Terima Kasih, Kanebo!

Kebayang pun tidak, menggunakan kanebo untuk kompres. Tapi begitulah… salah satu dari kami mendadak demam. Mencari handuk kecil atau sapu tangan di setiap sudut rumah kos tidak ketemu. Lalu teringat kanebo yang ada di bagasi motor.

“Tenang, kanebonya sudah dicuci bersih kok”, ucapmu demi melihat mimik mukaku yang penuh protes.

“Ngawur, masa mau ngompres sama kanebo”, jawabku masih berusaha menolak.

“Sudahlah, ini darurat… tiduran sana…”, katamu sembari menyiapkan air hangat beserta kanebo.

Aku tidak berusaha untuk melancarkan penolakan lagi, merebahkan tubuh, kemudian menerima berkali-kali kanebo hangat di kepala. Hati mungkin biasa saja, tetapi di kepala pikiran ramai oleh celoteh-celoteh yang tak bisa diucapkan.

“Wah, lumayan setidaknya demamnya turun 0,01 haha… tapi yang penting mukanya sudah tidak nampak seperti kepiting rebus kok”… 😀

Kami berdua tertawa terbahak-bahak, demi kekonyolan hari ini. Yah, panasnya memang benar berkurang… terima kasih, kanebo!

.

.

PS : tulisan ini terinspirasi oleh celoteh burung biru “hati sih biasa saja, pikiran rame banget”, dan kenapa jadi sampai kanebo? haha saya juga ndak tahu…  😀

Perjalanan Singkat

Tuhan mungkin sedang mengajak bercanda. Ketika dengan mudahnya membolak-balikkan isi hati lalu memunculkan pikiran untuk melakukan perjalanan tanpa persiapan apa-apa.

Jangan tanya kenapa sebuah pesan pun bisa merubah sesuatu, atau bahkan membuat kita melakukan sesuatu… Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, bukankah begitu?? Setelah melewatkan malam tanpa terpejam dengan pikiran yang melompat ke sana-sini, jadi di sinilah saya, masih dengan pandangan menembus jendela kereta yang saya naiki subuh tadi.

Dua kereta dalam satu hari.

Di stasiun terakhir, hari sudah beranjak sore. Memasuki tempat makan, dan menjejalkan beberapa suap nasi untuk menghentikan aksi protes perut yang dari pagi belum terisi. Sedikit perjuangan, membuka memori untuk menghafal jalanan di sini. Tampang saya mungkin lumayan ‘suram’, sehingga kunci langsung saya dapatkan ketika mengatakan bahwa saya tidak membawa kunci kamar. Butuh adaptasi lumayan lama, sebelum akhirnya tubuh menyerah dan mata mau terpejam.

Sebuah ketukan serta salam membuyarkan mimpi seketika. Melihat jam, menunjukkan waktu sudah malam. Satu jam berlalu begitu cepat rupanya.

Ada begitu banyak kata tak terucap, tertahan. Ada begitu banyak keinginan yang juga sengaja tidak dilontarkan. Mungkin juga huruf-huruf itu bingung harus membentuk kalimat apa atau memulai dari mana. Ah, kamar ini begitu sunyi daripada biasanya. Mungkin hanya sekedar bahasa tubuh yang sekilas bisa terbaca.

Tuhan tidak lagi mengajak bercanda, saat keinginan pulang itu terlontar, dan sewaktu ada bahasa tubuh lainnya meminta untuk bertahan. Barangkali isyarat tangis kecil pun sudah cukup menjelaskan.

Enambelas jam barangkali tidak cukup…

Kembali memandang jendela, barangkali hujan di luar sana pun tahu…

imgrum_net kereta

Obrolan Di Ruang Gelap

Lampu di kamar sudah aku matikan. Sudah larut malam dan hampir pergantian hari. Tak ada suara selain helaan nafas panjang tertahan.

“Kamu kenapa?”, ucapku pada sosok tubuh di samping.

“Tidak tahu”, jawabmu singkat.

“Tidak bisa tidurkah?”, tanyaku kemudian sembari mengecek jam di pergelangan tangan.

“Iya”, lagi – lagi kamu menjawabnya singkat.

Lalu sunyi.

Kamu sendiri tetap tak membuka mata meski terjaga. Aku pun mulai mendongeng dengan sesekali mengecek jam di pergelangan tangan. Sudah berganti hari.

“Ah…”, kamu menghela lagi dan akhirnya merubah posisi menghadap ke sisiku.

Aku mencoba menghitung bilangan dengan ketukan halus. Entah berapa lama, sampai akhirnya kamu memilih menghadap tembok lagi, lalu kamar kembali sunyi. Ketukan itu masih aku lanjutkan, sebelum mata kita sama – sama lelah dan menyerah.

Tiga jam kemudian…

Aku terjaga, kamar itu tetap sunyi. Hanya ada bunyi detik jam di pergelangan tangan terdengar lebih nyaring. Mataku menyapu dinding kamar, tak ada siapapun kecuali aku 😐 .

