Sepagi ini sudah ketemu rindu

Sepagi ini sudah ketemu rindu… Iya, pagi dengan cepat memapas Embun. Lalu tanpa bisa dicegah kerinduan itu lagi-lagi memuncak. Hati memang tak penah bisa dicegah dan dikendalikan, ucapmu suatu hari. Tapi, aku tetap bergeming kalau itu salah.

Kita itu seperti air dan minyak. Seperti bumi dan langit. Juga seperti siang dan malam. Hanya karena urusan hatilah kita jadi saling mengikat dan terikat. Nyatanya memang indah, atas perseteruan kecil lalu kadang membesar tapi selalu berakhir dengan kecupan manis di dahi Embun 🙂

Do’a-do’a terucap pagi ini. Atas nama rindu.

.

.

#MonologLintang

Iklan

Mesin Waktu

#Monolog Lintang

.

Pagi ini aku menyapa Embun, lalu ingat kembang api yang semalam aku nyalakan. Perasaanku nyaris sama ketika kembang api itu aku sulut lalu menciptakan semburan bunga api ke udara. Kangenku memuncak, rasanya nyaris meledak.

Pagi ini aku mengirim pesan pada Embun, tentang rinduku yang membelenggu. Lalu dengan sabar kamu selalu menyuruhku untuk menunggu. Tunggulah waktu untuk bertemu, katamu.

Pagi ini ingat Embun, lalu tiba-tiba ingat Doraemon…. Lho?? Lebih tepatnya ingat mesin waktu, alat yang dimiliki Doraemon. Lalu, aku akan menjelajah ke mesin waktu karna disanalah aku bebas kemana saja, kapan saja menemui Embun….

Ah… Kali ini aku dan Embun sama-sama harus cukup dengan bertemu di mimpi. Tak apa, cukup tahu Embun memiliki rasa yang sama…..

Kangen Itu Ga Perlu Rumus

#Monolog Embun

“Kangen itu ga perlu rumus “, kataku… Waktu kamu memberikan pengandaian soal kangen atau rindu ke dalam rumus fisika. Tapi aku lebih menyukai dengan pengandaian : seperti minum air laut, semakin banyak semakin haus… Lalu mendadak aku menjadi GeeR sendiri, kenapa Lintang menanyakan perihal rumus Newton itu adalah upaya untuk memberitahukan bahwa Lintang akan datang menemuiku tiba-tiba.

Dan pesan itu mendadak membuatku terlonjak. Deretan angka acak yang harus aku pecahkan dikirim oleh Lintang….

pesan

Ah, Lintang memang selalu mengejutkan… 🙂  Selalu saja berhasil membuatku tersenyum. Rasanya kangen itu semakin menuju nyata adanya…

Embun, Apa Kabar?

Embun, apa kabar?? kangen….

Berkali-kali Lintang melihat pesan yang hendak ia kirim ke Embun. Lalu segera mendelete pesan itu, tersenyum sendiri. Lintang merasa geli karena hampir tiap hari selalu berkirim pesan dan kabar, jadi kenapa ia menulis pesan tadi? Menanyakan kabar dan memproklamasikan kalau sedang kangen. Pesan tadi pun Lintang ganti….

Pagi Embun, bersiap ya 11.11 nanti….

Selesai mengirim pesan, dengan segera Lintang beranjak menuju belakang. Membuat segelas minuman air jeruk nipis hangat dan roti bakar keju, rutinitas hari minggunya yang selalu ia suka. Ah yah, mendadak Lintang teringat satu minggu yang lalu, waktu menghabiskan akhir pekannya bersama Embun. Pagi itu Embun membuatkan Lintang masakan kesukaannya. Dan itu membuat Lintang semakin sayang sama Embun.

…….

Tepat pukul 11.11 wib Lintang menemui Embun, menghabiskan akhir pekan bersama. Embun pun tersenyum menyambut Lintang. Mengobrol dengan Embun selalu saja membuat waktu seperti lebih cepat. Sore itu Lintang mengajak Embun ke bukit bintang, menempuh perjalanan singkat untuk melihat sunset.

Bukit bintang. Sunset. Lintang. Embun. Keduanya lebih banyak diam, sepakat untuk menikmati langit sore hari. Lintang mendekap erat Embun dari belakang.

Apakah kamu bosan? Rutinitas monoton seperti ini?”, bisik Lintang

Tidak, malah sebaliknya…bersamamu selalu istimewa”, jawab Embun sambil mengeratkan dekapan tangan Lintang.

Bangku Putih

#Monolog Embun

.

Bangku putih di lapangan kecil itu selalu menunggu untuk ditempati…

bangku putih

.

Dari kejauhan, sosok itu terlihat seperti bayangan dalam gelap. Duduk di bangku panjang putih di lapangan belakang. Selalu saja di jam yang sama, diatas pukul 21.00 sampai jam 01.00 dini hari. Maka dengan segera aku akan turun dari lantai atas, kemudian menemuimu dan menemanimu melewati malam entah kenapa dan untuk apa.

