Info Lengkap Dieng : Sewa Kendaraan Dan Sewa Perlengkapan Camping

dieng - wonosobo

(foto diambil dari http://www.olipeoile.com)

Dataran Tinggi Dieng merupakan wilayah yang masuk kedalam dua kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Beberapa tempat wisata yang paling banyak dikunjungi adalah

  • Telaga Warna
  • Petak Sembilan
  • Batu Pandang
  • Candi Arjuna
  • Kawah Sikidang
  • Telaga Cebong
  • Sikunir
  • Gunung Prau
  • dll

Untuk yang backpackeran dari luar kota dan berencana camping di Dieng namun tidak memiliki perlengkapan untuk camping bisa menyewa alat camping yang berada di Dieng dan sekitarnya. Informasi mengenai tempat sewa >> Sewa Perlengkapan Camping Di Dieng.

Sedangkan lokasi wisata di Dieng sendiri ada yang tidak terlalu jauh dan ada pula yang jauh. Untuk lokasi yang tidak terlalu jauh meski bisa dijangkau namun cukup melelahkan bila kita jalan kaki, dan tentunya waktu jadi berkurang. Transportasi umum di Dieng sendiri tidak menjangkau semua tempat wisata, alternatifnya naik ojek. Untuk lebih berhemat, bagi backpacker yang datang sendiri atau rombongan bisa sewa kendaraan. Klik link berikut untuk informasi lebih lengkap >> Sewa Motor Dan Mobil Di Dieng.

Ayo berwisata ke Dieng…!!

Iklan

Rumah Makan Bu Carik Parakan (Temanggung)

Rumah Makan Bu Carik Parakan

Rumah Makan (RM) Bu Carik ini terbilang sederhana. Rumah makan yang didirikan sekitar tahun 1960-an ini masih bertahan dan selalu ramai oleh pelanggan. Awal mulanya usaha ini dirintis oleh Bu Marini, dan sekarang dipegang secara bersamaan (keluarga) oleh generasi ketiga. Buka setiap harinya dari jam 07.00 sampai jam 17.00 wib.

Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Parakan – Temanggung, jika dari barat (Wonosobo) lokasi ada di sebelah kiri jalan sesudah Pasar Parakan (pasar sementara). Bila dari timur (Semarang atau Magelang), RM Bu Carik ada di kanan jalan, setelah melewati RS. Ngesti Waluyo nanti sisi kanan ada bangunan (pasar lama) yang sedang direnovasi, sekitar 50 meter dari pasar lama.

WM Bu Carik

Pertama kalinya ke rumah makan ini sudah lama sekali, bertahun-tahun yang lalu ketika mengikuti kakak yang hendak dinas ke Semarang. Karena berangkat dini hari dari Purwokerto biasanya ketika melewati Parakan adalah jam makan pagi. Rumah makan ini jadi pilihan orang juga ketika melakukan perjalanan jauh. Siang itu, beberapa rombongan dari Pekalongan dan Yogyakarta sengaja berhenti di RM Bu Carik sebelum melanjutkan perjalanan.

soto sapi...

soto sapi…

Dari kiri atas ; aneka gorengan, onde-onde, angkleng, oleh-oleh....

Dari kiri atas ; aneka gorengan, onde-onde, angkleng, oleh-oleh….

Menu yang disediakan lumayan beragam ; brongkos, soto ayam dan sapi, pecel, opor, baceman sapi, aneka gorengan, dan ada juga jajanan seperti angkleng, wajik bandung, onde-onde. Selain makanan di RM Bu Carik juga tersedia oleh-oleh yang bisa dibeli pengunjung. Untuk harga makanan per porsi sekitar IDR 15.000 sudah lengkap dengan lauk daging.

Selain itu RM Bu Carik ini juga menerima pesanan, telepon 0293-596879. Bila sedang perjalanan atau habis turun gunung dari pendakian Gunung Sindoro dan lapar menyerang, tak ada salahnya mencoba di sini. Harganya terjangkau dan tentunya mengenyangkan 😀 .

