Hotel Amaris Panglima Polim I Dan Cafe Kopi Favorite

Bahagia itu kalau tempat menginap kita lokasinya tidak jauh dari tempat kesukaan kita. Kunjungan ke Jakarta pada tanggal 16-18 Mei 2017 kemarin untuk menghadiri acara Hari Buku Nasional oleh panitia sudah disiapkan tempat menginap, yaitu di Hotel Amaris Panglima Polim 1.

Dan setelah lihat maps rupanya hotel yang saya tempati itu berada di Jalan Panglima Polim Raya No. 2, Kramat Pela. Lokasinya tak jauh dari Blok M Plaza dan cafe Filosofi Kopi Melawai yang tinggal nyebrang 3 menit dengan jalan kaki 🙂

Saya sendiri mendapatkan kamar di lantai dasar, kamar 106 yang kebetulan paling dekat dengan lobi. Ruangan kamar bersih, dan tidak terganggu meski dekat dengan lobi juga jalan raya. Beberapa pilihan kamar di Hotel Amaris ; smart room queen dan smart room twin. Biaya permalam berkisar IDR 350K – 540K, dengan lokasi yang berada di pusat kota, rasanya sepadan.

.

.

Hotel Amaris didesain minimalis nan modern, yang memang ditujukan untuk para pebisnis dan mereka yang hendak liburan. Dengan harga yang masih terbilang sangat terjangkau tentunya 🙂

Menu sarapan paginya saja yang sepertinya kurang banyak pilihan, hanya ada roti, bubur, soto, nasi & beberapa lauk pauk, nasi goreng serta salad buah. Minumannya tersedia pilihan ; kopi, teh, jus satu macam, dan air putih. Untuk rasa masakan lumayan (standar).

Untuk yang suka kuliner, tak jauh dari hotel (bisa dengan jalan kaki) banyak sekali tempat kuliner yang bisa dicoba. Kalau saya karena suka dengan kopi, tentu saja tinggal menyebrang ke tempat ngopi favorite saya 🙂

Seperti halnya Hotel Amaris yang modern, untuk pemesanan hotel pun sekarang bisa dengan mudah dilakukan. Banyaknya aplikasi android maupun lewat website bisa dilakukan. Atau langsung ke amarishotel.com, telepon : (021) 7229997.

Iklan

Mencoba City Tour Jakarta, Bonus Lambaian Tangan Pak Ahok!

city tour jakarta 2

Pemandangan ibukota dari bus wisata…

Jalan – jalan di Jakarta tak harus mahal, ada yang gratis dan menyenangkan :). Hari kedua di ibukota saya berkesempatan mencoba bus City Tour Jakarta. Iya alasannya sih karena cuaca luar biasa panas dan di bus tersebut ada ACnya hehe… Setelah dua kali gagal karena rupanya naiknya kalah berebut, kami berlima akhirnya berhasil naik bus dari depan Museum Nasional meski harus menunggu hampir dua jam >__<

city tour jakarta

Bus tingkat buat keliling Jakarta…

Rute yang dilewati meski tak banyak tapi lumayanlah bisa keliling kota Jakarta. Beberapa tempat yang menjadi pemberhentian bus City Tour Jakarta adalah Monas Merdeka Barat, Balai Kota, Sarinah, Bundaran Hotel Indonesia, Museum Nasional Merdeka Barat, Pecenongan, Pasar Baru Gedung Kesenian Jakarta, Mesjid Istiqlal, Monas Merdeka Utara. Dengan lama waktu berkeliling kurang lebih 30 – 40 menit.

pak ahok

Pak Ahok yang sedang diwawancara wartawan pun langsung melambaikan tangan ketika bus wisata lewat 😀

Bus yang kami naiki tersebut sudah penuh, terpaksa duduk di bagian bawah. Dan pindah ke atas ketika ada penumpang yang turun. Yang paling seru ketika melewati Monas, sempat melihat banyak orang berbaju hitam entah dalam rangka apa. Dan rupanya banyak sekali wartawan yang sedang mengelilingi orang nomor satu di Jakarta. Yupp, Pak Ahok pun sempat melambaikan tangannya kepada bus wisata yang kami naiki *sopirnya pengertian sekali, sengaja berhenti di depan Pak Ahok haha… Penumpang yang sedang di dalam bus pun tak kalah semangatnya buat membalas lambaian tangan Pak Ahok 😀

