Ragusa Es Krim Italia, Antara Penasaran Dan Kekecewaan

Ragusa Es Krim Italia

“Belum lengkap ke Jakarta kalau belum mencoba Ragusa es krim Italia”, seloroh seorang teman. Masa iya sih? hehe… Demi rasa penasaran saya pun mengiyakan ajakan teman – teman untuk mencoba es krim tradisional tersebut. Sempat khawatir ada campuran susu dan santan, karena alergi santan *ternyata bebas santan yeeaayy :D. Jika di Purwokerto ada Es krim Baltik yang ada sejak jaman Belanda (sayangnya ada santannya), maka di Jakarta ada Ragusa es krim Italia yang berdiri sejak tahun 1932.

Es Krim Itali - Ragusa

Berada di Jalan Veteran I nomor 10, Jakarta Pusat (berdekatan dengan Masjid Istiqlal). Siang itu tempatnya penuh, kebanyakan pembeli malah menikmatinya sambil berdiri. Tapi cukup beruntung karena ada pengunjung yang sudah selesai dan kami berlima bisa duduk.

Begitu datang langsung antri memesan es krim, dan pelayanannya lumayan mengecewakan karena ibu yang di bagian kasir / pemesanan sempat menghardik pembeli (hari itu entah berapa pembeli yang memesan menu dan kena semprot hehe). Entah karena merasa sudah terkenal dan melegenda jadi bersikap tidak peduli, mungkin berfikirnya ; pembelilah yang menginginkan es krim buatan mereka (??).

Ragusa - Es Krim Itali

Beberapa es krim kami coba : spaghetti ice cream, chocolate, mocca, dan special mix. Berhubung dikira tidak dimakan ditempat, penyajian es krim terlanjur pakai styrofoam yang beralaskan plastik (O_O) *kelasnya Ragusa yang sudah tersohor lho… Harga es krim berkisar IDR 15.000 – 35.000. Sedikit tidak sepadan dengan penyajian atau kemasan.

Ragusa menu

Es krim pesanan kami datang, dan si ibu yang tadi kurang sopan tersebut datang ke meja sebelah kami untuk…. marah – marah lagi hehe… Soal kursi yang tidak dirapikan pengunjung begitu selesai makan es krim, dan gegara ada dua pengunjung yang duduk dengan meja yang banyak kursinya. Saya sendiri dan teman – teman merasa kurang nyaman 😦 *setelah googling ternyata banyak juga pengunjung yang merasakan kekecewaan…

Ragusa - menu

Soal rasa? spaghetti ice cream pada dasarnya es krim vanilla dengan rasa yang lembut, ringan, dan enak. Es krim coklatnya lebih enak dibandingkan dengan rasa mocca, sedangkan special mix itu gabungan beberapa rasa. Rasanya memang enak, tapi tidak ada yang spesial sih menurut saya. Bagi yang menginginkan cemilan berat, di teras banyak penjual seperti asinan bogor, sate ayam, gado – gado, nasi lontong, dan otak – otak.

Kenapa bisa ramai pembeli ?? bisa jadi mereka datang sama seperti kami yang penasaran untuk mencoba 😀 . Saya juga penasaran, dari sekian banyak penikmat es krim Italia tersebut seberapa banyak yang memang menjadi langganan tetap ya. Tidak ada salahnya jika ingin menikmati es krim disana pembeli menyiapkan mental, dan bersabar 😀 😀 😀

Iklan

13 thoughts on “Ragusa Es Krim Italia, Antara Penasaran Dan Kekecewaan

  1. Saya pernah sekali ke ragusa ice cream atas ajakan teman, tapi itu pertama dan tak punya keinginan lagi tuh kembali, karena rasanya tidak setenar namanya

  2. Saya yg udah tinggal 20 tahun di jakarta juga baru sekali ke ragusa dan udah cukup sekali itu aja karena menurut saya es krimnya biasa saja, tidak ada yg spesial

  3. Smlm aq bru dr sana krn penasaran diajakin tmn. Begitu sampe sana penuh sekali dan sistem mereka siapa cpt dia dpt tempat dluan. Kesel sih aq yg dtg duluan malah org yg dtg belakangan yg dpt tempat dluan. Kira2 stgh jam berdiri bru dpt duduk. Dan kesan pertama dr pelayanannya adalah horor. Orgnya galak2, customer dibentak2 hadeuhhh… Rasa eskrimnya jg biasa aja ga spesial gmn gitu. Menang nama aja jd pada penasaran hehe. Pas plg ada ownernya sptnya dan malah ownernya yg ramah, senyum blg makasih.