Pendakian Gunung Pakuwaja Dieng Bareng Gamananta Malang

Ketika yang lain menyukai keramaian, kami memilih yang sepi…. (Pakuwaja, 2014).

Pakuwaja Dieng

Pakuwaja Dieng

Banyak yang bisa dijelajah jika berada di Dieng untuk berburu sunrise, tak hanya Sikunir dan Prau. Jika kemarin Posong Temanggung jadi pilihan berburu sunrise bagi yang tidak menginginkan treking jalan kaki. Maka Gunung Pakuwaja diperuntukan bagi penikmat alam dan yang menyukai tantangan. Bonusnya di puncak Pakuwaja kita bisa menikmati sekaligus sunset dan juga sunrise (tanpa perlu berebut tempat), landscape dataran tinggi Dieng, dan masih banyak spot menarik lainnya.

Gunung Pakuwaja (2413 mdpl) terletak di sebelah selatan Sikunir, dan menurut masyarakat konon batu yang terdapat di Pakuwaja merupakan paku raksasa yang memperkuat Pulau Jawa. Rasanya memang tak baik membiarkan rasa penasaran menghantui hehe, saya pun mengajak  Vincentia Ruminingsih , MaRia Ulfah , Mas Te , Agus Pramono dan meminta bantuan Bang Jeni Sindoro Sumbing yang sudah tahu rutenya untuk menemani. Tapi ternyata Mea Nda dari Wonosobo dan teman-teman dari Gamananta Malang (Mohammad Lutfi Hidayat , Dentyta Nastiti , Kustanti Wahyu Utami  dan Pepy D. Manda)  juga ingin bergabung. 

Ada tiga jalur yang bisa dipakai untuk mendaki Gunung Pakuwaja ; Desa Sembungan (searah dengan Sikunir), dari atas Dieng Plateu, dan dari Desa Parikesit. Diantara ketiga jalur tersebut, yang paling pendek waktu tempuhnya yaitu melalui jalur Desa Sembungan (hanya membutuhkan sekitar 1,5 jam), dari Dieng Plateu membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dan dari Desa Parikesit sekitar 3 jam. Basecamp Pakuwaja sendiri berada di Desa Parikesit Jalan Dieng KM 23 Kejajar, jika dari Wonosobo ada di kanan jalan.

Jum’at sore Mas Te datang disusul teman-teman dari Gamananta Malang. Rencananya mereka bermalam di tempat saya sebelum sabtu pagi berangkat ke Dieng. Berhubung saya dan Mas Te menunggu kedatangan Vincentia Ruminingsih dan MaRia Ulfah dari Jakarta, tim Malang pun berangkat dengan bus paginya terlebih dahulu dan meeting point di rumahnya Agus Pramono di Dieng. Sedikit meleset dari perkiraan, karena kereta dari Jakarta terlambat, ban motor sempat bocor, dan gangguan lainnya akhirnya pendakian yang rencananya siang diundur sore via Dieng Plateu.

Setelah melewati Dieng Plateu sempat berfoto sebelum melanjutkan pendakian... (9^_^)9

Setelah melewati Dieng Plateu sempat berfoto sebelum melanjutkan pendakian… (9^_^)9

Berbarengan dengan acara Dieng Culture Festival 2014, dan seperti perkiraan awal saat acara DCF berlangsung, dua tempat itu (Sikunir dan Prau) jadi pilihan pengunjung DCF yang tidak kebagian homestay atau memang sengaja berhemat dengan bermalam di tenda (camping) 😀 . Bahkan info dari Bang Jeni Sindoro Sumbing yang menyusul malam harinya, sempat mampir ke basecamp Patak Banteng (Gunung Prau) ; pendaki yang terdaftar malam itu sekitar 4000 orang (O__o). Sedangkan Kaka’ Jail Puol yang menyusul dini hari via Desa Sembungan pun mengatakan area camping Telaga Cebong (Sikunir) penuh 😀 .

