14

Di luar gerimis…
Alarm dari handphone memaksaku terjaga. Sudah berminggu-minggu sejak kesunyian datang, tidak juga ada petunjuk selain jeda yang makin menganga serta kegundahan yang menumpuk. Berulang kali menyusun keberanian lalu teringat kata-katanya yang serupa peringatan.

Di luar masih gerimis…
Pertanyaan ‘Madre’ yang selalu sama, dan jawabanku yang juga tetap berulang menjadi membosankan. Rasanya ingin memberi jawab yang sedikit keras, bahwasannya tidak perlu menunggu. Kelak, kalau memang ingin pastinya dia juga p.u.l.a.n.g.

Langit di luar memang mendung, sengaja menerobos jalanan saat gerimis. Sepanjang jalan, angka empatbelas menjadi begitu mengintimidasi di kepala. Tidak. Mencoba berbesar hati bahwa angka itu sudah tidak berlaku lagi.


Kebisingan jalanan dan ruang-ruang di mana aku singgahi hari ini membantu. Dan sesungguhnya tidak ada yang lebih baik lagi dari ; makan makanan terbaik dan memanjakan diri sekedar untuk memperbaiki suasana hati.

Betapa tidur lalu bermimpi tentangnya adalah sebuah hadiah terbaik hari ini… 🙂

Iklan

Moka & Mika

Beberapa baju yang dibawa pulang dari luar kota saat akhir tahun kemarin masih kondisi kusut karena belum sempat disetrika. Dan sampai sekarang ternyata masih menumpuk, tentu saja belum disetrika. Pandanganku tertuju sama bulu-bulu lembut warna abu-abu dan hitam. Tiba-tiba teringat Moka dan Mika…

Si bulu yang kadang suka kepo kalau pas aku duduk di kursi melihat TV sambil mainan HP. Si bulu yang suka iseng main injak sambil kejar-kejaran saat aku tidur pulas. Tapi aku pun juga suka ngisengin Moka dan Mika balik dengan manggil mereka pakai mangkok yang dipukul-pukul, biar dikira ngasih snack kesukaan mereka padahal cuman mau manggil saja 😀

Lagi kangen Moka, yang tiap bangun pagi sudah siap di depan pintu minta dielus-elus. Dan Mika, yang suka minta main bareng dan ngusel-ngusel di selimut minta ikutan tidur…

Semoga kalian sehat terus yaa…

Apa Kabarnya, Kamu?

Seharian ditemani hujan yang sesekali berhenti digantikan gerimis. Entah perdebatan macam apa yang ada di pikiran, nyatanya langit hari ini membuat saya pun ikutan resah. Barangkali keresahan yang sebenarnya tidak perlu ada. Betulkah?? Apapun langit hari ini menampakkan diri, itu adalah kehendak Semesta.

Pada waktu yang sama sebelumnya, duduk di tepi berjam-jam sambil sibuk membaca jalanan yang ramai. Riuh. Dan kamu terlewat begitu saja, satu hantaman datang seolah menyisakan rasa yang terlalu susah diungkapkan. Seperti langit yang hari itu berulang gerimis.

Kenapa menunggu kamu hanya membuat mataku berembun, langitku menangis….??

Kopi Kenangan

Flores Bajawa yang diseduh dengan metode pour over itu tetiba diantar ke meja. Bukan pesananku, melainkan pesanan Lisa. Teman ngopi yang akhirnya bisa ngopi bareng lagi setelah dua bulan lebih mencoba kerasnya hidup di Bekasi. Konon, masih enakan stay di Purwokerto. Ya iyalah… 😛

Tidak hanya satu tempat ngopi. Sebelumnya Kami menyempatkan ke cafe lain. Ngobrol tentang ini – itu yang sesekali diselingi tawa. Lagi-lagi, hari ini single origin pesenan Lisa berulang kali aku lihat, kemudian teringat. Flores Bajawa itu kopi favorit pilihan kawan ngopi yang entah sekarang ada di mana.

flores bajawa v60

Lisa menyuruhku mencoba kopi itu, dan satu tegukan itu rasanya berlalu sangat lama. Mirip adegan slow motion, pelan kopi Flores Bajawa akhirnya memaksaku mengingatnya. Kakiku berpijak di mana sedang pikiranku mengembara entah ke mana.