  4. Hahaha ya ampun.. Aku abis nulis hal yang sama, terus googling, nemu blog ini. Sama ya pengalamannya. Mau nyantai sambil ngemil es krim malah kena omel T.T

  5. Pengalaman untuk pelayanan yang tidak ramah juga saya alami dalam 3 (tiga) kali kunjungan ke es krim ragusa di jl veteran baru-baru ini untuk mengantar ayah yang terkesan dengan kenangan masa lalu dengan almarhum ibunda. Rasa kecewa karena penerima pesanan yang terkesan kurang sabar hingga sang kasir yang marah karena kami meminta tolong untuk dibawakan pesanan kami ke resto makanan di sebelahnya. Sayang sekali es krim yang telah melegenda ini masih dilayani dengan cara demikian. Lama kelamaan pengunjung akan memilih es krim lain yang lebih kekinian dengan pelayanan yang lebih ramah dan harga yang relatif sama.

  6. soal ragusa. beberapa kali makan disitu, duduk minimal 30 menitan dan suasana ramai. gak pernah sekalipun saya melihat orang diomelin. yang melayani pun selalu sigap dan sopan.
    yang kesitu pastilah bervariasi kelakuannya. kalaupun ada yang kena omel, saya melihat itu sebagai sikap tegas supaya orang tidak seenaknya. asal ngomelnya bukan mengumpat ya. itu tempat makan yang ramai, perlu juga dihormati karena ada pengunjung lain. bukan berarti merasa tamu yang bayar lalu sesuka hati nggrataki. belum lagi kemungkinan sendok atau mangkok hilang karena dicolong jadi memakai stereofoam, atau datang berdelapan yang makan cuma dua orang, sisanya numpang duduk. hal-hal seperti ini sangat merugikan dan juga mengganggu orang lain.
    saya tidak keberatan anda menulis kritik, tapi kelihatannya isi tulisan anda kurang kritis jadi menggiring opini, jadi saya memutuskan untuk respon keras, soal santan aja ada pakai kalimat “sayangnya ada santan”. itu bukan kekurangan, tapi itu resep otentik dan turun temurun.

    • Saya generasi 1980 an jadi mungkin berbeda pengalaman dengan mereka yang berasala dari generasi sebelumnya, saya ke sini karena mendengar berbagai cerita “wah” tentang ice cream ini shg ekspektasi saya begitu tinggi. Tetapi ketika telah mencobanya maka kesan “woow’ sekitika berubah menjadi “meeeh”. Spontan saya bilang …begini saja toh?
      Mungkin kita harus menarik garis garis batas tegas antara nostalgia (sentimental reason) dengan culinary honest review. Saya rasa mengapa saya memberikan review negative karena cara pembuatan ice cream nya masih mengikuti metoda jaman dulu yang sangat kuno, sementara lidah saya sudah terbina dengan ice cream jaman sekarang yang creamy.
      Lidah saya lebih kena dengan rasa rum raisin, pistachio, cafe cappucino, dll sehingga ketika hanya berasa (misalkan) nougat yang merupakan kacang tanah maka hilang ekspetasi “wah” tersebut. Belum lagi olahan Ice Cream Ragusa yang hanya mengandalkan susu murni menyebabkan ketika Ice Cream nya agak meleleh maka yang terasa tinggallah rasa susu tersebut. Muncul permasalahan baru bahwa susu murni lokal tidak sebaik susu Australia atau New Zealand yang sekarang mudah diperoleh di Supermarket (Anchor, Meadow life, etc). Hal yang berbeda mungkin di tahun 1970 an saat susu murni adalah barang mewah karena orang lebih sering meminum susu bubuk sehingga ketika merasakan creamy nya susu murni lokal terasa luar biasa.
      Akhir kata saya cuma mau mengatakan bahwa untuk alasan nostalgia mungkin Ragusa dapat dikunjungi, tetapi jika dimaksud untuk culinary hunting, ya harus siap-siap kecewa. Restauran ini saya rasa hanya akan bertahan 5-10 tahun lagi, ketika pemilik aslinya sudah pensiun. Nilai tanah di Veteran jauh lebih tinggi dari pemasukan restauran itu jika kita mau jujur (sederhananya, jual tempat itu lalu depositokan uangnya).
      Oya satu lagi yang saya tidak pernah lupa dan menjadi penambah bad review ini adalah ibu di kasir itu sangat tidak ramah (judes)

  7. wkwkwkwk saya pertama kali datang ke es krim ragusa ini juga karena penasaran. dan merasa tidak dilayani dengan baik baik oleh ibu-ibu kasir maupun bapak-bapak yang entah tugasnya apa. tadinya saya pikir semacam waitress tapi ogah-ogahan kalo dipanggil sama pembeli. kami mau ngasih kertas pesanan aja bapaknya ga mau ambil. kami disuruh ke meja sebelah kasir. aslilah gondok banget.
    kedua kali datang karena nemenin atasan yang penasaran wkwkwkk dan masih saja dikecewakan.
    sekelas dan setenar Ragusa masak penyajiannya pake stereofoam? wkwkwk

    jujur saya akui rasa es krimnya enak dan lain dari yang lain. tapi pelayanannya sangat buruk. bikin males orang buat balik lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s