Edelweis yang kami temui lewat jalur Dieng Plateu

Edelweis yang kami temui lewat jalur Dieng Plateu

Atas rekomendasi Bang Jeni Sindoro Sumbing kami pun bertemu dengan Mas  Glegger Sawijji untuk penjelasan jalur dan treking pendakian. Berangkat dari Dieng Plateu jam 16.00 wib, sempat salah ambil jalur namun akhirnya kami sampai ke puncak Pakuwaja jam 18.00 wib. Masih sempat menikmati sunset sebentar lalu mendirikan dome di puncak. Jalur yang kami pilih termasuk landai dan banyak jalan ‘bonusnya’ sehingga mempermudah perjalanan kami. 

Sampai juga ke puncak Pakuwaja... lumayan masih ada sisa sunset :p

Sampai juga ke puncak Pakuwaja… lumayan masih ada sisa sunset :p

Dan dari puncak terlihat lampu senter sepanjang jalur Patak Banteng menuju Gunung Prau sedari sore hingga jam lima pagi masih ada *padat merayap 😀 . Malam harinya pun disuguhi pemandangan bukit bintang dan langit malam yang luar biasa keren, pertunjukan lampion juga pesta kembang api dari DCF kami nikmati sembari minum dan makan kentang rebus hasil pungutan di jalan (sisa panen petani). Entah karena gratis apa karena kentang Dieng beneran enak hehe…

Mendekati pergantian hari, rupanya ada beberapa pendaki yang juga memilih Pakuwaja untuk camping. Tak lama berselang Bang Jeni Sindoro Sumbing bersama seorang teman menyusul, lalu  Widodo Setyo P , Kaka’ Jail Puol, Aji Setiabudi  dkk juga menyusul bersepuluh lewat jalur Desa Sembungan (Sikunir). Total malam itu tak ada 30 orang yang camping di Pakuwaja. Meski udara dingin menusuk tak menyurutkan kami untuk bangun dan bersiap menunggu sunrise pagi itu… *terlalu indah buat ditulis, dan yang jelas view juga spotnya bagusan Pakuwaja dibandingkan dengan Sikunir #IMHO 🙂

Tuhan memang Maha Cantik 🙂 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selesai sarapan dengan nasi goreng buatan chef Mohammad Lutfi Hidayat dan Mas Te *lagi-lagi memang lebih enak kalau anak cowok yang masak 🙂 , lalu turun untuk menyusuri tepian kaldera Pakuwaja (kemarin belum puas karena sudah hampir gelap). Rupanya yang dimaksud dengan paku bumi itu memang berbentuk batu yang lancip, berada di tengah dengan kedua sisi yang dulunya merupakan telaga (sekarang mengering). Menurut masyarakat sekitar air telaga tersebut mengalir ke Telaga Cebong. Setelah puas mendokumentasikan, kamu pun melanjutkan perjalanan kembali ke Dieng.

Rupanya ketika sampai di Telaga Warna antrian mobil sudah sedemikian mengerikan, bahkan di pertigaan Dieng macet total dan stuck tidak bisa bergerak (>__<). Sorenya teman-teman dari Gamananta Malang melanjutkan ke Telaga Dringo, sedang yang lainnya kembali ke rumah masing-masing. Perlu 1,5 jam dari Dieng ke Wonosobo (biasanya cukup 30 menit), dan akhirnya sampai rumah jam 18.00 wib.

PS : dokumentasi foto keroyokan…ntah dari kamera siapa saja 😀 , kalian memang kereenn….

Menutup Agustus Di Pakuwaja Dieng

Berbarengan dengan acara tahunan di Dieng ; Dieng Culture Festival saya pun bersemangat untuk ke Dieng. Barangkali beruntung bisa melihat embun es pagi harinya karena menurut kabar dari teman di Dieng suhu disana sudah ekstrim, beberapa kali mencapai 4ºCelcius. Sama halnya sewaktu di Posong kemarin sewaktu mendekati subuh.