Sepertinya Jakarta menyambut kedatangan saya yah (^_^,) *sok pede

Ragusa Es Krim Italia, Antara Penasaran Dan Kekecewaan

Ragusa Es Krim Italia

“Belum lengkap ke Jakarta kalau belum mencoba Ragusa es krim Italia”, seloroh seorang teman. Masa iya sih? hehe… Demi rasa penasaran saya pun mengiyakan ajakan teman – teman untuk mencoba es krim tradisional tersebut. Sempat khawatir ada campuran susu dan santan, karena alergi santan *ternyata bebas santan yeeaayy :D. Jika di Purwokerto ada Es krim Baltik yang ada sejak jaman Belanda (sayangnya ada santannya), maka di Jakarta ada Ragusa es krim Italia yang berdiri sejak tahun 1932.

Es Krim Itali - Ragusa

Berada di Jalan Veteran I nomor 10, Jakarta Pusat (berdekatan dengan Masjid Istiqlal). Siang itu tempatnya penuh, kebanyakan pembeli malah menikmatinya sambil berdiri. Tapi cukup beruntung karena ada pengunjung yang sudah selesai dan kami berlima bisa duduk.

Begitu datang langsung antri memesan es krim, dan pelayanannya lumayan mengecewakan karena ibu yang di bagian kasir / pemesanan sempat menghardik pembeli (hari itu entah berapa pembeli yang memesan menu dan kena semprot hehe). Entah karena merasa sudah terkenal dan melegenda jadi bersikap tidak peduli, mungkin berfikirnya ; pembelilah yang menginginkan es krim buatan mereka (??).

Ragusa - Es Krim Itali

Beberapa es krim kami coba : spaghetti ice cream, chocolate, mocca, dan special mix. Berhubung dikira tidak dimakan ditempat, penyajian es krim terlanjur pakai styrofoam yang beralaskan plastik (O_O) *kelasnya Ragusa yang sudah tersohor lho… Harga es krim berkisar IDR 15.000 – 35.000. Sedikit tidak sepadan dengan penyajian atau kemasan.

Ragusa menu

Es krim pesanan kami datang, dan si ibu yang tadi kurang sopan tersebut datang ke meja sebelah kami untuk…. marah – marah lagi hehe… Soal kursi yang tidak dirapikan pengunjung begitu selesai makan es krim, dan gegara ada dua pengunjung yang duduk dengan meja yang banyak kursinya. Saya sendiri dan teman – teman merasa kurang nyaman 😦 *setelah googling ternyata banyak juga pengunjung yang merasakan kekecewaan…

Ragusa - menu

Soal rasa? spaghetti ice cream pada dasarnya es krim vanilla dengan rasa yang lembut, ringan, dan enak. Es krim coklatnya lebih enak dibandingkan dengan rasa mocca, sedangkan special mix itu gabungan beberapa rasa. Rasanya memang enak, tapi tidak ada yang spesial sih menurut saya. Bagi yang menginginkan cemilan berat, di teras banyak penjual seperti asinan bogor, sate ayam, gado – gado, nasi lontong, dan otak – otak.

Kenapa bisa ramai pembeli ?? bisa jadi mereka datang sama seperti kami yang penasaran untuk mencoba 😀 . Saya juga penasaran, dari sekian banyak penikmat es krim Italia tersebut seberapa banyak yang memang menjadi langganan tetap ya. Tidak ada salahnya jika ingin menikmati es krim disana pembeli menyiapkan mental, dan bersabar 😀 😀 😀

Wisata Alam Mangrove Di Pantai Indah Kapuk

pantai indah kapuk - wisata alam

Panas ibukota makin terasa, tetapi kami bertujuh masih semangat untuk menjelajah Jakarta. Tujuan selanjutnya menuju utara, yaitu wisata alam mangrove. Gegara foto yang dikirim dipamer-pamerkan oleh teman yang ada di Jakarta, saya sempat berfikir “eh kok ada ya tempat semacam itu di Jakarta hehe” ^^V.

