Pendakian Gunung Pangonan (Lembah Semurup), Sisi Lain Dieng…

Sabtu, 19 April 2014.

Hari kedua. Setelah dari Telaga Dringo kami sarapan di warungnya Om Alif (pemilik http://www.pesonadieng.com) dan membeli beberapa makanan juga minuman. Sambil menunggu  Agus Pramono teman yang asli dari Dieng, rencananya kami akan menumpang mandi dan mengisi baterai kamera juga peralatan lainnya. Berhubung Pram tahu rutenya, kami pun meminta Pram untuk ikut ke Gunung Pangonan, Dieng.

Gunung Pangonan (Lembah Semurup) memang kalah pamor dengan Bukit Sikunir dan Gunung Prau. Justru itu… kami lebih tertarik, karena yang lainnya sudah penuh dengan orang yang berbondong-bondong kesana, apalagi musim liburan atau akhir pekan. Setelah selesai persiapan dan packing ulang kami memulai perjalanan (jalan dalam arti sesungguhnya hehe :D).

Lembah Semurup – Gunung Pangonan berada di ketinggian 2300 mdpl, berada di dua kabupaten : Wonosobo dan Banjarnegara. Tidak ada sinyal HP, jadi untuk yang mau kesana harap bersiap-siap menjadi orang terisolir 😀 . Lokasi ini oleh dinas setempat baru akan dikembangkan untuk menjadi daerah wisata yang mengunggulkan padang savana dan pohon cemeti. Konon dari lembah inilah pertama kali tanaman Purwaceng yang berkhasiat itu ditemukan 😀

Beruntung ada Pram yang tahu seluk-beluk jalan tembus, lewat lahan samping jalan pintu masuk menuju Candi Arjuna. Dan kami pun masuk gratis (jangan ditiru lho), kalau saya sendiri sudah beberapa kali ke Candi Arjuna, Desi Amelia sudah pernah satu kali , dan MaRia Ulfah belum sama sekali. Jadinya kami berhenti sebentar hanya untuk foto-foto. Melewati kawasan candi lalu naik ke Museum Kaliasa Dieng yang berada di seberang Candi Gatotkaca. 

Setelah melewati ladang warga nanti ketemu dengan perkebunan yang penuh dengan semak belukar mengintari Kawah Sikidang. Trekkingnya juga tidak terlalu berat, banyak jalan landai. Di tengah perjalanan kami diguyur hujan hingga sampai ke Lembah Semurup. Kawasan lembahnya (kawasan pabunan) terdapat dua telaga ; yang satu kering sudah tak berair, dan yang satunya airnya sudah susut. Menurut cerita kenapa air telaganya tidak ada, hal ini dikarenakan mengalir ke Telaga Merdada.

Berhubung hujan dan tidak memungkinkan mendirikan dome di lembahnya (biasanya di depan telaga yang masih ada sedikit air), kami terpaksa melanjutkan menuju tebing dekat kawasan hutan. Kebetulan ada satu pohon yang bisa melindungi kami dari angin. Ada kejadian lucu, karena ingin cepat sampai ke tujuan, kami memotong jalan yang rupanya baru kami sadari kalau itu adalah telaga yang ‘mengering’. Semak ilalang yang tinggi membuat kami susah sewaktu ‘membikin jalan’.

membuat jalan baru - dulunya ini telaga lho

membuat jalan baru – dulunya ini telaga lho

naik pohon itu biasa, naik ilalang di tebing itu baru keren hehe...

naik pohon itu biasa, naik ilalang di tebing itu baru keren hehe…

Begitu sampai dan hujan reda kami buru-buru memasang dome. Langit di Dieng memang tak mudah ditebak. Sebentar gerimis, sebentar hujan, lalu terang dan cerah. Sore itu germisnya lumayan awet, memaksa kami untuk berlama-lama di dome. Menginjak malam cuaca langsung cerah, bintang dan bulan terlihat luar biasa di Lembah Semurup. Dan seperti di Telaga Dringo kemarin, cahaya bintang dan bulan sudah cukup membuat terang dome :p

lokasi camping kita niiih :)

lokasi camping kita niiih 🙂

dari sini lembah dan pemandangannya terlihat keren...