Pergi ke Dieng tidak hendak mengikuti DCF karena jelas ramai dan mungkin sekali berdesak-desakkan dengan pengunjung lainnya. Tapi saya dan beberapa teman dari Bumiayu, Jakarta, Malang, dan juga dari Dieng lebih memilih menjelajahi Gunung Pakuwaja 🙂 . Lokasi yang masih asing tentunya namun memiliki view yang tak kalah rupawan dari Gunung Prau atau Bukit Sikunir. Konon di puncak Pakuwaja ini terdapat sebuah batu berbentuk lancing menjulang vertikal yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai sebuah paku raksasa yang digunakan untuk memperkuat Pulau Jawa (sumber pesonadieng.com).

H-4 rasanya masih lama, tetapi packingnya sudah siap dari semalam 😀 . Semoga cuaca bersahabat dan perjalanannya lancar, aamiin… Ada yang kebetulan di Dieng dan bingung mau naik kemana? yuk gabung saja…

Ada Apa Di Embung Kledung Temanggung?

embung kledung temanggung

Sudah lumayan lama mendengar nama Embung Kledung ini, bahkan tidak terhitung berapa kali lewat setiap kali ke Semarang. Dan tak pernah terpikirkan buat sekedar mampir. Iya, saya bisa membayangkan embung (waduk) ya gitu-gitu saja… Tapi berhubung kemarin (16 Agustus 2014) diculik sama Bima Putra Pratama , Yoanita Zahra Puspita , Aulia Ramadhani , Aninda Wulan Pradani , dan  Ayu Aprilia Sianida, akhirnya saya mengusulkan mengunjungi tempat ini yang tak jauh dari lokasi Posong Temanggung sejalur dengan jalan pulang ke Purwokerto.

Ancer-ancer menuju Embung Kledung Temanggung ini : dari Purwokerto (barat) perbatasan Wonosobo – Temanggung (RM Dieng Pass) ke timur ±500 meter kiri jalan nanti ada makam, jalan masuk embung setelah makam persis (setelah rest area kledung). Dari Semarang atau Yogyakarta menuju arah Wonosobo, dari RS. Ngesti Waluyo Parakan ±8 KM ke barat, setelah SPBU Kledung lurus ke barat sedikit sekitar 400 meter kanan jalan nanti ada gang kecil sebelum makam persis.

peta embung kledung

Begitu masuk gang menuju embung, nanti ada pertigaan ambil kanan, ada pertigaan lagi ambil kanan. Tak jauh dari pertigaan terakhir ada lapangan dan sudah bisa terlihat tulisan Embung Kledung. Fasilitas : kamar kecil, warung jajanan (yang sepertinya hanya buka hari tertentu saja), lahan parkir luas, serta beberapa bangku yang disediakan untuk menikmati embung.

embung kledung di temanggung

Embung atau waduk yang terdapat di Kledung merupakan kolam tempat penampungan air berukuran 83 meter x 83 meter, yang berfungsi untuk persediaan air bagi penduduk setempat dan lahan pertanian mereka disaat musim kemarau. Di sekililing embung pun dipagari untuk mencegah pengunjung turun bermain air di waduknya.

embung kledung - temanggung

Sebagai tempat untuk berfoto-foto, Embung Kledung dengan latar belakang Gunung Sindoro atau Gunung Sumbing memang bagus. Bahkan air yang di waduk begitu jernih, sampai-sampai kita bisa melihat pantulan layaknya cermin 😀 . Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau menjelang sore, karena siang hanya mendapatkan panas 😀 . Hanya saja selain penampungan air yang berbentuk kotak, dan pemandangan gunung tak ada lagi yang dapat dilihat. Mungkin alangkah baiknya jika pemda setempat menambah fasilitas lainnya yang bisa membuat sebuah kolam penampung air hujan lebih menarik lagi untuk didatangi dan bisa dijadikan sebagai tempat wisata.

