Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #8

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Apa kabarnya kamu? ketika menulis surat ini hujan datang sedang deras – derasnya. Lalu di langit yang tampak memutih semuanya, aku melihat burung terbang rendah menerjang angin dan juga hujan. Aku tidak tahu itu burung apa namanya, tapi yang aku ingat malah burung Kokokan. Burung yang pada masa tertentu melalang buana meninggalkan sarangnya, lama… dan kembali pulang pada waktunya pula. Dan selalu begitu, berulang – ulang…

Gayatri …, aku mau cerita soal mimpi. Mungkin sedikit kadaluarsa karena mimpi itu sebenarnya datang bulan lalu, pada hari keduapuluhsembilan. Mimpi singkat soal orang yang berteriak. Dia yang barangkali namanya tak bisa disebutkan disini, cuma berteriak lantang “Gayatri akan menghubungi kamu secepatnya”. Kamu pun memberiku pesan singkat, hanya tiga huruf : “cek”. 

olipe bw

Ah, tiga huruf ataupun berapa sama saja. Terima kasih sudah menghubungiku lewat mimpi, lalu obrolan, dan pertemuan yang seperti mimpi. Lupa lagi, itu memang sekedar mimpi  🙂

Mungkin cuma Tuhan yang tahu, kenapa ada banyak rangkaian yang saling terhubung dan menghubungkan satu sama lain. Tuhan menciptakan untuk sesuatu hal tentunya.

Gayatri, dimana pun kamu berada sekarang…

Jaga sehatmu sebelum sakitmu, semoga Tuhan selalu memelukmu. Tak perlu khawatir, aku akan menjaga si merah tetap memerah dan si biru makin membiru. 

Iklan

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #7

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Aroma lembaran kertas lama yang berjejer rapi di rak tercium, dan aku nyaris bersin olehnya. Aku beralih ke deretan buku baru, dan mengambil dua diantara yang ada disana. Lalu aku teringat buku yang sempat belum terselesaikan (dulu), yang sempat aku sembunyikan di rak paling atas. Berharap petugas tak menemukannya, dan memudahkan aku untuk membacanya kembali. Tahukah kau Gayatri, semuanya berubah… aku tak bisa menemukan buku yang aku sembunyikan dulu.

Rak buku itu berpindah ke lantai dua. Berubah menjadi arsip koran dan bacaan dengan huruf Braille, di seberang rak itu deretan meja baca. Sudah pasti aku memilih yang dekat dengan jendela, bukan karena pemandangan tapi karena lantai dua AC tidak pernah dinyalakan 😦 .

buku aku

Dua buku yang aku pinjam belum tersentuh orang lain, baru menyelesaikan satu halaman yang harus aku baca dengan perjuangan. Aku membaca, dan aku teringat…. kamu Gayatri. Lebih banyak melamun daripada membaca 😀 . Lebih banyak memandang jendela, namun tak melihat apa – apa. Yang jelas cuaca panas meski langit mendung.

Gayatri… dimanapun kamu berada, jaga diri kamu baik – baik. Kalimat terbaik aku simpan dalam do’a saja 🙂  . Ada angin, sedikit berharap ada kabar.

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #6

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Akhir-akhir ini banyak sekali tangisan dan ratapan terdengar. Hujan nampaknya tidak menjadi sahabat bagi kebanyakan orang di tempat itu. Meski itu sesuatu yang sebenarnya kita suka. Hingar bingar orang entah itu relawan atau ‘wisatawan’ saling berlarian diantara hujan.

Tanah basah sisa hujan sepertinya meninggalkan jejak kamu di sini. Lalu kemudian ada harapan, bahwa ada banyak tangan dan kaki yang kelak membantu mereka, termasuk kamu – entah dengan cara apa. Dan sepertinya, bagianku adalah turun ke jalanan, ke pasar, lalu ke ruang penampungan. Di sana tidak ada warna kulit, itu juga yang aku suka.

Aku kehilangan kata. Tapi tidak dengan rasa bahagia 🙂 Kita selalu percaya bukan, bahwa Tuhan selalu bekerja dengan cara yang unik. Seperti membaca buku – meski belum juga terselesaikan- . Itu (salah satu) nikmat (bahagia) yang sederhana.

Alamat tak pernah salah. Karena ia tahu rumah mana yang harus diketuk. Ini mungkin salah satu cara atas ketidaksabaranku. Seperti biasanya…

Dimanapun kamu, semoga Tuhan selalu memelukmu.

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #5

Dear Gayatri Rajapatni,

.

November datang. Dan sepertinya hujan yang turun setiap hari menghapus jejak-jejak yang sempat kamu tinggalkan kemarin. Sayangnya aku tak memiliki penciuman setajam anjing atau kucing. Masih teramat beruntung beberapa kali hujan, aroma tanah bisa aku cium.

Ketika melihat hujan dan petir. Rasanya seperti melihat kesedihan dan kemarahan yang bercampur jadi satu. Gayatri, dimana pun kamu berada… aku kehilangan teman ngopi terbaik, karena kesalahanku sendiri. Dan meski prosesnya rumit, waktu tak bisa diubah bukan? Barangkali hanya butuh kedewasaan untuk itu.

Hujan dan kopi, lalu buku. Mungkin tiga hal itu yang bakalan sering menghiburku. Ada kalanya apa yang kita inginkan benar-benar terjadi, ada kalanya pula sebaliknya. Bulan ini, keduanya terjadi. Aku butuh penghiburan, demi apapun itu. Dan berharap kamu membacanya lalu meninggalkan jejak untuk bisa aku endus. *pengharapan seperti ini seperti memegang angin saja sebenarnya 😦

Gayatri, apakah kamu juga (sedang) membaca buku?