Setelah naik kendaraan dua kali sampailah kami di Tzu Chi Primary School, yang gedungnya luarrrr biasaaaa megahnya (v__v), lalu jalan kaki sekitar 200 meter. Membayar tiket masuk IDR 25.000 per orang (kena tarif weekend hiks). Sampai lokasi langsung mampir ke masjid yang berada tak jauh dari pos pembelian tiket, sembari istirahat, dan menunggu Mba Sepik yang ternyata batal menyusul.

pantai kapuk

pantai indah kapuk - jakarta utara

Dari masjid yang dituju utama adalah tempat makan, sayangnya yang tersedia hanya minuman dan mie rebus 😦 . Padahal sudah tertarik sama tempatnya yang terlihat menarik. Oh iya di tempat makan ini kita bisa ngeces HP *lumayanlah

PIK dari menara pandang

PIK - penginapan

Wisata alam mangrove ini ada banyak pilihan untuk pengunjung, diantaranya ; wisata hutan (berkemah, wisata alam, out bond, pemotretan, penelitian), wisata air (kano, wisata perahu), konservasi (kegiatan penanaman mangrove, kegiatan penanaman nostalgia), dan penginapan (pondok alam, berkemah). Fasilitas yang disediakan untuk pengunjung pun lengkap.

mangrove - PIK

mangrove pantai kapuk

Berkeliling dari ujung ke ujung dan sempat mencoba juga naik gardu pandang untuk melihat pemandangan. Sayangnya sudah banyak besi yang keropos, untuk ke atas pun dibatasi maksimal dua orang. Sewaktu menuju pantainya, pemandangan lumayan memprihatinkan. Meski disediakan tempat sampah di sepanjang jalan, ternyata masih saja ada yang membuang sampah sembarangan (-__-“).

PIK - jakarta utara

PIK

pantai indah kapuk - sunset

Sunset dari jembatan terlihat eksotis, beruntung cuaca hari itu mendukung. Rasanya kelelahan karena seharian jalan terbayar sudah. Dan makin semangat untuk menjelajah tiap sudut Jakarta !!! Masih ada banyak tempat yang harus dikunjungi \(^_^)/

Menyusuri Petak Sembilan Di Glodok (Dari Klenteng, Gereja Hingga Kedai Kopi)

‘Hutang rasa’ saya untuk berkunjung ke Jakarta rasanya terbayar. Meskipun tertunda entah berapa bulan lamanya bahkan tak terasa sudah sampai ganti tahun (-__-“). Setelah dini hari menyusuri Pasar Kue Subuh di Pasar Senen, siangnya saya dan teman-teman yang sebelumnya sudah janjian buat mengantar ke Petak Sembilan.

Oline, Emyhu, Amel, Muchlis...

Oline, Emyhu, Amel, Muchlis…

Petak Sembilan ini terletak di kawasan Glodok (awalnya saya bahkan seringkali tertukar dengan menyebutnya Grogol hehe), sering dikenal dengan kawasan Pecinan. Konon sebelum Belanda berkuasa pun kawasan ini sudah didiami orang Tionghoa, dan juga dijadikan sebagai tempat perdagangan oleh mereka.

petak sembilan - vihara

Berkumpul di halte busway Glodok ; saya, Oline, Emyhu, Amel, Muchlis, sedangkan Tanti dan temannya menyusul. Dari tempat meeting point kami pun menyebrang dan menyusuri jalan kecil yang ada di seberang halte hingga menemui pertigaan (pasar) lalu belok kiri. Tak jauh dari pertigaan tersebut, di sebelah kanan jalan terdapat Vihara Dharma Bhakti.

 petak sembilan - sembahyang

Di dalam komplek vihara tersebut terdapat tiga klenteng ; Kim Tek Ie, Di Cang Wang Miao, dan Hui Ze Miao. Vihara yang dibangun antara tahun 1650 – 1669 ini sempat beberapa kali berganti nama. Sewaktu kesana, beberapa tempat sedang dilakukan perbaikan. Kami pun sempat masuk ke dalam, melihat beberapa orang yang sedang membakar hio dan sembahyang.  Di halaman komplek vihara pun ternyata bisa kita temui belasan pengemis (sama halnya dengan hari jumat di depan masjid yah :D).