Duduk di bangku panjang putih itu, aku… kamu…

Tahukah kamu? aku seringkali sengaja menyandarkan kepalaku ke bahumu. Dan kamu tak pernah berreaksi selain terus mengajakku berbicara sambil sesekali melihat kelinci yang ada di lapangan atau diam menatap langit. Ah, masa bodoh. Di dekatmu saja aku sudah merasa senang, sekalipun jantungku berdegub kencang. Rasanya ingin sekali menciummu karena berang.

Hingga bulan bergeser, dan dinginnya malam menyadarkan betapa kita selalu saja dibuat larut. Untuk sesuatu yang tak bisa kita jelaskan.

.

*epik lain

Saat ini…. aku mendapatimu terbaring di sebelahku, masih tertidur dengan pulas. Dengan mudahnya aku atau kamu mengungkapkan rasa sayang itu. Kita sama-sama terbuai, saling mencumbu dan merayu.

“Sekarang aku benar-benar mendapatkan hati, fikiran, dan fisikmu Lintang”, ucapku dalam hati.

“Kenapa tersenyum sendirian?”, tanya Lintang lirih, terbangun dari tidurnya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya…bahagia di dekatmu…”, jawabku sambil tersenyum lalu memeluk Lintang.

kamar tengah

Lintang mencoba mengingat kamar tengah itu. Sebuah ruang ukuran sedang yang berisi single bed, lemari kecil, dan meja lengkap dengan sebuah kursi di sudut jendela. Meja-kursi itu menjadi tempat favorit Lintang dan Embun. Biasanya salah satu duduk di kursi dan satunya lagi di tempat tidur.

Kamar tengah. Di sana, disalah satu dindingnya tertulis nama mereka berdua disertai simbol kasih sayang. Setiap kali melihatnya selalu membuat Lintang dan Embun tersenyum sekaligus takjub.

Kamar tengah. Dimana dimulainya simpul dari benang merah yang menyatukan keduanya, lalu meleburkan rasa. Lintang dan Embun selalu mengolok-olok, siapa yang memiliki rasa sayang lebih besar diantara mereka. Siapa yang lebih berani untuk memulai, menepiskan ego dan sekat yang hadir diantaranya.

Kamar tengah. Hanya menyisakan bayangan. Selalu menyimpan rapi dan meredam kemarahan diantara Lintang dan Embun. Rasanya Lintang ingin sekali membawa pita pembatas yang biasa dipakai oleh polisi di tempat kejadian perkara. Lalu menaruhnya di depan pintu kamar tengah, biar tak seorang pun berani masuk.

“aku tak akan merubah apapun yang ada di sini”, seru Embun suatu hari saat berada di kamar itu.

“kenapa??”, tanya Lintang.

“biar kenangan atasmu tidak hilang, selalu bisa aku cium”, jawab Embun.

(Senandung Rindu) Algoritma Djikstra

#Monolog Lintang

.

Rinduku itu selalu tertuju ke arah Timur Laut. Aku bahkan sempat mengutak-atiknya dengan rumus matematika, Algoritma Djikstra namanya…. Salah satu metode untuk memecahkan masalah pencarian rute terpendek. Algoritma ini biasanya diterapkan pada sebuah aplikasi pencari rute jalan yang terdekat dari suatu daerah ke daerah lainnya.

Djikstra

Aku selalu mencari cara agar jarak 654 itu bisa aku tempuh dengan rute dan waktu yang lebih pendek dari yang seharusnya. Aku bahkan harus berdiskusi dengan seorang kawan lulusan matematika, yang kebetulan skripsinya aku tahu mengenai Algoritma Djikstra.

Dia (kawanku) bahkan tertawa namun tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya mengapa aku begitu ngotot ingin mempelajari Algoritma Djikstra ini. Dan aku berterus terang, kenapa aku melakukan ini semua demi sebuah nama, Embun. Nama yang selalu aku sebut lebih banyak setiap harinya, serta nama yang hampir mengisi 3/4 isi kepalaku.

Embun, jika ada dua pilihan kamu akan memilih yang mana? Jarak tempuh 4 jam atau 40 menit?, kataku suatu hari. Selama ini kita berputar-putar memakai rute 4 jam untuk sebuah rindu yang nyata. Dan selalu saja kau lebih memilih  rute terjauh dari pada rute terpendek.

Ada satu kalimatmu yang mengena…

“Suha, bintang yang berkelip dari kejauhan. Disaat jauh maka aku bisa merasakan keberadaannya”

Apakah karena hal itu, maka kau lebih memilih jarak ini….. Membiarkan rindu bertumpuk lalu menyimpannya??

Lalu aku kembali menuliskan rumus Djikstra itu pada selembar kertas, mengutak-atiknya kemudian menghela nafas… Kertas itu aku remas, kemudian melemparnya ke dalam tempat sampah. Untuk apa aku bersusah payah untuk mencari rute terpendek, hanya agar rindu itu tersampaikan. Bukankah Embun sudah ku dapatkan hati, pikiran, dan fisiknya…. 🙂

.