Menulislah saat…

coffee

Selalu saja begini…

Kalau ada banyak tulisan yang mesti dibikin. Alih-alih segera menyelesaikan, malah pilih nulis ngasal seperti sekarang ini. Mungkin sebenarnya hanya perihal bingung mana dulu yang mesti ditulis 😀

Biar masing-masing tema tidak saling berebut, maka tidak memilih semuanya. Hahaha ini sih alesan saja yaks… Tapi sebenarnya saya sedang ingin menulis, biar kepala tidak meledak.

Jadi, selain menghadap laptop, ditemani kopi, juga ngerusuh di pesan instagram. Semoga yang dirusuhi tidak baca tulisan ini 😀 karena sesungguhnya membahas remeh temeh saat suasana hati tidak jelas kadang ngeselin, dan membingungkan *lha bukannya memang saya selalu ‘mbingungi’ yah buat kebanyakan orang.

Penyaluran semacam ini jangan-jangan cuma saya saja yang ngalamin yah?

 

Terima Kasih, Kanebo!

Kebayang pun tidak, menggunakan kanebo untuk kompres. Tapi begitulah… salah satu dari kami mendadak demam. Mencari handuk kecil atau sapu tangan di setiap sudut rumah kos tidak ketemu. Lalu teringat kanebo yang ada di bagasi motor.

“Tenang, kanebonya sudah dicuci bersih kok”, ucapmu demi melihat mimik mukaku yang penuh protes.

“Ngawur, masa mau ngompres sama kanebo”, jawabku masih berusaha menolak.

“Sudahlah, ini darurat… tiduran sana…”, katamu sembari menyiapkan air hangat beserta kanebo.

Aku tidak berusaha untuk melancarkan penolakan lagi, merebahkan tubuh, kemudian menerima berkali-kali kanebo hangat di kepala. Hati mungkin biasa saja, tetapi di kepala pikiran ramai oleh celoteh-celoteh yang tak bisa diucapkan.

“Wah, lumayan setidaknya demamnya turun 0,01 haha… tapi yang penting mukanya sudah tidak nampak seperti kepiting rebus kok”… 😀

Kami berdua tertawa terbahak-bahak, demi kekonyolan hari ini. Yah, panasnya memang benar berkurang… terima kasih, kanebo!

.

.

PS : tulisan ini terinspirasi oleh celoteh burung biru “hati sih biasa saja, pikiran rame banget”, dan kenapa jadi sampai kanebo? haha saya juga ndak tahu…  😀

Perjalanan Singkat

Tuhan mungkin sedang mengajak bercanda. Ketika dengan mudahnya membolak-balikkan isi hati lalu memunculkan pikiran untuk melakukan perjalanan tanpa persiapan apa-apa.

Jangan tanya kenapa sebuah pesan pun bisa merubah sesuatu, atau bahkan membuat kita melakukan sesuatu… Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, bukankah begitu?? Setelah melewatkan malam tanpa terpejam dengan pikiran yang melompat ke sana-sini, jadi di sinilah saya, masih dengan pandangan menembus jendela kereta yang saya naiki subuh tadi.

Dua kereta dalam satu hari.

Di stasiun terakhir, hari sudah beranjak sore. Memasuki tempat makan, dan menjejalkan beberapa suap nasi untuk menghentikan aksi protes perut yang dari pagi belum terisi. Sedikit perjuangan, membuka memori untuk menghafal jalanan di sini. Tampang saya mungkin lumayan ‘suram’, sehingga kunci langsung saya dapatkan ketika mengatakan bahwa saya tidak membawa kunci kamar. Butuh adaptasi lumayan lama, sebelum akhirnya tubuh menyerah dan mata mau terpejam.

Sebuah ketukan serta salam membuyarkan mimpi seketika. Melihat jam, menunjukkan waktu sudah malam. Satu jam berlalu begitu cepat rupanya.

Ada begitu banyak kata tak terucap, tertahan. Ada begitu banyak keinginan yang juga sengaja tidak dilontarkan. Mungkin juga huruf-huruf itu bingung harus membentuk kalimat apa atau memulai dari mana. Ah, kamar ini begitu sunyi daripada biasanya. Mungkin hanya sekedar bahasa tubuh yang sekilas bisa terbaca.

Tuhan tidak lagi mengajak bercanda, saat keinginan pulang itu terlontar, dan sewaktu ada bahasa tubuh lainnya meminta untuk bertahan. Barangkali isyarat tangis kecil pun sudah cukup menjelaskan.

Enambelas jam barangkali tidak cukup…

Kembali memandang jendela, barangkali hujan di luar sana pun tahu…

imgrum_net kereta