dengan wajah penuh kegembiraan. Cahaya berpendar dari senter beradu dengan gemuruh ombak laut selatan. Saya menikmatinya…

Epik lain…

Pagi ini di meja makan tersaji menu ikan, tiba-tiba teringat Cemonk dan 3G (Goldi, Goldo, Golda) yang biasanya akan mengikuti sampai mess. Mereka menyukai ikan jika sudah dimasak bukan ikan fresh 🙂 Ah, apa kabarnya Cemonk juga yang lainnya…??

Ricky Elson Dan LAN (Lentera Angin Nusantara)

Menjelang siang sampailah di terminal Ciheras, Dusun Lembur Tengah, Desa Ciheras setelah menempuh perjalanan selama 16 jam penuh perjuangan dari terminal Bawen (plus istirahat di sebuah mushola SPBU). Rupanya yang dimaksud dengan terminal adalah pemberhentian terakhir bus yang membawa saya, menempati di halaman (?) rumah yang hanya bisa diisi oleh dua atau tiga bus saja. Yang paling mengherankan ternyata ojek di Ciheras mahal, jarak yang hanya sekitar  500 meter dikenai ongkos tiga puluh ribu. *nasib tidak bisa Bahasa Sunda nih, jadi tidak bisa nego (.__.)>

Lentera Angin Nusantara

Pertama mendengar daerah ini, tak lain tak bukan karena baca di kaskus. Yang mengshare link facebook milik Pak Ricky Elson, pendiri Lentera Angin Nusantara (LAN). Meski melenceng dari bidang yang saya tekuni (kesehatan) toh ada penasaran juga. Iya, sedikit pun saya tidak mengerti tentang mesin atau soal kincir angin. Pertama baca, salut sekali rupanya ada juga orang Indonesia yang bercita-cita mulia seperti Pak Ricky Elson ini.

Sampai di LAN langsung disambut ramah oleh Pak Ricky sendiri. Diajak berdiskusi tentang apa itu LAN dan mimpi sederhananya untuk Indonesia. Ketika Pak Ricky berbicara dengan menggebu-gebu, saya jadi ingat setiap tulisannya di facebook juga ditulis dengan semangat pula *saya yakin tiap pembaca bisa merasakan aura tersebut. Tak lupa pula diajak berkeliling melihat kincir angin buatannya dan sambil menjelaskan bahwa meski masih baru berjalan tiga tahun (termasuk dua tahun penelitiannya), namun manfaatnya sudah bisa dinikmati oleh beberapa wilayah di Indonesia. Memberikan penerangan di daerah tersebut yang selama ini tidak terjangkau oleh listrik.

Ricky Elson - LAN

Sekitar jam sepuluhan lebih Pak Ricky pamit sarapan, sambil menunggu saya pun jalan-jalan di bawah terik matahari yang menyengat. Memandang kincir angin yang berdiri menghadap ke laut selatan, dan berputar cepat mengikuti besarnya angin. Saya pun akhirnya menyerah oleh panasnya udara, berteduh disalah satu bangunan yang didirikan tanpa dikasih dinding papan seperti lainnya.

LAN

Oleh Pak Ricky, saya diantar ke sebuah rumah yang dijadikan mess oleh team LAN yang perempuan dan Pak Ricky sendiri. Saya pun dipaksa untuk istirahat ketika melihat mata yang sudah terlalu letih di perjalanan menuju Ciheras. Dan memang selama hampir 16 jam terakhir, saya paling tidur satu – dua jam saja. Terbangun sekitar jam 15.00 wib, nyawa bahkan terasa susah dikumpulkan, sedikit pusing, dan terngiang pesan Teteh yang ada di warung terminal kalau bus terakhir ke kota adalah jam 15.30 wib. Untuk persiapan dan berpamitan rasanya tidak cukup, akhirnya saya pun memutuskan untuk menginap semalam di LAN.