Dan dimana pun kamu, jaga diri kamu baik-baik, jaga sehatmu sebelum sakitmu…

.

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #4

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Sudah lama semenjak surat terakhir yang aku buat untukmu, tak terdengar kabar olehku tentangmu. Apakah kamu masih hidup? Ah, dimana pun kamu berada sekarang semoga kamu bisa dengan baik mengendalikan tata surya kamu.

Tiba-tiba aku ingat pertama kali kamu menceritakan kenapa namamu Gayatri Rajapatni. Terinspirasi oleh perempuan dibalik kejayaan Majapahit, ibu dari Ratu Sri Gitarja dan nenek dari Hayam Wuruk. Putri muda yang cerdas, berwatak penuh kasih, dan sabar juga mampu menjadi semangat untuk orang lain. Sama sepertimu aku kira.

Aku yakin, seperti halnya Gayatri di jaman dahulu pun demikian Gayatri dimasa sekarang memiliki semangat untuk berjuang demi orang-orang yang menyayanginya selama ini. Aku juga yakin, Gayatri dimasa sekarang memiliki kearifan untuk berfikir bahwa proses hidupnya yang berliku merupakan ujian juga batu loncatan agar menjadi perempuan yang kuat dan sukses dalam menghadapi hidup yang semakin keras. Aku yakin pula, Gayatri dimasa sekarang pun memiliki rasa penuh kasih untuk memaafkan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Sepekan lagi ramadhan berakhir, tidak terasa ya… Aku masih ingat pesan dari adikku tentang ramadhan. Sepuluh hari pertama adalah rahmat, sepuluh hari kedua adalah ampunan, dan sepuluh hari terakhir adalah dibebaskannya dari api neraka. Semoga hati kita dibersihkan dari penyakit hati, mendapatkan berkah ramadhan, juga ampunan dari Sang Pemilik Hidup. Percayakah kamu? kita akan diuji terus menerus sampai ikhlas… ikhlas yang sesungguhnya.

Gayatri, dimana pun kamu berada…

Sempatkanlah berkirim kabar padaku ketika pulang (ke ruang yang selalu membuatmu ingin lekas pergi lagi). Jaga dirimu baik-baik, jaga sehatmu, juga hidupmu baik-baik…

.

PS : Cuaca tempatku seringkali hujan, dan aku menyukainya. Apalagi aroma udara selepas hujan. Aku pun masih ditemani buku… cuma itu yang setia?

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #3

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Apa kabarnya kamu disana? Entah ini hari keberapa, aku tidak mau menghitung. Tapi senang kamu masih hidup, dan menghidupkan bagi orang lain. Badai apapun yang bergemuruh di sana, semoga saja kamu selalu menjadi orang yang tak lupa untuk bersyukur. Rumah disini selalu terbuka, dan kuncinya selalu aku taruh di tempat yang sama.

Tulisan kamu sama kacaunya dengan tata surya kamu. Tapi ada bagian yang membikin haru-biru, tulisan bersambung tertanggal dua minggu yang lalu (13314). Akhirnya aku bisa bikin kamu sulit menemukan kata-kata alias buntu :p

Berhubung satu-satunya kesamaan kita cuma angka dua puluh delapan. Semoga besok pas tanggal itu ada kabar yang melegakan. Bisakah barat menjadi timur? Ah iya, tak peduli barat atau timur. Itu sama saja.

.

Ps : Kamu ingat Dobby peri rumah di cerita Harry Potter? Rasanya aku pengin kasih kaos kaki kumal untuk bisa membuat seorang Dobby menjadi peri rumah yang bebas. Merdeka dalam arti yang sebenarnya  🙂

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #2

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Apa kabarnya kamu? Berbulan-bulan tidak ketemu, semoga masih hidup, dan masih baik-baik saja. Di sini masih sering hujan. Pernah denger lagu ini Oras loro malirin??  Ah, pasti belum. Sebenarnya gegara arti oras loro malirin saja siih akhirnya penasaran. Biar gak usah nyari di google sudah aku tulis nih lirik dan artinya. Itu lagu ajeb-ajeb penghilang mabok kendaraan lho *becandaaa… 

 

Oras loro malirin (waktu senja hari)
Teo tanis laka, teo tanis laka (-anak- burung merpati menangis)
Tanis nan ian inan (menangisi induknya)
Rosinas rae rosinas (yang terbang dengan pesawat cina)

Nakur mota rua tolu (melintas dua tiga sungai)
Kiak malu buka kiak malu (mencari kerabat)
Bukan metan kiak malu (ketika menemukan kaum kerabatnya) 
Tau loru tanis tau loru (menangis sepanjang hari ada sepanjang hari)

Ngomong-ngomong aku minta temen (Mardee) yang suka kesibukan buat utak-atik. Keren kan…  *bisa nebak ini dimana :p

TNGP

 

Ini ‘surat’ sudah ditulis sejak akhir Desember, tapi cuman nyempil di konsep. Ceritanya aku lagi bersih-bersih konsep tulisan yang banyak gak diposting buat tak delete

Hampir jam tujuh, waktunya beranjak. Semoga cuaca membaik, waktu membaik, dan tentunya kamu selalu baik-baik saja… *dadah-dadah

Ps : Oh iya, Lecker Rumah Kopi dan Resto yang ada di Jl. Frans Seda – El Tari II, Heart Coffee Cafe di Jl Cipto sebelah galeri indosat, atau OCD Cafe yang ada di pantai Lasiana barangkali patut dicoba *mikir perjalanan penuh tikungan hehe…