Jika Sikunir Sudah Mainstream, Berburulah Golden Sunrise Di Posong – Temanggung

Bukit Sikunir. Siapa yang tak kenal dengan salah satu bukit yang berada di Desa Sembungan Dieng, desa tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Kondisi sekarang jauh berbeda dengan dulu, sekarang lebih tepat dengan sebutan ‘pasar’ Sikunir 😀 . Iya, karena untuk naik dan turun selain harus antri, di atas pun terkadang ‘berebut’ tempat strategis untuk menanti kedatangan sunrise.

Dan sayangnya dengan Sikunir yang makin terkenal berimbas pada banyaknya pengunjung. Saya dan beberapa teman yang biasa mendaki bersama jadi kurang bisa menikmati sunrise dan pemandangan lainnya (kecuali lautan manusia hehe). Bukit Sikunir sudah mainstream buat dijelajah 🙂 .

Pertama kali ke Posong tahun lalu (ceritanya di sini) masih sepi dan jarang orang, pada 16 Agustus 2014 kemarin, kami berenam kesana lagi dengan mobil hanya untuk berburu sunrise. Berhubung waktunya terbatas, jadi tidak memungkinkan untuk camping. Kenapa Posong dipilih? Alasan utamanya, mudah dijangkau dengan kendaraan, dan tidak perlu bersusah payah untuk jalan jauh karena gardu pandang atau gazebo berada di dekat dengan tempat parkir.

Bermula dari ajakan Bima Putra Pratama , Yoanita Zahra Puspita , Aulia Ramadhani , Aninda Wulan Pradani , dan  Ayu Aprilia Sianida , lebih tepatnya diculik buat jadi penunjuk jalan (v__v). Hari jumat, 15 Agustus 2014 jam 21.30 wib Bima sudah menjemput di rumah, dan menjemput satu orang lagi kemudian berangkat menuju Posong. Sampai di Posong sekitar jam 01.30 wib.

Sewaktu sampai disana, rupanya ada satu dome yang berisikan orang dari Dinas Pariwisata Semarang. Dan baru tahu juga kalau Posong itu sekarang buka mulai jam 04.00 – 17.00 alias kami terlalu awal. Tapi mas-nya yang jaga disana baik hati, kami pun tidak dikenai tarif lebih mahal 🙂

Pemandangan bukit bintang dari Posong terlihat menakjubkan, bersaing dengan isi langit saat itu. Bergantian mengabadikan momen bukit bintang sampai puas. Menjelang subuh udara makin dingin, menunjukan suhu 4°C. Bahkan memakai dua jaket pun masih berasa dinginnya sampai ke tulang (>__<). Sambil menunggu jam 05.00 kami sempat masuk ke mobil lagi untuk menghangatkan diri.

Sekitar jam 04.30 datang lagi rombongan dengan mobil, dan beberapa motor. Di Posong tak perlu berdesak-desakkan atau berrebut mencari tempat 🙂 . Saya akhirnya menyusul Bima Putra Pratama yang sudah terlebih dahulu ke gazebo atas, dan disusul yang lainnya. Pagi itu kami mendapatkan golden sunrise yang sempurna. Gunung Sindoro tampak menjulang tinggi di belakang tempat kami berdiri, dan Gunung Sumbing tampak megah di depan kami, lalu tak jauh dari Gunung Sumbing tampak Gunung Merbabu, Merapi, Muria, Ungaran, dan Telomoyo.

Rupanya ada beberapa perubahan fasilitas, musholanya dipisahkan berdekatan dengan kantor petugas Posong, warung kecil berada di belakang mushola, kamar mandi, tempat parkir, camping ground, beberapa tambahan gazebo kecil selain tiga gazebo besar, area outbond, dan ada listrik yang menggunakan solar panel. Tarif wisata Posong IDR 4.000 / orang, tarif camping (jika membawa alat sendiri) IDR 25.000 / orang, tarif parkir mobil IDR 3.000. Jika pengunjung ingin menikmati suasana Posong malam hari bisa camping disana, disewakan pula perlengkapan camping (sepaket dengan makan pagi).