perpustakaan LAN

Bila ingin ke kota, ‘kota’ terdekat dari Ciheras perlu ditempuh selama empat puluh lima sampai satu jam perjalanan *dengan jalan yang meliuk-liuk tentunya 😦 . Menyempatkan keliling setelah sholat ashar, mencari warung untuk makan siang yang terlambat, dan melihat pantai meski sunset tidak bisa terlihat karena terlalu mendung. Saya pun mencoba sholat di masjid yang tak jauh dari mess. Seorang ibu baik sekali meminjamkan saya mukena. Ketika kembali ke mess, diajak berkumpul dengan yang lainnya (Bang Kinoy, Pia, Grace, Algafur, Pak Agus, dua lainnya sedang berada di luar kota). Oh iya, di LAN ada perpustakaan mini yang berisikan buku berkaitan dengan kincir angin, manajemen, kamus terjemahan bahasa Jepang, beberapa novel, bahkan sampai manga pun ada disana. Hampir disetiap kesempatan Pak Ricky pasti akan berbicara, memotivasi semua orang yang ada disana…

Pantai Ciheras

Banyak sekali hal positif yang saya dapatkan disini. Mereka tak segan-segan mengajarkan (mengenai kincir angin) kepada siapapun yang datang kesana, kekeluargaan pun nampak sekali terlihat. Di Ciheras, waktu serasa berjalan cepat, tahu-tahu sudah jam sepuluh malam lebih.

Pagi hari disambut mendung sisa semalam, matahari terlihat di sela-sela pepohonan. Sekitar jam setengah enam saya pun berpamitan dengan Bang Kinoy yang waktu itu belum bangun tidur :p , sempat melihatnya menyalakan peralatan. Pagi itu kembali Pak Ricky bilang, bahwasannya di LAN beliau tidak bisa menjanjikan para team akan menjadi orang kaya secara finansial namun hanya ilmu, dan manfaat (untuk orang-orang di Indonesia yang belum beruntung menikmati listrik).

Pagi di Ciheras

Kembali ke mess untuk berpamitan dengan Pia dan Grace, saya dan Pak Ricky pun harus berlari mengejar bus yang ternyata lima belas menit lebih awal lewatnya dari perkiraan *mirip adegan di film ngejarnya hehe… Tak terkejar tentunya, akhirnya diantar sama Bang Kinoy untuk menghadang bus tadi. Luar biasa… (>_<)

NB :

Banyak sekali yang meminta nomor kontak Pak Ricky Elson, untuk yang tertarik ingin belajar dengan beliau silahkan menghubungi 0821-1535-2149.

Thanks untuk Pak Ricky Elson, Bang Kinoy, Grace, Pia, Algafur, Pak Agus. Menyenangkan sekali bisa bertemu dengan kalian…

Pondok Salada Gunung Papandayan

14. Gunung Papandayan

#Lanjutan cerita Jelajah Garut. (Sabtu, 9 November 2013)

Teman-teman dari Jakarta dan Bekasi : Vincentia Ruminingsih , Desi Amelia , MaRia Ulfah , Felicitas Deiziana, dan Ilham sampai di BC Gerhana jam 10.00 WIB. Rencana awal mau mulai pendakian ke Gunung Papandayan selepas dhuhur dimajukan jam 11.00 WIB berangkat dari BC Gerhana Uniga. Diantar oleh Abang Rully dan Aa Jejen (ketua Gerhana Uniga)  menuju pos awal pendakian, perjalanan ditempuh kurang lebih satu setengah jam.

Selama perjalanan menuju pos awal pendakian (Camp Davis) kami harus berjuang menahan agar tidak saling berbenturan *berhubung diantarnya dengan mobil A***** bukan mobil pick up seperti yang lainnya. Jalan beraspal namun banyak yang berlobang dan sedikit menanjak sempat membuat mobil kami selip, terpaksa didorong oleh Nur Arif Kurniawan, Ilham, dan Aa Jejen *kasihan bener mobilnya hehehe…

Sampai di Camp Davis (berupa tempat parkir luas dengan banyak kios) kami istirahat sebentar dan makan siang dengan nasi goreng kencur yang super enak di warung Mak Entih. Bahkan dibonusi satu piring nasi goreng dan isi ulang air sama Mak Entih.