Keluar dari vihara kami meneruskan perjalanan, meski sempat hujan dan harus berteduh sebentar *uhuk!! ternyata hujan malah bikin Amel dan Muchlis romantis. Dari vihara lurus saja sampai jalan yang ada tikungan ke kanan, tak jauh dari sana sebelah kanan jalan ada Gereja St. Maria De Fatimah.

petak sembilan - gereja st. maria de fatima

Gereja St. Maria De Fatimah seperti halnya dengan vihara dengan beberapa bagian dicat warna oriental khas Tionghoa. Masih mempertahankan bentuk bangunan lama nan sederhana, meski di samping gereja terdapat SMA Ricci yang nampak modern. Beberapa mobil terlihat di halaman gereja, sayang karena takut hujan makin deras (berhubung cuma ada dua payung kecil) kami memilih untuk segera menuju ke kedai kopi.

petak sembilan - kedai kopi es tak kie

Kedai Kopi Es Tak Kie adalah tujuan terakhir kami, lokasinya di Gang Gloria yang rupanya lumayan agak jauh dari gereja. Sempat bikin kami bingung karena harus masuk gang kecil, kemudian keluar gang, menyebrang jalan lalu masuk gang lagi (Gang Gloria) *hee harus tanya jalan beberapa kali… Nah karena Gang Gloria ini terkenal dengan kuliner khas yang mengandung babi untuk yang muslim jika ingin kuliner disini harus jeli, ada beberapa tempat yang menjual makanan halal juga kok.

kedai kopi es tak kie

Saking tersohornya kedai kopi ini bikin penasaran saya yang suka icip-icip kopi. Begitu ketemu senengnya bukan main, tapi rupanya harus sabar soalnya tempat duduk penuh (>__<). Akhirnya ada pengunjung yang sudah selesai, dapat juga tempat duduk di depan pintu masuk. Biar ngerasain banyak rasa akhirnya nyobain ; es kopi, es kopi susu, kopi susu. Harganya pun sudah naik (dari beberapa blog yang saya baca sebelumnya), harga es kopi IDR 14K, es kopi susu dan kopi susu panas IDR 15K.

kedai kopi es tak kie - petak sembilan

Untuk rasa kalau boleh jujur nih, (menurut saya lho) masih mantap rasa kopi Warkop Asiang di Pontianak (semoga tidak dimarahin sama fans yang suka ngopi di sana). Yah, namanya selera lidah memang beda – beda ^^V. Biar ndak dikira subyektif mungkin yang sudah nyobain kopi Tak Kie harus coba juga kopi Asiang *eh… Antara kopi es dan kopi susu (dingin ataupun panas) saya dan teman – teman sepakat lebih suka rasa yang kopi susunya. Tempatnya memang enak buat kongkow rame – rame, selain menikmati kopinya kita juga bisa pesan makanan yang dijual di dekat Kedai Kopi Es Tak Kie *nyari yang halal tentunya 😀

Buat yang suka jalan – jalan menyelusuri jejak sejarah semacam Kota Tua, nah Petak Sembilan di Glodok bisa jadi pilihan yang menarik, keren juga buat berburu foto. Apalagi lokasinya pun tak jauh dari Jakarta Kota. Puas menikmati Pecinan dan serba – serbinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara \(^_^)/

Pasar Kue Subuh

“Nanti mampir pasar kue subuh ya”, ajak Oline.

“Eh? Pasar kue subuh? Berarti pas subuh kesananya?”, tanyaku heran.

“Gak lah, sekarang saja… jam satu dini hari pun dah buka”, jawabnya sambil tertawa renyah.

Pasar kue subuh rupanya terletak tidak jauh dari Stasiun Pasar Senen, di bagian luar Pasar Senen. Aneka kue dan jajanan tradisional bisa Kita dapatin disini, bahkan roti ulang tahun juga ada! Mau cari buaya juga bisa… roti buaya maksudnya hehe…

Bingung mau apa akhirnya yang aman (tanpa santan atau kelapa) dua kue sus jadi pilihan. Kejutan belum berakhir… Oline menelpon ojek langganannya untuk ngantar pulang. Ini pertama kalinya naik ojek di Jakarta, dini hari dan tidak pakai helm pula. Setiap lampu merah pun diterjang (-__-“).

Kalau di Jakarta bingung jalan, kayaknya Oline lebih hafal ketimbang tukang ojek  hahaha… Jadi ada bagusnya aku bawa Oline dari pada beli peta Jakarta 😀 .

Sudah hampir pagi, susah sekali mata diajak tidur. Mungkin gara-gara tidak sabar buat nyoba Kedai Kopi Tak Kie di kawasan Petak Sembilan.

.

PS : Foto menyusul…