Beberapa hal kecil yang mungkin perlu diperhatikan pengembang ; lokasi tempat sampah yang berada di bawah tempat parkir terlihat tidak enak dipandang, dan sayangnya meski akses menuju Posong mudah karena bisa dilalui dengan mobil atau motor tetapi jalannya sempit *perlu berhati-hati.

Posong menjadi pilihan selain Sikunir Dieng untuk memburu golden sunrise. Kita tidak perlu bersusah payah naik ke bukitnya, juga sekarang ini Posong masih sepi jadi tidak seperti ‘pasar’ Sikunir 😀 . Untuk pesan tempat silahkan hubungi HP 081392973130 atau Zuny Djogoreso (facebook).

Ini beberapa foto yang sempat diambil :

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pendakian Gunung Pangonan (Lembah Semurup), Sisi Lain Dieng…

Sabtu, 19 April 2014.

Hari kedua. Setelah dari Telaga Dringo kami sarapan di warungnya Om Alif (pemilik http://www.pesonadieng.com) dan membeli beberapa makanan juga minuman. Sambil menunggu  Agus Pramono teman yang asli dari Dieng, rencananya kami akan menumpang mandi dan mengisi baterai kamera juga peralatan lainnya. Berhubung Pram tahu rutenya, kami pun meminta Pram untuk ikut ke Gunung Pangonan, Dieng.

Gunung Pangonan (Lembah Semurup) memang kalah pamor dengan Bukit Sikunir dan Gunung Prau. Justru itu… kami lebih tertarik, karena yang lainnya sudah penuh dengan orang yang berbondong-bondong kesana, apalagi musim liburan atau akhir pekan. Setelah selesai persiapan dan packing ulang kami memulai perjalanan (jalan dalam arti sesungguhnya hehe :D).

Lembah Semurup – Gunung Pangonan berada di ketinggian 2300 mdpl, berada di dua kabupaten : Wonosobo dan Banjarnegara. Tidak ada sinyal HP, jadi untuk yang mau kesana harap bersiap-siap menjadi orang terisolir 😀 . Lokasi ini oleh dinas setempat baru akan dikembangkan untuk menjadi daerah wisata yang mengunggulkan padang savana dan pohon cemeti. Konon dari lembah inilah pertama kali tanaman Purwaceng yang berkhasiat itu ditemukan 😀

Beruntung ada Pram yang tahu seluk-beluk jalan tembus, lewat lahan samping jalan pintu masuk menuju Candi Arjuna. Dan kami pun masuk gratis (jangan ditiru lho), kalau saya sendiri sudah beberapa kali ke Candi Arjuna, Desi Amelia sudah pernah satu kali , dan MaRia Ulfah belum sama sekali. Jadinya kami berhenti sebentar hanya untuk foto-foto. Melewati kawasan candi lalu naik ke Museum Kaliasa Dieng yang berada di seberang Candi Gatotkaca. 

Setelah melewati ladang warga nanti ketemu dengan perkebunan yang penuh dengan semak belukar mengintari Kawah Sikidang. Trekkingnya juga tidak terlalu berat, banyak jalan landai. Di tengah perjalanan kami diguyur hujan hingga sampai ke Lembah Semurup. Kawasan lembahnya (kawasan pabunan) terdapat dua telaga ; yang satu kering sudah tak berair, dan yang satunya airnya sudah susut. Menurut cerita kenapa air telaganya tidak ada, hal ini dikarenakan mengalir ke Telaga Merdada.