Memulai start pendakian menuju Pondok Salada untuk camping. Hari itu banyak sekali pendaki lain yang juga hendak kesana. Dari Camp Davis menuju Kawah Mas hanya sekitar 5 menit melewati jalan setapak. Bau belerang yang menyengat benar-benar membuat hidungku sakit. Oh iya, saat melintas di Kawah Mas, rombongan kami bertemu dengan Alven (2,5th) yang ikut naik juga ke Pondok Salada digendong ayahnya >__<

Setelah melewati kawah, belok ke kanan menurun melewati sungai kecil yang jernih sebelum akhirnya jalanan sedikit menanjak sebentar menyusur tebing. Jalur setapak nanti berakhir sampai di sebuah lahan yang cukup luas dan terdapat sebuah warung tenda biru, di sini juga bisa untuk camping. Di seberang warung (sebelah kiri) nanti ada petunjuk arah menuju Pondok Salada. Masuk melewati pepohonan, dimana di sebelah sisi kiri berupa tebing dan kita bisa melihat dari jauh Kawah Mas yang sempat dilewati tadi.

Tepat jam 15.00 WIB akhirnya sampai juga di tempat camping, sudah banyak dome yang didirikan saat kami tiba disana. Yang pertama kali sampai di Pondok Salada : aku, Ilham, dan Desi Amelia langsung mendirikan dome mengingat langit terlihat mendung. Menyusul kemudian Nur Arif Kurniawan, Vincentia Ruminingsih , MaRia Ulfah , dan Felicitas Deiziana. Tidak menyangka pula kalau di Pondok Salada ada yang jualan baso ikan aka cilok hehehe….

Tidak jauh dari area camping terdapat sungai kecil yang bisa digunakan untuk minum, bahkan tempat itu ditutupi dengan bekas karung di sekelilingnya (bisa digunakan untuk buang air kecil). Di Pondok Salada tidak banyak yang bisa dinikmati, selain hamparan pohon edelweiss dan Gunung Cikurai dari jauh.

Sore hari, menyempatkan diri mencari kayu bakar di Hutan Mati dan menikmati edelweiss. Kabut turun dan mendung, sedikit cemas jika hujan  karena kami baru mendirikan satu dome sedangkan dome satunya harus menunggu Abang Rully datang 😦  . Malam hari suasana sangat ramai, bahkan kami sempat saling bersahut-sahutan diantara para pendaki dari dome masing-masing (-__-“). Dan akhirnya Abang Rully dan temannya datang juga… \(^__^)/  Sudah ngebayangin satu dome diisi tujuh orang hehe….

Menghabiskan malam itu dengan permainan kartu yang seru habis. Seharusnya sih hukuman bagi yang kalah paling banyak harus mandi, dan  Desi Amelia dengan sukses dibully oleh para cowok 😀 kalah tujuh kali dan berkelit untuk menjalani hukuman mandi wkwkwk…

.

Minggu 10 November 2013

Pergantian hari, membangunkan Vincentia Ruminingsih yang berulang tahun. Ya ampun Felicitas Deiziana benar-benar yah perjuangan, bawa cup cakes satu dan dipasang berdampingan dengan lilin segede itu yang harus ditiup 😀  *aaakk, sayang lupa tidak difoto. Selesai memberi kejutan ke Vincentia Ruminingsih yang anti merayakan ultah, melanjutkan tidur lagi.

Jam 04.00 WIB banyak sekali pendaki yang terbangun dan menyalakan api unggun. Sepertinya cuma dirombongan kami yang susah membangunkan para cowok (v__v). Bahkan sampai alarm berbunyi sampai lima kali masih belum bangun juga *uhuuukk siapa itu??

Pagi itu acara memasak paling seru, lagi-lagi Desi Amelia… Keinginan untuk buang air besar yang harus ditahan, padahal banyak sekali saran yang diusulkan mulai dari gali tanah, berlindung dengan sarung atau matras, sampai berlindung dengan dome Abang Rully yang mudah dibawa dan dipindah-pindah wkwkwk….