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #8

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Apa kabarnya kamu? ketika menulis surat ini hujan datang sedang deras – derasnya. Lalu di langit yang tampak memutih semuanya, aku melihat burung terbang rendah menerjang angin dan juga hujan. Aku tidak tahu itu burung apa namanya, tapi yang aku ingat malah burung Kokokan. Burung yang pada masa tertentu melalang buana meninggalkan sarangnya, lama… dan kembali pulang pada waktunya pula. Dan selalu begitu, berulang – ulang…

Gayatri …, aku mau cerita soal mimpi. Mungkin sedikit kadaluarsa karena mimpi itu sebenarnya datang bulan lalu, pada hari keduapuluhsembilan. Mimpi singkat soal orang yang berteriak. Dia yang barangkali namanya tak bisa disebutkan disini, cuma berteriak lantang “Gayatri akan menghubungi kamu secepatnya”. Kamu pun memberiku pesan singkat, hanya tiga huruf : “cek”. 

olipe bw

Ah, tiga huruf ataupun berapa sama saja. Terima kasih sudah menghubungiku lewat mimpi, lalu obrolan, dan pertemuan yang seperti mimpi. Lupa lagi, itu memang sekedar mimpi  🙂

Mungkin cuma Tuhan yang tahu, kenapa ada banyak rangkaian yang saling terhubung dan menghubungkan satu sama lain. Tuhan menciptakan untuk sesuatu hal tentunya.

Gayatri, dimana pun kamu berada sekarang…

Jaga sehatmu sebelum sakitmu, semoga Tuhan selalu memelukmu. Tak perlu khawatir, aku akan menjaga si merah tetap memerah dan si biru makin membiru. 

Kopi Dan Coklat, Aku Dan Kamu?

kopi dan coklat

Ada kopi dan coklat panas di meja,

kemudian ada aku dan kamu di kursi,

tapi pernahkah mencobanya untuk disatukan?

Aku sendiri pernah mencoba menyatukan keduanya, iya antara kopi dan coklat. Sewaktu masih semangat belajar mencari kesibukan dengan ilmu. Namanya Kopi Klotok. Angkringan kopi di alun-alun mini Ungaran. Rasanya terlalu pekat, baik kopinya ataupun coklatnya. Bagi yang belum pernah mencobanya, mereka akan mengatakan minuman itu terlalu bikin ‘eneg’.

Pun demikian, pada masa-masa itu aku berkali-kali kesana. Sambil memikirkan pada diri sendiri, lalu akhirnya terpojokkan. Kopi Klotok memang terlalu kuat, seperti dua keyakinan. Bukan tidak bisa disatukan atau tidak bisa berdampingan, namun terlalu banyak ‘tetapi’…

Jadi kalau pada saat itu aku membiarkan kopi dan coklat tidak perlu dicampur-campurkan lagi. Karena pada intinya, aku lebih suka menikmati kopi yang apa adanya. Dan barangkali kamu juga lebih suka menyukai coklat yang apa adanya. Semestinya tak perlu bersinggungan soal rasa lagi. Tapi biarkan keduanya menempatkan diri sebagaimana mestinya, seperti kopi dan coklat di meja, seperti aku dan kamu duduk di kursi masing-masing saling berhadapan.

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #7

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Aroma lembaran kertas lama yang berjejer rapi di rak tercium, dan aku nyaris bersin olehnya. Aku beralih ke deretan buku baru, dan mengambil dua diantara yang ada disana. Lalu aku teringat buku yang sempat belum terselesaikan (dulu), yang sempat aku sembunyikan di rak paling atas. Berharap petugas tak menemukannya, dan memudahkan aku untuk membacanya kembali. Tahukah kau Gayatri, semuanya berubah… aku tak bisa menemukan buku yang aku sembunyikan dulu.

Rak buku itu berpindah ke lantai dua. Berubah menjadi arsip koran dan bacaan dengan huruf Braille, di seberang rak itu deretan meja baca. Sudah pasti aku memilih yang dekat dengan jendela, bukan karena pemandangan tapi karena lantai dua AC tidak pernah dinyalakan 😦 .

buku aku

Dua buku yang aku pinjam belum tersentuh orang lain, baru menyelesaikan satu halaman yang harus aku baca dengan perjuangan. Aku membaca, dan aku teringat…. kamu Gayatri. Lebih banyak melamun daripada membaca 😀 . Lebih banyak memandang jendela, namun tak melihat apa – apa. Yang jelas cuaca panas meski langit mendung.

Gayatri… dimanapun kamu berada, jaga diri kamu baik – baik. Kalimat terbaik aku simpan dalam do’a saja 🙂  . Ada angin, sedikit berharap ada kabar.

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #6

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Akhir-akhir ini banyak sekali tangisan dan ratapan terdengar. Hujan nampaknya tidak menjadi sahabat bagi kebanyakan orang di tempat itu. Meski itu sesuatu yang sebenarnya kita suka. Hingar bingar orang entah itu relawan atau ‘wisatawan’ saling berlarian diantara hujan.

Tanah basah sisa hujan sepertinya meninggalkan jejak kamu di sini. Lalu kemudian ada harapan, bahwa ada banyak tangan dan kaki yang kelak membantu mereka, termasuk kamu – entah dengan cara apa. Dan sepertinya, bagianku adalah turun ke jalanan, ke pasar, lalu ke ruang penampungan. Di sana tidak ada warna kulit, itu juga yang aku suka.

Aku kehilangan kata. Tapi tidak dengan rasa bahagia 🙂 Kita selalu percaya bukan, bahwa Tuhan selalu bekerja dengan cara yang unik. Seperti membaca buku – meski belum juga terselesaikan- . Itu (salah satu) nikmat (bahagia) yang sederhana.

Alamat tak pernah salah. Karena ia tahu rumah mana yang harus diketuk. Ini mungkin salah satu cara atas ketidaksabaranku. Seperti biasanya…

Dimanapun kamu, semoga Tuhan selalu memelukmu.