Hujan Dan Kopi Tubruk

hujan-dan-kopi-tubruk

Tak ada yang lebih menghangatkan dari segelas kopi Dampit tubruk, menyesapnya di antara gigilan tubuh yang basah. 

Langit sebenarnya sudah mengirimkan pertanda, hujan hendak singgah. Tapi demi rupa-rupa yang tidak tahu namanya ini, tetap saja naik dengan mengajak dua lainnya. Tubuh kecil di balik mantel sudah membasah pada seperempat perjalanan. Jangan tanya soal jarak pandang yang di mana-mana hanya terlihat tetesan hujan.

awan-mendung

Barangkali atas nama kemanusiaanlah akhirnya memilih berhenti. Tak tega rasanya memaksakan kepada mereka berdua untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting-penting amat, bahkan tanpa ada alasan (karena penasaran misalnya).

Warung kecil tempat kami berteduh pun jadi saksi kalau saya melempar HP ke meja karena kilatan petir. Aturan mainnya : boleh hujan, asal jangan berpetir saja :D… Hujannya makin awet, satu-satunya penghangat barangkali tawa kami bertiga di antara obrolan sana-sini. Ngobrol kopi hingga sapi….

Langit berbaik hati, hingga kami berdua bisa melanjutkan perjalanan. Sedangkan satu di antara kami memilih turun. Tahu tidak? bepergian dengan baju basah dan mantel yang tidak berfungsi baik di daerah pegunungan itu…. sangat tidak disarankan 😀 Lupa rasanya bagaimana menghilangkan gemelutuk gigi dan gigilan di badan.

Jadi, sebenarnya hendak melakukan apa di tempat tujuan? Sungguh saya tidak tahu 😦

Hujan lalu berhenti, berkali-kali, baju basah sampai mengering. Saya hanya ingin sampai kedai kopi di kota sebelum hari menggelap. Untuk ukuran baru pertama pergi bersama-sama, saya pasrah saja sama teman baru yang ada di depan. Padahal saya tipikal tidak mudah percaya sama kemampuan orang lain membawa motor dengan baik dan benar hehe… Jangan heran entah harus berapa kali bertanya, sekedar untuk dapat kepastian dan menghilangkan rasa cemas 😀 *maaf ya Na…

Adalah bahagia bisa sampai di kedai kopi lalu pada meja tersaji segelas kopi Dampit tubruk penghilang dingin, menikmatinya dengan baju basah hingga mengering 😀

.

.

PS : Terima kasih Ina, untuk perjalanan hujan dan mendengarkan igauan saat cemas heu…

Iklan

One thought on “Hujan Dan Kopi Tubruk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s