Berhubung hujan dan tidak memungkinkan mendirikan dome di lembahnya (biasanya di depan telaga yang masih ada sedikit air), kami terpaksa melanjutkan menuju tebing dekat kawasan hutan. Kebetulan ada satu pohon yang bisa melindungi kami dari angin. Ada kejadian lucu, karena ingin cepat sampai ke tujuan, kami memotong jalan yang rupanya baru kami sadari kalau itu adalah telaga yang ‘mengering’. Semak ilalang yang tinggi membuat kami susah sewaktu ‘membikin jalan’.

membuat jalan baru - dulunya ini telaga lho

membuat jalan baru – dulunya ini telaga lho

naik pohon itu biasa, naik ilalang di tebing itu baru keren hehe...

naik pohon itu biasa, naik ilalang di tebing itu baru keren hehe…

Begitu sampai dan hujan reda kami buru-buru memasang dome. Langit di Dieng memang tak mudah ditebak. Sebentar gerimis, sebentar hujan, lalu terang dan cerah. Sore itu germisnya lumayan awet, memaksa kami untuk berlama-lama di dome. Menginjak malam cuaca langsung cerah, bintang dan bulan terlihat luar biasa di Lembah Semurup. Dan seperti di Telaga Dringo kemarin, cahaya bintang dan bulan sudah cukup membuat terang dome :p

lokasi camping kita niiih :)

lokasi camping kita niiih 🙂

dari sini lembah dan pemandangannya terlihat keren...

dari sini lembah dan pemandangannya terlihat keren…

Seperti makan siang, makan malam kami istimewa karena tadi sengaja beli soto dan nasi *biar tidak terlalu ribet. Di lembah sini ternyata tidak ada bunyi jangkrik, hanya ada bunyi burung dan angin yang tertiup di sela-sela pepohonan. Babi hutan yang katanya masih banyak pun tidak kami temui… Malam itu jadilah Lembah Semurup, Gunung Pangonan milik kami berempat \(^_^)/.

Tidak ada pemandangan sunrise, tapi pemandangan kabut pagi dan embunnya di hamparan lembah benar-benar menakjubkan. Jika mau melihat sunrise, kita harus naik melewati hutan ke puncak Gunung Pangonan.

sunrise di lembah semurup dieng - gn pangonan

sunrise di lembah semurup dieng – gn pangonan

embun...

embun…

Sepanjang pagi itu cuaca benar-benar bersahabat. Dataran tinggi Dieng memang kaya akan pemandangan yang luar biasa, dimana masing-masing tempat memiliki keunikan tersendiri. Demikian juga di Lembah Semurup – Gunung Pangonan Dieng ini.

embun pagi - lembah semurup dieng

embun pagi …

lembah semurup dieng - gunung pangonan

lembah semurup dieng – gunung pangonan

lembah semurup dieng - gunung pangonan

lembah semurup dieng – gunung pangonan

Trekking pulang menyusur ke Kawah Sikidang, persis di atas kawahnya yang besar itu 😀 . Kami berempat jadi tontonan karena melewati ‘pintu masuk’ yang mungkin terlihat nyleneh, dari pegunungan. Ini lokasi wisata kedua yang kami masuki gratis *jangan ditiru.

Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang DIeng

Kawah Sikidang DIeng

Masih dengan jalan kaki keluar dari komplek kawah menuju ke Telaga Warna, yang menjadi lokasi terakhir tujuan kami. Tentunya lewat jalan belakang *jangan ditiru ya. Bahkan kami sempat dikomentari sama rombongan yang memakai motor, entah komunitas mana. “Lho kalian jalan kaki kok sudah sampai di dalam Telaga Warna”, kata salah satu dari mereka. Dan sangat tidak mungkin kami jawab : ya kami terbang haha…

telaga warna....

telaga warna….

akhirnya...perjalanan selesai juga :D

akhirnya…perjalanan selesai juga 😀

rehat dulu sebelum pulang ke daerah masing-masing

rehat dulu sebelum pulang ke daerah masing-masing

Dari Telaga Warna kami pun kembali jalan kaki menuju Dieng kota, berpisah dengan Pram menuju Alun-Alun Wonosobo untuk janjian dengan Kaka (mengembalikan kompor dan matras). Ongkos bus dari Dieng ke alun-alun IDR 10.000 per orang. Lalu melanjutkan ke terminal Wonosobo (naik angkutan kota warna kuning, bayar IDR 3.000 per orang), dan pulang ke daerah masing-masing. Amel ke Jakarta, sedangkan saya dan Emyhu ke Purwokerto.