Sekitar jam 09.30 WIB rombongan kami meninggalkan Pondok Salada dan bersiap pulang dengan memakai rute menyusur tebing sebelah kiri (arah pulang). Wah, untung saja ada Abang Rully ‘tetua’ Papandayan  🙂 , kami pulang dengan rute yang jarang dilewati kecuali pendaki yang sudah sering kesana. Setidaknya pemandangan dari perjalanan pulang benar-benar membayar kekecewaan kami karena tidak bisa ke Alun-alun Tegal Alur dan puncak *kemarin tidak diperbolehkan…

Ada kejadian lucu sewaktu melewati sungai kecil, ada rombongan sekitar tujuh orang entah dari mana yang sedang istirahat. Salah satu cewek sedang cuci muka dan gosok gigi, sedang tidak jauh dari itu (di sebelah atasnya) satu cowok malah asik buang air kecing hehe… *semoga cewek yang sedang gosok gigi tidak langsung memakai airnya untuk kumur hahaha….

Akhirnya setelah tiga jam, kami sampai di Camp Davis. Aku sendiri langsung mandi saat yang lain istirahat makan siang…. *segerrr euy. Sebelum diantar ke terminal Garut mampir sebentar ke BC Gerhana Uniga untuk berpamitan. Di terminal berpisah Desi Amelia dan MaRia Ulfah ke Jakarta, Vincentia Ruminingsih , Felicitas Deiziana dan Ilham ke Bekasi, sedangkan Nur Arif Kurniawan ke Bandung, dan aku sendiri pulang….

Ini nih fotonya :

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Note : Thanks buat Abang Rully yang sudah menjadi guide kami, Aa Jejen (ketua Gerhana Uniga) dan teman-teman di basecamp (yang tidak bisa disebutin satu-satu saking banyaknya) yang sudah menampungku & Arif semalam di Garut… Salam Lestari !!  🙂

Jelajah Kota Garut (Situ Bagendit dan Situ Cangkuang)

Jumat, 8 Nov 2013

Tepat jam 00.30 WIB aku dan Arif ke terminal Purwokerto, rencananya mau naik bus ekonomi ke Garut yang berangkat jam satu dini hari. Dengan estimasi waktu sampai di Garut sekitar jam sebelas siang. Ternyata sampai di terminal malah adanya bus Mandala patas AC, wah kebetulan malah nyaman tanpa asap rokok he he.

Rencana meneruskan tidur sedikit terhambat karena ACnya tidak ada pengaturnya dan super dingin. Sempat dipindahkan sewaktu sampai di terminal Tasikmalaya ke bus Mandala yang dari Yogya dikarenakan penumpang dari Purwokerto terlalu sedikit. Tidak terasa jam 07.00 WIB sampai di Ngagrek *ternyata cepat sekali… Dari Ngagrek dilanjutkan dengan bus menuju terminal Garut. Abang Rully yang sedianya mau menjemput pun tidak bisa karena masih bekerja. Kami pun akhirnya naik angkot no.3 warna abu-abu turun di Simpang Lima lalu jalan sedikit untuk menuju basecamp Gerhana Universitas Garut (Uniga).

Angkot no. 3 Garut

basecamp Gerhana Uniga

Sampai di BC Gerhana jam 08.15 WIB, disambut oleh ketua Gerhana ; Aa Jejen dan teman-teman. Rupanya basecamp lagi ramai karena mereka bersiap menurunkan Tim SAR untuk membantu mencari Joan Tobit Sigalingging mahasiswa ITB yang hilang di Gunung Guntur. Berkeliling kampus Uniga yang akhirnya terdampar di warung di depan kampus untuk sarapan (^__^).

Untuk menghabiskan waktu, kami meminjam sepeda motor untuk menjelajah kota Garut. Kami pun memutuskan pergi ke Situ Bagendit dan Situ Cangkuang, dua tempat yang sepertinya menarik dan jaraknya masih terjangkau dari lokasi kampus.

