Kopi Kenangan

Flores Bajawa yang diseduh dengan metode pour over itu tetiba diantar ke meja. Bukan pesananku, melainkan pesanan Lisa. Teman ngopi yang akhirnya bisa ngopi bareng lagi setelah dua bulan lebih mencoba kerasnya hidup di Bekasi. Konon, masih enakan stay di Purwokerto. Ya iyalah… 😛

Tidak hanya satu tempat ngopi. Sebelumnya Kami menyempatkan ke cafe lain. Ngobrol tentang ini – itu yang sesekali diselingi tawa. Lagi-lagi, hari ini single origin pesenan Lisa berulang kali aku lihat, kemudian teringat. Flores Bajawa itu kopi favorit pilihan kawan ngopi yang entah sekarang ada di mana.

flores bajawa v60

Lisa menyuruhku mencoba kopi itu, dan satu tegukan itu rasanya berlalu sangat lama. Mirip adegan slow motion, pelan kopi Flores Bajawa akhirnya memaksaku mengingatnya. Kakiku berpijak di mana sedang pikiranku mengembara entah ke mana.

Iklan

Menulislah saat…

coffee

Selalu saja begini…

Kalau ada banyak tulisan yang mesti dibikin. Alih-alih segera menyelesaikan, malah pilih nulis ngasal seperti sekarang ini. Mungkin sebenarnya hanya perihal bingung mana dulu yang mesti ditulis 😀

Biar masing-masing tema tidak saling berebut, maka tidak memilih semuanya. Hahaha ini sih alesan saja yaks… Tapi sebenarnya saya sedang ingin menulis, biar kepala tidak meledak.

Jadi, selain menghadap laptop, ditemani kopi, juga ngerusuh di pesan instagram. Semoga yang dirusuhi tidak baca tulisan ini 😀 karena sesungguhnya membahas remeh temeh saat suasana hati tidak jelas kadang ngeselin, dan membingungkan *lha bukannya memang saya selalu ‘mbingungi’ yah buat kebanyakan orang.

Penyaluran semacam ini jangan-jangan cuma saya saja yang ngalamin yah?

 

Terima Kasih, Kanebo!

Kebayang pun tidak, menggunakan kanebo untuk kompres. Tapi begitulah… salah satu dari kami mendadak demam. Mencari handuk kecil atau sapu tangan di setiap sudut rumah kos tidak ketemu. Lalu teringat kanebo yang ada di bagasi motor.

“Tenang, kanebonya sudah dicuci bersih kok”, ucapmu demi melihat mimik mukaku yang penuh protes.

“Ngawur, masa mau ngompres sama kanebo”, jawabku masih berusaha menolak.

“Sudahlah, ini darurat… tiduran sana…”, katamu sembari menyiapkan air hangat beserta kanebo.

Aku tidak berusaha untuk melancarkan penolakan lagi, merebahkan tubuh, kemudian menerima berkali-kali kanebo hangat di kepala. Hati mungkin biasa saja, tetapi di kepala pikiran ramai oleh celoteh-celoteh yang tak bisa diucapkan.

“Wah, lumayan setidaknya demamnya turun 0,01 haha… tapi yang penting mukanya sudah tidak nampak seperti kepiting rebus kok”… 😀

Kami berdua tertawa terbahak-bahak, demi kekonyolan hari ini. Yah, panasnya memang benar berkurang… terima kasih, kanebo!

.

.

PS : tulisan ini terinspirasi oleh celoteh burung biru “hati sih biasa saja, pikiran rame banget”, dan kenapa jadi sampai kanebo? haha saya juga ndak tahu…  😀

Perjalanan Singkat

Tuhan mungkin sedang mengajak bercanda. Ketika dengan mudahnya membolak-balikkan isi hati lalu memunculkan pikiran untuk melakukan perjalanan tanpa persiapan apa-apa.

Jangan tanya kenapa sebuah pesan pun bisa merubah sesuatu, atau bahkan membuat kita melakukan sesuatu… Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, bukankah begitu?? Setelah melewatkan malam tanpa terpejam dengan pikiran yang melompat ke sana-sini, jadi di sinilah saya, masih dengan pandangan menembus jendela kereta yang saya naiki subuh tadi.

Dua kereta dalam satu hari.

Di stasiun terakhir, hari sudah beranjak sore. Memasuki tempat makan, dan menjejalkan beberapa suap nasi untuk menghentikan aksi protes perut yang dari pagi belum terisi. Sedikit perjuangan, membuka memori untuk menghafal jalanan di sini. Tampang saya mungkin lumayan ‘suram’, sehingga kunci langsung saya dapatkan ketika mengatakan bahwa saya tidak membawa kunci kamar. Butuh adaptasi lumayan lama, sebelum akhirnya tubuh menyerah dan mata mau terpejam.

Sebuah ketukan serta salam membuyarkan mimpi seketika. Melihat jam, menunjukkan waktu sudah malam. Satu jam berlalu begitu cepat rupanya.

Ada begitu banyak kata tak terucap, tertahan. Ada begitu banyak keinginan yang juga sengaja tidak dilontarkan. Mungkin juga huruf-huruf itu bingung harus membentuk kalimat apa atau memulai dari mana. Ah, kamar ini begitu sunyi daripada biasanya. Mungkin hanya sekedar bahasa tubuh yang sekilas bisa terbaca.