dari sini lembah dan pemandangannya terlihat keren…

Seperti makan siang, makan malam kami istimewa karena tadi sengaja beli soto dan nasi *biar tidak terlalu ribet. Di lembah sini ternyata tidak ada bunyi jangkrik, hanya ada bunyi burung dan angin yang tertiup di sela-sela pepohonan. Babi hutan yang katanya masih banyak pun tidak kami temui… Malam itu jadilah Lembah Semurup, Gunung Pangonan milik kami berempat \(^_^)/.

Tidak ada pemandangan sunrise, tapi pemandangan kabut pagi dan embunnya di hamparan lembah benar-benar menakjubkan. Jika mau melihat sunrise, kita harus naik melewati hutan ke puncak Gunung Pangonan.

sunrise di lembah semurup dieng - gn pangonan

sunrise di lembah semurup dieng – gn pangonan

embun...

embun…

Sepanjang pagi itu cuaca benar-benar bersahabat. Dataran tinggi Dieng memang kaya akan pemandangan yang luar biasa, dimana masing-masing tempat memiliki keunikan tersendiri. Demikian juga di Lembah Semurup – Gunung Pangonan Dieng ini.

embun pagi - lembah semurup dieng

embun pagi …

lembah semurup dieng - gunung pangonan

lembah semurup dieng – gunung pangonan

lembah semurup dieng - gunung pangonan

lembah semurup dieng – gunung pangonan

Trekking pulang menyusur ke Kawah Sikidang, persis di atas kawahnya yang besar itu 😀 . Kami berempat jadi tontonan karena melewati ‘pintu masuk’ yang mungkin terlihat nyleneh, dari pegunungan. Ini lokasi wisata kedua yang kami masuki gratis *jangan ditiru.

Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang DIeng

Kawah Sikidang DIeng

Masih dengan jalan kaki keluar dari komplek kawah menuju ke Telaga Warna, yang menjadi lokasi terakhir tujuan kami. Tentunya lewat jalan belakang *jangan ditiru ya. Bahkan kami sempat dikomentari sama rombongan yang memakai motor, entah komunitas mana. “Lho kalian jalan kaki kok sudah sampai di dalam Telaga Warna”, kata salah satu dari mereka. Dan sangat tidak mungkin kami jawab : ya kami terbang haha…

telaga warna....

telaga warna….

akhirnya...perjalanan selesai juga :D

akhirnya…perjalanan selesai juga 😀

rehat dulu sebelum pulang ke daerah masing-masing

rehat dulu sebelum pulang ke daerah masing-masing

Dari Telaga Warna kami pun kembali jalan kaki menuju Dieng kota, berpisah dengan Pram menuju Alun-Alun Wonosobo untuk janjian dengan Kaka (mengembalikan kompor dan matras). Ongkos bus dari Dieng ke alun-alun IDR 10.000 per orang. Lalu melanjutkan ke terminal Wonosobo (naik angkutan kota warna kuning, bayar IDR 3.000 per orang), dan pulang ke daerah masing-masing. Amel ke Jakarta, sedangkan saya dan Emyhu ke Purwokerto.

Iklan

24 thoughts on “Pendakian Gunung Pangonan (Lembah Semurup), Sisi Lain Dieng…

    • Iya memang keren…kalau ke Dringo musim terbaik ya sekarang. Kalau musim kemarau telaganya nyusut setahuku, soale kesedot buat perairan ladang petani…

      Biasanya kalau mau camp pasti aku woro-woro di twitter kok 🙂 *Banjarnegaranya mana mmgnya?

  1. kereen mba olipe..lembah pangonan nya. aku tau nya cuma prau sm sikunir dsktr. klo bulan2 mei gini bagus ga yaa.. skalian niat ke puncak sikudi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s