Situ Bagendit

Berada di desa Bagendit, berjarak 4 KM dari kota Garut, akses kesana lumayan mudah dan lancar. Tarif parkir motor IDR 3000, tiket masuk Situ Bagendit IDR 3000 dan jam buka mulai dari 07.00 – 17.00. Fasilitas yang disediakan antara lain : taman rekreasi, panggung terbuka, rakit, gazebo, kolam renang, pemancingan, taman marina, mushola, kereta api mini, toilet, dan flying fox. Suasananya lumayan nyaman, mungkin karena bukan hari libur jadi sepi pengunjung.

Situ Bagendit Garut

Di sini pengunjung dapat menikmati pemandangan, dan mengelilingi danau dengan menggunakan rakit atau perahu. Yang disayangkan adalah kondisi danaunya yang sekarang sudah banyak tertutup oleh tanaman air.

Situ Bagendit Garut

Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang

Lokasi desa Cangkuang, kecamatan Leles, dapat ditempuh dari jalan utama (dekat pasar Leles) sekitar 3 KM. Aksesnya pun lumayan mudah, sepanjang perjalanan menuju lokasi kita akan disuguhi oleh pemandangan, hal ini dikarenakan Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat pegunungan besar ; Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur.

Situ Cangkuang

Fasilitas di Situ dan Candi Cangkuang antara lain taman rekreasi, rumah air, gazebo, rakit, mushola, dan juga tempat parkir yang luas. Pengunjungnya pun lebih banyak dibandingkan dengan Situ Bagendit. Tarif parkir IDR 2000 dan tiket masuk IDR 3000.

'pulau' tempat Candi Cangkuang dan rumah adat Kampung Pulo

Di tengah-tengah Situ Cangkuang terdapat ‘pulau’, di dalamnya terdapat Candi Cangkuang dan desa adat Kampung Pulo. Untuk menuju ke Candi Cangkuang bisa menggunakan rakit dengan membayar tarif IDR 4000 untuk PP. Yang disayangkan bagian selatan pulau sudah berubah jadi lahan persawahan, padahal dulunya lokasi candi itu di kelilingi oleh danau.

Puas menikmati kedua situ, kami melanjutkan ke tempat pusat oleh-oleh Garut di Jalan Otista. Di sepanjang jalan itu kita akan melihat banyak sekali toko yang menjual dodol, chocodot, kerupuk kulit, dan juga tempat makan khas sunda. Saking banyaknya pilihan kami cuma melihat-lihat he he he *iyalah, khan tujuan utamanya besok naik ke Papandayan :p

pusat oleh-oleh Garut

Sebelum kembali ke basecamp Gerhana, sempatin ke alun-alun dan masjid agung Garut. Kebetulan sedang acara (hari terakhir) Semarak Festival Hijriah, sangat ramai oleh pengunjung dan terkesan semrawut karena penataan ‘lapak’ dan parkiran tidak rapi (-__-“).

masjid agung Garut

alun-alun Garut

Next Trip : Papandayan

Rencana menjelajah ke Gunung Papandayan : 8-10 November. Bertemu lagi dengan Vincentia Ruminingsih (Bekasi), Felicitas Geudea Deiziana (Bekasi), Desi Amelia (Jakarta),  MaRia Ulfah (Jakarta),  Nur Arif Kurniawan (Purwokerto),  Widodo Setyo P (Purwokerto) << jadi ikut lagi apa tidak tow?, Pinkan Yulindasari (Purwokerto), dan tiga orang laennya yang belum pernah ketemu 🙂 plus temen-temen dari Garut tentunya.

Dan persiapan buat jelajah besok ini sepertinya yang paling heboh…. Dari mulai dome dan flysheet yang sudah dicuci wangi, jaket, sampai berburu info soal bus / kereta api. Tapi belum dapet SB *yawn… masalahnya kalau bawa SB tasnya gak muattt (-__-“)

Semoga cuaca bersahabat di sana (^__^) dan perjalanan lancar sampai balik ke rumah masing-masing… aamiin 3x