Tuhan tidak lagi mengajak bercanda, saat keinginan pulang itu terlontar, dan sewaktu ada bahasa tubuh lainnya meminta untuk bertahan. Barangkali isyarat tangis kecil pun sudah cukup menjelaskan.

Enambelas jam barangkali tidak cukup…

Kembali memandang jendela, barangkali hujan di luar sana pun tahu…

imgrum_net kereta

Obrolan Di Ruang Gelap

Lampu di kamar sudah aku matikan. Sudah larut malam dan hampir pergantian hari. Tak ada suara selain helaan nafas panjang tertahan.

“Kamu kenapa?”, ucapku pada sosok tubuh di samping.

“Tidak tahu”, jawabmu singkat.

“Tidak bisa tidurkah?”, tanyaku kemudian sembari mengecek jam di pergelangan tangan.

“Iya”, lagi – lagi kamu menjawabnya singkat.

Lalu sunyi.

Kamu sendiri tetap tak membuka mata meski terjaga. Aku pun mulai mendongeng dengan sesekali mengecek jam di pergelangan tangan. Sudah berganti hari.

“Ah…”, kamu menghela lagi dan akhirnya merubah posisi menghadap ke sisiku.

Aku mencoba menghitung bilangan dengan ketukan halus. Entah berapa lama, sampai akhirnya kamu memilih menghadap tembok lagi, lalu kamar kembali sunyi. Ketukan itu masih aku lanjutkan, sebelum mata kita sama – sama lelah dan menyerah.

Tiga jam kemudian…

Aku terjaga, kamar itu tetap sunyi. Hanya ada bunyi detik jam di pergelangan tangan terdengar lebih nyaring. Mataku menyapu dinding kamar, tak ada siapapun kecuali aku 😐 .

Surat Terbuka Untuk Gayatri Rajapatni #8

Dear Gayatri Rajapatni,

.

Apa kabarnya kamu? ketika menulis surat ini hujan datang sedang deras – derasnya. Lalu di langit yang tampak memutih semuanya, aku melihat burung terbang rendah menerjang angin dan juga hujan. Aku tidak tahu itu burung apa namanya, tapi yang aku ingat malah burung Kokokan. Burung yang pada masa tertentu melalang buana meninggalkan sarangnya, lama… dan kembali pulang pada waktunya pula. Dan selalu begitu, berulang – ulang…

Gayatri …, aku mau cerita soal mimpi. Mungkin sedikit kadaluarsa karena mimpi itu sebenarnya datang bulan lalu, pada hari keduapuluhsembilan. Mimpi singkat soal orang yang berteriak. Dia yang barangkali namanya tak bisa disebutkan disini, cuma berteriak lantang “Gayatri akan menghubungi kamu secepatnya”. Kamu pun memberiku pesan singkat, hanya tiga huruf : “cek”. 

olipe bw

Ah, tiga huruf ataupun berapa sama saja. Terima kasih sudah menghubungiku lewat mimpi, lalu obrolan, dan pertemuan yang seperti mimpi. Lupa lagi, itu memang sekedar mimpi  🙂

Mungkin cuma Tuhan yang tahu, kenapa ada banyak rangkaian yang saling terhubung dan menghubungkan satu sama lain. Tuhan menciptakan untuk sesuatu hal tentunya.

Gayatri, dimana pun kamu berada sekarang…

Jaga sehatmu sebelum sakitmu, semoga Tuhan selalu memelukmu. Tak perlu khawatir, aku akan menjaga si merah tetap memerah dan si biru makin membiru. 

Kopi Dan Coklat, Aku Dan Kamu?

kopi dan coklat

Ada kopi dan coklat panas di meja,

kemudian ada aku dan kamu di kursi,

tapi pernahkah mencobanya untuk disatukan?

Aku sendiri pernah mencoba menyatukan keduanya, iya antara kopi dan coklat. Sewaktu masih semangat belajar mencari kesibukan dengan ilmu. Namanya Kopi Klotok. Angkringan kopi di alun-alun mini Ungaran. Rasanya terlalu pekat, baik kopinya ataupun coklatnya. Bagi yang belum pernah mencobanya, mereka akan mengatakan minuman itu terlalu bikin ‘eneg’.

Pun demikian, pada masa-masa itu aku berkali-kali kesana. Sambil memikirkan pada diri sendiri, lalu akhirnya terpojokkan. Kopi Klotok memang terlalu kuat, seperti dua keyakinan. Bukan tidak bisa disatukan atau tidak bisa berdampingan, namun terlalu banyak ‘tetapi’…

Jadi kalau pada saat itu aku membiarkan kopi dan coklat tidak perlu dicampur-campurkan lagi. Karena pada intinya, aku lebih suka menikmati kopi yang apa adanya. Dan barangkali kamu juga lebih suka menyukai coklat yang apa adanya. Semestinya tak perlu bersinggungan soal rasa lagi. Tapi biarkan keduanya menempatkan diri sebagaimana mestinya, seperti kopi dan coklat di meja, seperti aku dan kamu duduk di kursi masing-masing saling berhadapan.